Dalam hiruk-pukuk dunia modern, kita sering kali merasa ingin menyerah hanya karena hambatan-hambatan kecil. Keluhan tentang tekanan pekerjaan, ketidakpastian ekonomi, hingga komentar negatif di media sosial sering kali membuat kita merasa beban hidup sudah mencapai batasnya. Namun, sebagai seorang Muslim, sejarah menyediakan cermin besar untuk mengukur kembali kadar keteguhan kita. Salah satu sosok yang paling monumental dalam urusan kesabaran adalah Khabbab bin al-Arat.
Khabbab bukan sekadar nama dalam deretan sahabat. Ia adalah orang keenam yang memeluk Islam (As-Sabiqunal Awwalun), sosok yang berasal dari kabilah Bani Tamim di wilayah Nejed (sekitar Riyadh saat ini). Hidupnya adalah tragedi yang berubah menjadi kemenangan iman; ia diculik dalam sebuah serangan antarsuku saat masih kecil, lalu diperjualbelikan di pasar budak Makkah hingga menjadi milik Ummu Anmar al-Khuza’iyah. Meski berstatus budak, Khabbab adalah pandai besi yang jenius, tangannya mahir menempa pedang yang paling dicari oleh para pembesar Quraisy. Namun, pelajaran terbesar darinya bukanlah keahlian menaklukkan besi, melainkan kekuatannya menaklukkan rasa sakit demi Tuhan yang ia yakini.
Keteguhan melampaui Nilai Materi
Sebagai perajin pedang, Khabbab sering berurusan dengan Al-Ash bin Wail, seorang tokoh kafir Quraisy yang juga ayah dari Amr bin Ash. Suatu ketika, saat Khabbab menagih utang atas pedang-pedang yang telah ia selesaikan, Al-Ash melakukan pemerasan iman. Ia menolak membayar sepeser pun kecuali Khabbab mengingkari Muhammad SAW.
Jawaban Khabbab adalah manifestasi dari integritas yang tak memiliki label harga:
“Aku tidak akan mengingkari Muhammad sampai kamu mati kemudian dibangkitkan kembali.”
Al-Ash mengejek dengan mengatakan bahwa jika ia dibangkitkan nanti, ia akan memiliki harta dan anak yang lebih banyak untuk membayar Khabbab. Kesombongan ini menjadi latar belakang sejarah (asbabun nuzul) turunnya firman Allah dalam Surah Maryam ayat 77-80, yang mencela orang-orang kafir yang merasa bisa memastikan kenikmatan akhirat tanpa iman. Bagi Khabbab, kebenaran adalah mata uang yang jauh lebih berharga daripada dirham yang tertahan di tangan penguasa zalim.
Siksaan Fisik dan Keadilan Sunatullah
Keislaman Khabbab yang terang-terangan memicu murka Ummu Anmar dan saudara laki-lakinya, Siba’ bin Abdul Uzza. Khabbab disiksa dengan cara yang melampaui imajinasi manusia modern. Ia dipaksa mengenakan baju besi di bawah terik matahari Makkah tanpa air minum. Punggungnya dilemparkan ke atas arang yang membara, lalu ditindih dengan batu besar hingga arang tersebut padam hanya oleh lemak dan cairan yang keluar dari punggungnya.
Bukti fisik keteguhan ini tetap abadi hingga bertahun-tahun kemudian. Saat masa kekhalifahan Umar bin Khattab, Khabbab memperlihatkan punggungnya yang berubah menjadi putih melepuh dan penuh bekas luka bakar. Namun, sejarah juga mencatat keadilan Tuhan (sunatullah). Ummu Anmar, sang penyiksa, akhirnya menderita penyakit kepala aneh yang membuatnya melolong seperti anjing. Tragisnya, satu-satunya pengobatan yang bisa meredakan sakitnya adalah dengan membakar kepalanya menggunakan besi panas—persis seperti yang ia lakukan pada Khabbab. Ini adalah pengingat bahwa siapa pun yang bermain api dengan para kekasih Allah, ia akan terbakar oleh api yang ia nyalakan sendiri.
Arsitek di Balik Layar Hidayah Al-Faruq
Sering kali kita lupa bahwa sebelum Umar bin Khattab bersujud di hadapan Allah, ada seorang guru yang mempertaruhkan nyawa untuk mengajarkan Al-Qur’an. Khabbab bin al-Arat adalah sosok yang ditugaskan Rasulullah SAW untuk mengajarkan wahyu secara sembunyi-sembunyi kepada Fatimah binti Khattab (adik Umar) dan suaminya, Said bin Zaid.
Khabbab adalah penjaga lembaran (shahifah) Surah Thaha yang akhirnya meluluhkan hati keras Sang Al-Faruq. Saat Umar datang dengan pedang terhunus ke rumah adiknya, Khabbab sempat bersembunyi. Namun, ketika ia melihat cahaya hidayah mulai masuk ke relung hati Umar, ia keluar dan menyampaikan kabar gembira bahwa Rasulullah SAW pernah mendoakan agar Islam dimuliakan lewat salah satu dari dua orang: Umar bin Khattab atau Abu Jahal. Pelajarannya jelas: kontribusi besar bagi peradaban sering kali lahir dari keberanian orang-orang di balik layar yang konsisten mendidik jiwa-jiwa manusia.
Memahami Hakikat Perjuangan dan Larangan Terburu-buru
Pernah suatu ketika, di tengah puncak penderitaan, Khabbab menemui Rasulullah SAW yang sedang bersandar di bawah naungan Ka’bah. Khabbab mengadu, “Wahai Rasulullah, mengapa engkau tidak memohon pertolongan dan mendoakan keselamatan untuk kami?”
Rasulullah SAW duduk dengan wajah yang menunjukkan keseriusan, lalu mengingatkan Khabbab tentang hakikat perjuangan umat terdahulu. Beliau menceritakan ada orang yang kepalanya dibelah dengan gergaji dan dagingnya dipisahkan dari tulang dengan sisir besi (iron combs), namun mereka tidak bergeming dari imannya. Rasulullah kemudian memberikan teguran halus namun mendalam:
“Tetapi kalian adalah kaum yang terburu-buru. Demi Allah, agama ini akan sempurna hingga seorang wanita bisa bepergian dari San’a ke Hadramaut tanpa takut kecuali kepada Allah.”
Pesan ini adalah jangkar bagi setiap pejuang: kemenangan adalah janji pasti, namun Allah ingin menguji siapa yang mampu bersabar melalui proses “tempaan besi” sebelum mencapai masa kejayaan.
Akhir Hayat: Zuhud dan Kerinduan pada Akhirat
Setelah Islam jaya dan wilayahnya meluas, Khabbab hidup dalam kecukupan di Kufah. Namun, harta tidak pernah benar-benar masuk ke hatinya. Amirul Mukminin Umar bin Khattab sangat menghormatinya; pernah suatu kali Umar memberikan bantal duduknya sendiri kepada Khabbab seraya berkata bahwa tidak ada orang di muka bumi ini yang lebih berhak duduk di atasnya selain Khabbab dan Bilal bin Rabah.
Di akhir hayatnya, Khabbab menangis saat melihat simpanan hartanya sebesar 8.000 dirham. Bukan karena kurang, tapi karena takut. “Aku takut pahala perjuanganku telah disegerakan di dunia ini,” isaknya. Ia teringat para sahabat yang wafat dalam keadaan miskin namun membawa pahala yang utuh. Menjelang wafatnya, Khabbab yang menderita sakit perut kronis harus menjalani pengobatan kay (cauterization) dengan besi panas sebanyak tujuh kali. Meski sangat menderita, ia menolak berdoa meminta mati karena memegang teguh larangan Rasulullah. Ia memandang dunia ini hanya sebagai tempat menabung luka untuk ditukar dengan kemuliaan di sisi Allah.
***
Sebuah Pertanyaan untuk Dibawa Pulang
Khabbab bin al-Arat wafat pada tahun 37 Hijriah dalam usia 73 tahun. Ia adalah orang pertama yang dimakamkan di luar kota Kufah. Di depan makamnya, Ali bin Abi Thalib berdiri dan memberikan pidato mengharukan: “Semoga Allah merahmati Khabbab, ia masuk Islam dengan tulus, berhijrah dengan ketaatan, dan hidup sebagai mujahid.”
Kisah Khabbab adalah monumen abadi bahwa iman bukan sekadar kata-kata manis di saat lapang, melainkan keteguhan di atas bara api. Jika Khabbab mampu menjaga imannya meski punggungnya dipanggang arang dan perutnya dibakar besi panas, apa yang sebenarnya menghalangi kita untuk tetap teguh di atas hamparan kenyamanan dan fasilitas yang kita miliki saat ini? Apakah iman kita sekuat besi yang ditempa, ataukah rapuh hanya karena hembusan angin ujian yang sepele?[]
Disarikan dari kajian dengan tema tersebut di NSTV:
