Peristiwa Isra Mi’raj seringkali kita peringati sebagai sebuah keajaiban ilahiah dan momen sakral turunnya perintah salat. Namun, di balik kemegahannya yang melampaui nalar, tersimpan lapisan-lapisan makna yang jauh lebih dalam. Pernahkah kita berhenti sejenak untuk bertanya: pesan fundamental apa yang sesungguhnya hendak disampaikan melalui peristiwa ini, yang gema-nya masih relevan untuk menjawab krisis yang kita hadapi hari ini? Ternyata, di balik peristiwa agung tersebut terdapat pelajaran (ibrah) yang berpotensi mengubah cara kita memandang tidak hanya peristiwa itu sendiri, tetapi juga iman, kehidupan, dan dunia di sekitar kita.
Ujian Tertinggi Iman
Pelajaran pertama yang paling fundamental dari Isra Mi’raj adalah tentang hakikat akidah (keyakinan). Peristiwa ini, yang sekilas seperti tidak masuk akal, sengaja dijadikan ujian oleh kaum Quraisy untuk meruntuhkan iman para Sahabat. Namun, respons Abu Bakar menjadi pelajaran abadi. Beliau tidak terjebak dalam perdebatan fisika atau kemungkinan ilmiah, melainkan menambatkan seluruh keyakinannya pada satu jangkar yang tak tergoyahkan: integritas mutlak Sang Pembawa Berita, Nabi Muhammad SAW.
Sikap inilah yang mengukuhkan gelarnya sebagai “Ash-Shiddiq” (Yang Membenarkan). Keyakinan Abu Bakar begitu kokoh hingga Nabi SAW sendiri memujinya dalam sebuah hadits: “Andai imannya Abu Bakar itu ditimbang dengan imannya seluruh penduduk bumi, maka iman Abu Bakar itu unggul.” Ini adalah tantangan langsung terhadap mentalitas modern yang sering menuntut bukti empiris untuk segala hal, bahkan dalam ranah keimanan. Isra Mi’raj mengajarkan bahwa fondasi iman sejati bukanlah pada kemampuan akal kita mencerna yang gaib, melainkan pada keyakinan total terhadap kebenaran sumbernya: Al-Qur’an dan Sunnah.
Bukti Status Kerasulan
Bayangkan seseorang dijemput dari rumahnya oleh presiden dengan kendaraan istimewa, dikawal ketat, lalu dibawa langsung ke ruang kerja di istana negara. Setelah pertemuan itu, ia keluar membawa titah dan amanah dari sang presiden. Siapakah orang ini? Kita semua sepakat, ini bukan hanya istimewa, ini adalah utusan presiden. Analogi ini membantu kita memahami betapa agungnya penegasan status Nabi Muhammad SAW melalui Isra Mi’raj. Diundang secara langsung oleh Allah SWT dalam sebuah perjalanan kosmik yang mustahil bagi manusia biasa adalah deklarasi final bahwa beliau bukanlah sekadar manusia pilihan, melainkan Rasulullah, utusan Allah yang paling istimewa. Peristiwa ini mengukuhkan posisinya sebagai nabi penutup yang diutus untuk seluruh umat manusia—di setiap tempat, di setiap zaman, hingga akhir masa.
Risalah Isra Mi’raj Bersifat Universal
Penegasan status kerasulan ini bukanlah sekadar gelar kehormatan; ia membawa implikasi langsung pada cakupan dan sifat risalah yang beliau emban. Karena diutus untuk seluruh manusia, maka ajaran (risalah) yang dibawanya pun bersifat universal, mencakup seluruh aspek kehidupan. Islam tidak berhenti di pintu masjid; ajarannya merentang dari ibadah personal hingga sistem ekonomi, politik, sosial, dan budaya. Hal ini menjadi kontras tajam dengan kondisi hari ini, di mana sistem hidup selain Islam, seperti kapitalisme, diadopsi dan menghasilkan kerusakan sistemik—misalnya, sumber daya alam yang seharusnya milik bersama dieksploitasi hanya untuk keuntungan segelintir korporasi. Maka, benarkah masalah-masalah ini murni teknis, ataukah ia berakar pada pilihan fundamental kita terhadap sistem hidup?
Dari Kerusakan Alam hingga Krisis Sosial
Isra Mi’raj juga menyadarkan kita tentang akar penyebab kerusakan (fasad) di muka bumi. Allah SWT menyatakan bahwa kerusakan di darat dan di laut terjadi akibat ulah tangan manusia. Para ulama menafsirkan “ulah tangan manusia” ini sebagai kemaksiatan: setiap pelanggaran terhadap syariah Allah. Penting untuk membedakan antara bencana yang bersifat qadariah atau bagian dari hukum alam (sunnatul wujud) seperti gempa bumi penyebab tsunami 2004, dengan kerusakan yang merupakan buah dari kemaksiatan sistemik. Banjir bandang di Aceh Tamiang yang membawa gelondongan kayu hasil pembalakan liar bukanlah sekadar bencana alam, melainkan akibat langsung dari sistem pengelolaan alam yang korup dan melanggar syariah. Kemaksiatan ini ada yang bersifat personal (meninggalkan salat), namun fasad berskala besar yang kita saksikan hari ini adalah buah dari kemaksiatan komunal dan struktural, seperti penerapan sistem ekonomi ribawi yang dilegalkan. Isra Mi’raj mengingatkan bahwa solusi hakiki dari berbagai krisis ini adalah kembali pada ketaatan syariah secara menyeluruh.
Mengingat Isra Mi’raj adalah Mengingat Palestina
Rute perjalanan Isra disebutkan secara eksplisit dalam Al-Qur’an: dari Masjidil Haram di Makkah ke Masjidil Aqsa. Titik tuju ini bukanlah lokasi geografis yang acak; Masjidil Aqsa berada di Baitul Maqdis, Yerusalem, Palestina. Fakta wahyu ini menciptakan ikatan akidah yang permanen dan tidak terpisahkan antara setiap Muslim dengan tanah Palestina. Oleh karena itu, ada propaganda yang mencoba mengalihkan pikiran kita dengan mengatakan apa yang terjadi di Palestina tidak ada urusannya dengan Islam. Ini adalah pemelintiran yang berbahaya. Setiap kali umat Islam memperingati Isra Mi’raj, secara otomatis iman mereka harus terpanggil untuk mengingat saudara-saudara mereka dan perjuangan suci di Palestina, karena ikatan itu adalah bagian tak terpisahkan dari keyakinan kita.
***
Isra Mi’raj bukanlah sekadar dongeng pengantar tidur atau cerita keajaiban masa lalu. Ia adalah sumber pelajaran abadi yang menuntut kita untuk merekonstruksi cara pandang terhadap iman, masyarakat, dan tatanan global. Ia mengajarkan kita tentang keyakinan yang melampaui logika, tentang risalah universal yang mengatur seluruh hidup, tentang akar kerusakan sistemik di bumi, dan tentang ikatan akidah kita yang suci dengan Palestina.[]
Disarikan dari kajian dengan tema tersebut di NSTV:
