Banyak dari kita mungkin hafal di luar kepala atau setidaknya sering mendengar wasiat agung Nabi Muhammad ﷺ untuk berpegang pada Al-Qur’an dan Sunnah. Disampaikan dalam momentum sakral Haji Wada’ (Haji Perpisahan), pesan ini terasa begitu berat dan sarat makna. Namun, pernahkah kita berhenti sejenak untuk menyelami kedalaman di balik setiap kata yang beliau pilih? Setidaknya ada lima pesan mendalam yang tersembunyi dalam struktur bahasa (balaghah) hadits tersebut, yang mungkin akan mengubah cara kita memandangnya selamanya.
1. Hidup adalah Hutan Belantara, dan Kita Butuh Peta yang Tepat
Kehidupan modern seringkali terasa seperti sebuah hutan belantara yang liar dan membingungkan. Kita disesaki oleh rimba informasi, ideologi, dan jalan hidup yang saling bersaing, masing-masing menjanjikan kebahagiaan. Dalam kondisi ini, wasiat Nabi ﷺ hadir bukan sekadar sebagai nasihat, melainkan sebagai peta utama dan kompas yang tak ternilai. Untuk selamat dan sampai ke tujuan, kita mutlak memerlukan “peta” yang akurat, yaitu Al-Qur’an dan As-Sunnah, serta “pemandu” yang ahli, yaitu Nabi Muhammad ﷺ dan para ulama pewarisnya.
Banyak manusia modern tersesat karena mereka berusaha menavigasi “hutan” kehidupan ini dengan menggunakan “peta yang salah”. Mereka mengandalkan ideologi seperti kapitalisme, sistem politik demokrasi, atau filsafat Barat sebagai panduan hidup. Ini sama halnya seperti mencoba menjelajahi hutan rimba dengan peta jalanan kota.
2. Panggilan yang Melintasi Ruang dan Waktu
Seruan “Ya Ayyuhannas (Wahai Manusia)” dalam hadits ini bukanlah panggilan biasa. Dari sisi balaghah (retorika Arab), penggunaan Ya Ayyuha mengandung beberapa aspek penegasan (taukid) dan penarik perhatian (tanbih) yang sangat kuat. Sebagaimana dinukil dari mufassir agung Az-Zamakhsyari, seruan dengan formula ini dipilih karena di dalamnya terdapat sisi-sisi penegasan dan efek superlatif yang tidak ditemukan pada panggilan biasa.
Lebih dari itu, analisis linguistik menunjukkan bahwa seruan ini lazimnya digunakan untuk memanggil objek yang posisinya “jauh”. Ini mengisyaratkan bahwa pesan Nabi Muhammad ﷺ tidak terbatas hanya untuk para Sahabat yang hadir secara fisik di hadapan beliau saat itu. Panggilan ini melintasi dimensi ruang dan waktu (lintas zaman dan lintas makan), ditujukan untuk seluruh umat manusia di setiap zaman dan tempat, termasuk kita hari ini. Kekayaan makna ini sekaligus menunjukkan betapa sulitnya menerjemahkan kekuatan Ya Ayyuha secara presisi ke dalam bahasa Indonesia, yang menunjukkan kedalaman bahasa asli wahyu.
3. Jaminan Anti-Tersesat yang Abadi dan Berlapis
Di dalam frasa “falan tadhillu abadan (maka kalian tidak akan pernah tersesat selamanya)” terkandung sebuah jaminan yang dikunci dengan “kunci ganda linguistik” yang luar biasa.
Kunci pertama adalah penggunaan kata Lan. Dalam ilmu bahasa Arab, Lan adalah huruf penafian untuk masa depan yang maknanya jauh lebih kuat daripada huruf La. Lan menunjukkan penegasian yang bersifat abadi (takbid), yang artinya meniadakan kemungkinan sesuatu terjadi untuk selamanya.
Namun, Nabi Muhammad ﷺ tidak berhenti di situ. Beliau menambahkan kunci kedua: kata abadan (selama-lamanya) setelah Lan. Ini adalah gaya bahasa yang disebut al-itnab, yaitu penambahan kata yang berfungsi untuk lebih menguatkan makna. Dengan demikian, makna “abadi” ditegaskan dua kali, memberikan jaminan yang berlapis dan tak terbantahkan bagi siapa pun yang memenuhi syaratnya: berpegang teguh pada Al-Qur’an dan Sunnah.
4. Al-Qur’an dan Sunnah: Satu Paket yang Tak Terpisahkan
Dalam frasa kitabullahi wasunata nabihi, penggunaan huruf wa (dan) memiliki makna yang sangat fundamental. Dalam tata bahasa Arab, huruf ini disebut wawul atfi yang salah satu makna utamanya adalah limutlaqil jami (untuk penggabungan mutlak).
Ini secara tegas menunjukkan bahwa Al-Qur’an dan Sunnah adalah satu kesatuan sumber petunjuk yang tidak dapat dipisahkan sama sekali; keduanya harus diambil sebagai satu paket warisan. Poin linguistik ini secara langsung membantah argumen kelompok ingkarus sunnah yang hanya mau menerima Al-Qur’an dan menolak As-Sunnah. Ini bukan sekadar aturan tata bahasa; ini adalah benteng linguistik yang dibangun oleh Nabi ﷺ dalam wasiatnya untuk melindungi umat dari gagasan memisahkan dua sumber wahyu yang tak terpisahkan.
5. Makna “Tersesat” yang Sebenarnya: Bukan Soal Furu’, Tapi Soal Arah
Sangat penting untuk memahami makna kata tadhillu (tersesat) dalam konteks hadits ini. Secara linguistik, ad-dhalal (kesesatan) adalah kebalikan mutlak dari al-huda (petunjuk). Maka, “tersesat” yang dimaksud di sini bukanlah perbedaan pendapat dalam masalah fikih cabang (furu’iyah), seperti qunut saat salat Subuh, hukum isbal, atau memelihara jenggot.
“Tersesat” yang dijamin akan kita hindari adalah penyimpangan dari jalan utama (millah), yaitu penyimpangan dari pokok-pokok akidah dan syariat Islam. Ini terjadi ketika umat Islam mulai mengadopsi paradigma dan sistem di luar Islam untuk mengatur kehidupan mereka, baik dalam sistem politik (demokrasi), ekonomi (kapitalisme), maupun sosial (liberalisme). Inilah kesesatan hakiki yang pada akhirnya menjauhkan umat dari petunjuk Allah yang lurus.
***
Wasiat Nabi ini bukanlah sekadar kalimat hafalan, melainkan sebuah panduan hidup yang sarat dengan ketepatan linguistik dan jaminan ilahi. Setiap katanya dipilih dengan cermat untuk menyampaikan pesan yang abadi dan tak terbantahkan. Setelah menyelami kedalaman ini, tanyakan pada diri kita: Apakah Al-Qur’an dan Sunnah di tangan kita adalah kompas yang kita gunakan di setiap persimpangan jalan, atau sekadar pusaka yang tersimpan rapi di dalam laci?[]
Disarikan dari kajian dengan tema tersebut di NSTV:
