NgajiShubuh.or.id — Hari ini, generasi terperangkap dalam pusaran sekularisasi digital yang menggerus identitas mereka. Ibu yang diharapkan mampu membina generasi menjadi unggul juga masuk dalam arus sekularisasi digital. Kasus kejahatan, kekerasan, atau kemaksiatan menyelimuti pemberitaan tentang rusaknya generasi hari ini. Perundungan yang berujung pembunuhan, pesta miras hingga narkoba, pergaulan bebas, dan kondisi generasi yang sulit diasuh, mewarnai pemberitaan hari ini. Selain itu, kasus ibu stres, depresi, hingga bunuh diri bersama anaknya juga marak terjadi saat ini.
Baik ibu maupun anak telah menjadi korban masifnya arus sekularisasi digital, yakni ketika dunia digital dijauhkan dari din Islam, bahkan akun-akun dakwah Islam yang sering mendapatkan teguran hingga penangguhan adalah bukti dunia digital mempersulit pembesaran opini dakwah Islam di dunia digital. Walhasil baik ibu maupun anak mengalami degradasi keimanan dan ketakwaan hingga menjerumuskan mereka dalam lubang dosa.
Menyorot hal tersebut ada beberapa catatan kritis sebagai berikut. Pertama, sekularisasi digital dilindungi oleh ideologi kapitalisme. Sekularisasi digital yang masif di era ini tidak bisa dibiarkan, karena sekularisasi digital didukung penuh sistem kehidupan yang diterapkan di dunia ini yakni ideologi kapitalisme sekuler. Kapitalisme yang dipimpin oleh Amerika Serikat dan sekutunya telah menampakkan kedengkian yang nyata kepada Islam. Faktanya, kampanye ideologi kapitalisme masif dilakukan dan ditancapkan kuat di negeri-negeri Muslim dengan turunan undang-undang sekuler yang disahkan dan diterapkan dalam kehidupan bernegaranya.
Kedua, umat harus berdakwah bareng-bareng. Melihat kemungkaran yang sistematis yang ditampakkan sekularisasi digital, umat tidak boleh diam. Umat harus bersuara melawan kemungkaran dan menyeru kemakrufan. Ibu dan generasi hari ini harus mengambil peran untuk menyelamatkan masa depan dunia dengan memulai mengkaji Islam kafah dan mendakwahkannya. Apa yang sudah dikaji tidak hanya sebagai konsumsi individu tapi harus disampaikan ke tengah-tengah umat, sehingga mampu melawan arus sekularisasi digital. Di sinilah mereka membutuhkan jemaah dakwah Islam sesungguhnya untuk bergandengan tangan memperjuangkan tegaknya hukum Islam di dunia ini.
Ketiga, solusi hakiki menyelamatkan ibu dan generasi yakni dengan terwujudnya kehidupan Islam dalam naungan institusi Islam (Khilafah Islamiah). Dalam agenda melindungi ibu dan generasi dari pusaran sekularisasi digital tidak ada cara lain kecuali bersama-sama menegakkan syariat Islam dalam bingkai khilafah. Tidak bisa ibu dan generasi bisa terjaga dan selamat jika diatur dengan hukum sekuler seperti ini. Apalagi hukum sekuler kapitalisme menjadi promotor utama dalam merusak umat Islam.
Hukum sekuler telah melemahkan akidah dan menjauhkan ibu dan generasi dari syariat Islam. Mereka dininabobokan dengan paham kebebasan yang mereka kira bisa memenuhi segala keinginannya. Walhasil baik ibu maupun anak menjadi budak dunia yang kebahagiaan diletakkan ketika syahwatnya terpuaskan oleh validasi manusia. Mereka melupakan posisi hakiki mereka sebagai hamba yang harus taat kepada Rabb semesta alam. Di sinilah pentingnya dakwah untuk mengembalikan identitas ibu dan generasi sebagai pelopor perubahan menuju kebangkitan tegaknya kehidupan Islam di bawah naungan Khilafah Islamiah.[] Ika Mawarningtyas
