Memutus Lingkaran Setan “Anak Nakal, Orangtua Marah”
Anak tantrum di tengah keramaian. Kakak memukul adiknya lagi. PR tidak dikerjakan, padahal sudah diingatkan berkali-kali. Pemandangan ini akrab bagi banyak orangtua, dan seringkali memicu reaksi yang sama: drama. Suara meninggi, wajah memerah, dan hati yang lelah. Lingkaran setan “anak nakal, orangtua marah” ini seolah menjadi bagian tak terpisahkan dari pengasuhan.
Namun, bagaimana jika kita salah membaca situasinya sejak awal? Bagaimana jika perilaku yang kita labeli “nakal” itu sebenarnya bukan lahir dari niat jahat, melainkan dari ketidakpahaman? Bagaimana jika anak kita bukannya membangkang, tapi hanya belum paham?
Ternyata, ada sebuah seni untuk menegur anak tanpa drama, yang berakar pada prinsip-prinsip mendalam yang mampu mengubah total cara pandang kita. Mari kita selami empat kunci yang akan mengubah frustrasi menjadi rahmat dalam perjalanan pengasuhan kita.
Kunci #1: Akar Masalahnya bukan Niat Jahat, tapi Kebutuhan yang belum Terpenuhi
Sebagian besar perilaku yang kita anggap “kenakalan” sesungguhnya adalah sinyal darurat dari seorang anak yang kebutuhannya belum terpenuhi. Namun, sebelum kita membahas kebutuhan fisik dan jiwa, ada satu fondasi spiritual yang tak boleh terlewatkan: kehalalan rezeki. Semua ikhtiar pengasuhan kita, seberapapun hebatnya, akan terganggu secara spiritual jika nafkah yang kita berikan kepada anak berasal dari sumber yang syubhat, apalagi haram. Memastikan kehalalan rezeki adalah prasyarat utama sebelum melangkah lebih jauh.
Setelah fondasi ini kokoh, barulah kita periksa dua kategori kebutuhan fundamental lainnya yang wajib dipenuhi:
- Kebutuhan Fisik: Ini adalah fondasi yang paling dasar, mencakup makanan, minuman, pakaian yang layak, rumah sebagai tempat berlindung, hingga kesempatan untuk berolahraga dan bergerak. Pengabaian terhadap kebutuhan ini adalah luka pertama yang bisa memicu anak mencari perhatian dengan cara yang negatif.
- Kebutuhan Naluri: Ini adalah kebutuhan jiwa yang seringkali terlewatkan. Ada tiga naluri inti (gharizah) yang harus dipupuk agar anak merasa aman dan utuh:
- Naluri Berketuhanan (Gharizah Tadayyun): Kebutuhan ini terpenuhi saat kita secara konsisten mengaitkan setiap aktivitas—mulai dari makan, minum, hingga melihat alam—dengan kebesaran Allah. Ini membuat anak merasa terhubung dengan Sang Pencipta dan tidak merasa sendirian di dunia.
- Naluri Kasih Sayang (Gharizah Nau’): Terpenuhi lewat sentuhan fisik dan kehadiran emosional yang tulus. Contoh sederhananya adalah menyusui anak dengan tatapan penuh cinta dan perhatian, bukan sambil sibuk dengan ponsel. Anak yang “kenyang” kasih sayang tidak akan “lapar” perhatian.
- Naluri Eksistensi Diri (Gharizah Baqa’): Terpenuhi ketika anak merasa dirinya berharga dan penting. Ini ditunjukkan dengan cara kita merespons kebutuhannya dengan sigap, mendengarkan ceritanya, dan menghargai usahanya, sekecil apapun.
Seorang anak yang kebutuhan fisik dan nalurinya terpenuhi akan tumbuh menjadi pribadi yang percaya diri. Ia tidak perlu berteriak, membanting barang, atau mengganggu saudaranya hanya untuk memastikan bahwa ia ada dan dicintai.
Kunci #2: Hati-Hati, Label “Nakal” adalah Doa yang Bisa Terkabul
Kata-kata memiliki kekuatan yang dahsyat, terutama kata-kata seorang orangtua. Ketika kita berulang kali melabeli anak dengan sebutan “nakal”, “susah diatur”, atau “pemalas”, kita sedang menanamkan sebuah identitas ke dalam dirinya.
Tanpa sadar, label itu bisa menjadi sebuah ramalan yang dipenuhi sendiri (self-fulfilling prophecy). Anak mungkin mulai berpikir, “Memang aku anak nakal… Ya udah aku jadi anak nakal sekalian aja.” Ia akan mulai bertingkah sesuai dengan label yang kita berikan, karena ia percaya itulah dirinya. Jangan sampai lisan kita, yang seharusnya menjadi sumber doa kebaikan, justru menjadi doa yang mengafirmasi keburukan pada diri anak kita.
Kunci #3: “Protokol Langit” untuk Mengoreksi Kesalahan dari Surah Ali Imran 159
Inilah kunci yang paling dalam dan mungkin paling berlawanan dengan intuisi kita. Al-Qur’an ternyata menyediakan sebuah panduan langkah demi langkah tentang cara merespons kesalahan fatal, dan protokol ilahi ini sangat relevan untuk dunia parenting. Sebagaimana dijelaskan oleh Sayyid Quthb dalam tafsirnya, ayat ini turun setelah peristiwa Perang Uhud, di mana sebagian sahabat melakukan kesalahan besar yang menyebabkan kekalahan. Namun, lihatlah bagaimana Allah memerintahkan Rasulullah ﷺ untuk merespons mereka dengan penuh rahmat.
“Maka berkat rahmat Allah engkau (Muhammad) berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya engkau bersikap keras dan berhati kasar, tentulah mereka akan menjauhkan diri dari sekitarmu. Karena itu maafkanlah mereka, mohonkanlah ampunan untuk mereka, dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu.” (QS. Ali ‘Imran: 159)
Dari ayat mulia ini, kita bisa menarik tiga langkah praktis saat menghadapi “kenakalan” anak:
- Langkah 1: Mulai dengan Kelembutan, bukan Kekerasan. Perintah pertama dari Allah adalah bersikap lemah lembut. Ayat ini bahkan secara tegas memperingatkan agar tidak bersikap keras (fadhdhan) atau berhati kasar (ghalidhal qalbi). Imam Ibn Katsir menjelaskan makna fadhdhan sebagai “keras dan kasar dalam berbicara”. Sikap ini hanya akan membuat anak menjauh dan menutup hatinya. Tips praktisnya? Sebelum bicara, paksakan diri Anda untuk tersenyum terlebih dahulu. Senyum akan mengubah fisiologi dan nada suara kita.
- Langkah 2: Maafkan Dulu, lalu Mohonkan Ampun. Perhatikan urutan yang luar biasa ini. Sebelum mengoreksi, sebelum menasihati, langkah pertama adalah memaafkan (fa’fu ‘anhum). Maafkan anak di dalam hati kita. Mengapa ini sangat penting? Sebab, jika hati orangtua tidak rida, ada kekhawatiran spiritual yang besar: “Bisa jadi anak kita nanti kelak jadi anak durhaka.” Setelah hati kita lapang dengan maaf, naik satu tingkat lebih tinggi: mohonkan ampunan untuknya kepada Allah (wastaghfir lahum). Ini membersihkan hati kita dari kemarahan dan memastikan kita mendekati anak dari posisi rahmat, bukan penghakiman.
- Langkah 3: Ajak Musyawarah, bukan Mendikte. Perintah berikutnya adalah musyawarah (wa syawirhum fil amr). Musyawarah adalah dialog dua arah, bukan ceramah satu arah. Ini dimulai dengan telinga, bukan mulut. Dengarkan dengan empati untuk memahami alasannya: “Bunda mau dengar, kenapa tadi kakak melakukan itu, Nak?” Teladan terbaik dalam mendengar adalah Rasulullah ﷺ sendiri, yang pernah berkata, “Duduklah di mana pun tempat di Madinah yang engkau inginkan dan aku siap mendengarkan.” Setelah memahami, gunakan “bahasa aku” (I-statement) seperti, “Bunda sedih kalau kakak memukul adik,” alih-alih melabeli, “Kakak nakal, suka pukul adik.” Tujuannya adalah mencari solusi bersama dengan membuat aturan, hadiah (reward), dan konsekuensi yang jelas dan disepakati.
Kunci #4: Puncak Ikhtiar bukan Konsistensi, tapi Tawakal
Setelah semua ikhtiar—memenuhi kebutuhan, menjaga lisan, dan menerapkan protokol langit—dilakukan, ada satu langkah terakhir yang menjadi puncak segalanya. Allah melanjutkan ayat di atas dengan firman-Nya: “…fa idza ‘azamta fatawakkal ‘alallah. (Kemudian, apabila engkau telah membulatkan tekad, maka bertawakallah kepada Allah).”
Setelah kita berazam, membuat aturan, dan berusaha konsisten, langkah pamungkasnya adalah tawakal—menyerahkan hasilnya sepenuhnya kepada Allah. Di sinilah letak ketenangan sejati. Orangtua yang mudah marah dan sering terbawa drama bisa jadi memiliki kelemahan dalam tawakalnya. Sebaliknya, orangtua yang sehat secara mental dan kuat imannya memahami bahwa semua yang terjadi adalah atas izin Allah.
Orang tua yang bertawakal akan merasakan ketenangan, sebab Allah menjanjikan buah yang manis bagi mereka. Allah akan memberinya jalan keluar dari kesulitan (wamayattaqillaha yaj’al lahu makhraja), memberinya rezeki dari arah yang tak disangka-sangka (wa yarzuqhu min haitsu laa yahtasib), dan menjadikan urusannya mudah (yaj’al lahu min amrihi yusra). Inilah kunci untuk melepaskan diri dari belenggu emosi dan drama yang melelahkan.
***
Mengubah Drama menjadi Rahmat
Mendidik anak tanpa drama bukanlah tentang memiliki anak yang sempurna atau menjadi orangtua super yang tidak pernah lelah. Ini adalah tentang pergeseran paradigma: dari melihat kesalahan anak sebagai “kenakalan” yang harus dihukum, menjadi melihatnya sebagai tanda seorang anak yang “belum paham” dan butuh dibimbing.
Bimbingan itu tidak datang dari amarah, melainkan dari sebuah proses suci: dimulai dengan kelembutan, dilapisi dengan maaf dari hati, diperkuat dengan dialog, dan dipuncaki dengan tawakal kepada Allah.
Sekarang, mari kita renungkan sejenak. Bagaimana jika ‘drama’ anak kita berikutnya bukanlah ujian kesabaran, melainkan undangan dari Allah untuk kita mempraktikkan rahmat-Nya secara langsung?[]
Disarikan dari kajian dengan tema tersebut di NSTV:
