Bulan Desember seringkali dianggap sekadar penutup tahun, masa untuk refleksi dan perayaan. Namun, di balik tanggal-tanggal yang kita lewati, Desember sebenarnya menyimpan banyak peristiwa penting yang kurang diketahui publik. Tersembunyi di antara catatan sejarah, terdapat kisah-kisah mengejutkan yang dapat mengubah cara kita memandang hubungan antarperadaban dan lahirnya kekuatan-kekuatan besar dunia.
Ada empat momen bersejarah paling mengejutkan yang terjadi di bulan Desember, yang menghubungkan takdir Nusantara dengan panggung dunia.
1. Saat Ratu Inggris Meminta Restu Khalifah Utsmani untuk Berdagang
Pada tanggal 31 Desember 1600, Ratu Elizabeth I dari Inggris secara resmi mendirikan East Indian Company (EIC), sebuah perusahaan dagang yang kelak menjadi cikal bakal Imperium Britania. Namun, ada satu fakta mengejutkan di balik pendiriannya: piagam kerajaan ini dikeluarkan setelah Ratu Elizabeth I mendapat izin dari Khalifah Utsmaniyah saat itu, Sultan Murad III, cucu dari penguasa legendaris Suleiman Al-Qanuni (Suleiman the Magnificent).
Konteksnya, Kerajaan Inggris pada abad ke-16 sedang berada dalam posisi sulit. Mereka diboikot oleh negara-negara Katolik di Eropa, sehingga jalur perdagangan mereka terhambat. Untuk bertahan, Inggris mencari pasar baru di Dunia Timur yang sebagian besar berada di bawah naungan dan pengaruh Khilafah Utsmaniyah. Ratu Elizabeth I pun menjalin korespondensi dengan Sultan Murad III di Istanbul, meminta izin agar para pedagangnya bisa berniaga dengan aman di wilayah kekuasaan Islam.
Sultan Murad III memberikan izin tersebut dengan sejumlah persyaratan yang sangat jelas. Syarat-syarat ini menegaskan posisi Inggris sebagai mitra, bukan penakluk.
Pihak Inggris akan menjadi mitra baik atau sahabat bagi kepentingan Islam, dan kaum Muslim tidak pernah akan melakukan berbagai pelanggaran syariat di kawasan yang dijelajahi oleh armada Inggris; sekaligus juga jika di antara kaum Muslim di seluruh kekuasaan Utsmaniyah membutuhkan bantuan dari pihak Inggris maka pihak Inggris harus menjadi mitra yang paling awal membantu kepentingan Islam dan kaum Muslim.
Fakta ini terasa sangat ironis jika dibandingkan dengan peran Inggris sebagai kekuatan kolonialis terbesar di kemudian hari. Perjanjian yang awalnya dibangun atas dasar kemitraan dagang dan saling membantu berubah total. Keserakahan para penerus Ratu Elizabeth mengubah EIC dari sekadar perusahaan dagang menjadi alat imperialisme brutal yang menindas bangsa-bangsa di Asia dan Afrika, termasuk di Nusantara.
2. Jejak Napoleon Bonaparte di Jalan Raya Anyer-Panarukan
Pada 2 Desember 1804, Napoleon Bonaparte menobatkan dirinya sebagai Kaisar Prancis di Katedral Notre Dame, Paris. Peristiwa ini menjadi puncak Revolusi Prancis dan menyebarkan ideologi Liberte, Egalite, Fraternite (Kebebasan, Persamaan, Persaudaraan) ke seluruh Eropa. Lalu, apa hubungannya dengan pembangunan jalan raya legendaris di Pulau Jawa?
Kekuasaan Napoleon dengan cepat meluas hingga ke Belanda. Ia kemudian mengangkat adiknya, Louis Bonaparte, sebagai Raja Belanda. Dari sinilah benang merahnya tersambung. Louis Bonaparte menugaskan seorang jenderal pro-Prancis, Herman Willem Daendels, untuk menjadi Gubernur Jenderal di Hindia Belanda (Jawa). Karena kekejamannya, Daendels kelak dikenal oleh masyarakat setempat dengan julukan “Raden Mas Galak”.
Tujuan utama Daendels membangun Jalan Raya Pos (De Grote Postweg) dari Anyer hingga Panarukan ternyata jauh lebih besar dari sekadar jalur transportasi. Jalan ini dirancang untuk beberapa kepentingan strategis kekaisaran Prancis:
- Jalur Ekonomi: Mempercepat pengangkutan sumber daya alam seperti teh dan kopi dari pedalaman Jawa ke pelabuhan untuk menopang perekonomian Prancis.
- Jalur Intelijen: Mempercepat penyebaran informasi dan pergerakan mata-mata untuk memantau aktivitas saingan utama mereka, Inggris, di Asia.
- Jalur Pertahanan: Memudahkan mobilisasi pasukan untuk mempertahankan Jawa dari kemungkinan serangan Inggris.
Sebuah penobatan megah di Paris ternyata memiliki dampak langsung ribuan kilometer jauhnya. Peristiwa di Eropa itu menjadi penyebab lahirnya salah satu proyek kerja paksa paling mematikan dalam sejarah Nusantara, yang jejaknya masih bisa kita saksikan hingga hari ini sebagai Jalan Daendels.
3. Di Balik Pengakuan Kedaulatan Belanda: Sebuah Kemenangan Semu
Tanggal 27 Desember 1949 sering dirayakan sebagai momen “pengakuan kedaulatan” Indonesia oleh Belanda melalui Konferensi Meja Bundar (KMB). Namun, jika ditelaah lebih dalam, peristiwa ini lebih tepat disebut sebagai “penyerahan kedaulatan” dengan syarat, atau bahkan sebuah “pengakuan kekalahan diplomasi” bagi pihak Indonesia.
Narasi heroik seringkali menyembunyikan kompromi pahit yang harus diterima. Berdasarkan hasil KMB, kedaulatan Indonesia yang baru diakui itu sengaja dikerdilkan melalui beberapa poin krusial:
- Pembentukan Republik Indonesia Serikat (RIS): Indonesia tidak menjadi negara kesatuan. Republik Indonesia (RI) yang diproklamasikan pada 1945 dilebur dan hanya menjadi salah satu negara bagian dari RIS, dengan wilayah sebatas Jakarta dan Yogyakarta.
- Pembentukan Uni Indonesia-Belanda: RIS masih terikat dalam sebuah uni atau persemakmuran yang dikepalai oleh Ratu Belanda. Ini menempatkan Indonesia dalam posisi subordinat di bawah Kerajaan Belanda.
- Pengecualian Irian Barat (Papua Barat): Belanda menolak menyerahkan Irian Barat. Status wilayah ini dijanjikan akan dirundingkan kemudian.
Janji Belanda terkait Irian Barat tidak pernah ditepati, dan isu ini menjadi duri dalam daging bagi kedaulatan Indonesia. Puncaknya, pada 19 Desember 1961, Presiden Soekarno mengumandangkan Tiga Komando Rakyat (Trikora) untuk merebut kembali wilayah tersebut. Dalam semangat perjuangan inilah Soekarno mempopulerkan nama “IRIAN”, yang ternyata adalah sebuah akronim penuh semangat perlawanan: “Ikut Republik Indonesia Anti Netherlandia”. Kemenangan di KMB memang diraih, namun kemerdekaan penuh harus terus diperjuangkan dengan darah dan diplomasi bertahun-tahun kemudian.
4. Invasi Mongol dan Trik Cerdik Lahirnya Kerajaan Majapahit
Pada 18 Desember 1271, Kubilai Khan, cucu dari Genghis Khan, secara resmi mendirikan Dinasti Yuan di Tiongkok. Kekuatan baru ini segera berambisi menaklukkan seluruh Asia, termasuk kerajaan-kerajaan di Nusantara. Namun, ambisi besar ini justru secara tidak langsung menjadi katalisator bagi lahirnya salah satu kerajaan terbesar dalam sejarah Indonesia: Majapahit.
Cerita bermula ketika Kubilai Khan mengirim utusannya untuk menuntut upeti dari Raja Kertanegara dari Singosari. Kertanegara menolak mentah-mentah, bahkan mempermalukan utusan tersebut. Murka, Kubilai Khan mengirim armada perang raksasa Tartar Mongol di bawah pimpinan Panglima Sibi untuk menghukum Singosari.
Namun, saat pasukan Tartar Mongol tiba di Jawa, situasi politik telah berubah drastis. Kertanegara sudah tewas dan kerajaannya dihancurkan oleh pemberontakan Jayakatwang dari Kediri. Di tengah kekacauan inilah, Raden Wijaya, menantu Kertanegara yang berhasil lolos, melihat sebuah peluang emas. Ia menjalankan trik politik yang cerdik:
- Bekerja Sama: Raden Wijaya mendekati pasukan Tartar Mongol dan menawarkan aliansi untuk bersama-sama mengalahkan Jayakatwang, musuh bersama mereka.
- Mengalahkan Musuh: Dengan bantuan kekuatan militer Mongol yang superior, Jayakatwang berhasil dikalahkan.
- Serangan Balik: Tepat setelah kemenangan diraih, saat pasukan Tartar Mongol sedang lengah merayakan pesta, Raden Wijaya melancarkan serangan kejutan. Pasukan Tartar Mongol yang tidak mengenal medan dan kelelahan berhasil diusir dari tanah Jawa.
Di atas puing-puing kekuasaan Singosari dan Kediri, dan setelah berhasil memanfaatkan sekaligus mengusir salah satu kekuatan militer terbesar dunia saat itu, Raden Wijaya mendirikan Kerajaan Majapahit. Kisah ini membuktikan bahwa sebuah ancaman invasi besar dari luar justru bisa menjadi pemicu lahirnya sebuah kekuatan baru yang lebih besar dari dalam, berkat kecerdikan dan kelihaian politik para pendiri bangsa di masa lalu.
***
Keempat kisah di atas menunjukkan bahwa sejarah penuh dengan koneksi tak terduga dan narasi yang jauh lebih kompleks dari yang kita bayangkan. Peristiwa di London, Paris, dan Tiongkok ternyata memiliki dampak langsung terhadap takdir Nusantara. Desember, bulan yang sering kita anggap sebagai penutup, ternyata menyimpan begitu banyak permulaan dan titik balik yang membentuk dunia kita hari ini.[]
Disarikan dari kajian dengan tema tersebut di NSTV:
