NgajiShubuh.or.id — Dunia hari ini dipertontonkan dengan sistem kehidupan dan ideologi yang rusak dan merusak yakni kapitalisme sekuler. Kesombongan Amerika Serikat yang dikendalikan oleh Donald Trump telah menciptakan penjajahan dan penindasan secara multidimensi. Faktanya, kapitalisme telah menjadikan penguasanya kerasukan bak Raja Fir’aun. Menurut Syekh Taqiyuddin an-Nabhani, kapitalisme adalah ideologi kufur yang dibangun dari asas sekularisme (pemisahan agama dari kehidupan). Sehingga kapitalisme selalu memuja kebebasan individu mutlak, termasuk kebebasan kepemilikan.
Saat ini pemimpin ideologi kapitalisme global adalah Amerika Serikat (AS) di bawah kendali Donald Trump. Trump mewujud menjadi sesosok Fir’aun yang ingin dunia berasa dalam kendalinya. Belum selesai ia mempertontonkan kesombongannya mengacak-acak Venezuela dengan menculik presidennya yakni Nicolas Maduro. Trump tidak berhenti menancapkan pakunya di jantung negeri-negeri Muslim dengan mengajak penguasa-penguasa negeri Muslim bergabung di Board of Peace.
Seolah-olah Trump ingin dunia ini terbelalak, sambil berseloroh kepada negeri-negeri Muslim, jika tidak mau manut dengan Trump, negeri mereka harus siap di-Palestinakan. Begitu pun bagi negeri-negeri kafir lainnya, jika tidak mau tunduk pada titah Trump mereka harus siap di-Venezuelakan. Sungguh bagaikan makan buah simalakama bagi mereka yang di dadanya subur jiwa pengecut. Mereka dipecundangi Trump tapi mereka manut tanpa perlawanan sedikit pun.
Penjajahan, penindasan, eksploitasi, atau genosida yang dilakukan AS di dunia ini hanya untuk menuruti syahwat kapitalisme menguasai dunia agar berada di bawah kendalinya. Inilah yang membuat kezaliman sistematis yang dikangkangi AS beserta kroni-kroninya. Kesombongan kapitalisme sekuler yang dibawa oleh Trump tidak bisa dibiarkan. Seharusnya hal ini membangkitkan kaum Muslim untuk tidak diam saja alias harus melawan dominasi AS di dunia ini.
Kesombongan ini jika dibiarkan akan menciptakan huru-hara yang lebih zalim lagi. Kapitalisme ingin mengembalikan dunia menuju zaman jahiliah ketika manusia dan hewan tidak bisa dibedakan lagi. Kondisi kaum Muslim yang terpecah-belah menjadi negara-negara kecil dan tersekat karena nasionalisme seharusnya mendorong mereka untuk bersatu di bawah naungan institusi Islam yakni Khilafah Islamiah.
Umat Islam seharusnya bersatu di bawah satu ikatan akidah dalam perangkat institusi pemerintahan Islam yang mampu memobilisasi militer untuk melawan kezaliman dan kejahatan yang diciptakan kapitalisme. Sekalipun mereka seolah-olah memiliki kecanggihan teknologi dan kejeniusan. Namun, kejahatan mereka sudah terbukti dibobol oleh gerakan perlawanan Islam di Palestina yang menghancurkan propaganda sampah entitas Yahudi selama ini. Taufan Al-Aqsha telah membuat entitas Yahudi tercengang karena kaum Muslim bisa menghancurkan pusat pertahanan “Israel”. Seandainya kaum Muslim mau bersatu dalam naungan khilafah tentu kesombongan Trump akan lebih mudah untuk dimusnahkan dari muka bumi.[] Ika Mawarningtyas
