Peristiwa Isra Mi’raj sering kali direduksi hanya sebagai perjalanan ritual-spiritual personal Nabi Muhammad SAW. Padahal, jika kita menggunakan kacamata Muslim Technology Strategist, peristiwa ini adalah sebuah “ultimate reconnaissance”—penyingkapan strategis bahwa langit adalah domain kekuasaan mutlak yang mengendalikan apa pun yang terjadi di permukaan bumi. Mi’raj bukan sekadar perjalanan menjemput perintah ibadah, melainkan peta jalan kedaulatan bagi umat yang ingin memimpin peradaban.
Langit: Domain Kekuasaan yang Mengendalikan Bumi
Hari ini, kedaulatan sebuah negara tidak lagi hanya dipagari oleh kawat berduri di darat atau kapal patroli di laut. Kedaulatan modern telah berpindah ke angkasa, pada ketinggian ribuan kilometer di atas atmosfer.
Seluruh urat nadi peradaban kita saat ini—mulai dari sistem navigasi GPS, sinkronisasi waktu perbankan, komunikasi lintas pulau, hingga sistem pertahanan—bergantung sepenuhnya pada infrastruktur di langit. Siapa pun yang mendominasi orbit dan spektrum elektromagnetik, secara otomatis memegang kendali atas nasib bangsa lain. Mengabaikan sains antariksa di abad ke-21 sama saja dengan membiarkan leher kedaulatan kita terbuka untuk dicengkeram oleh kekuatan global.
Operasi 18 Menit di Venezuela: Anatomi Pelumpuhan Kedaulatan
Realitas pahit mengenai ketergantungan teknologi ini terlihat nyata dalam operasi intelijen asing terhadap Presiden Venezuela, Nicolas Maduro. Hanya dalam jendela waktu 12 hingga 18 menit, sebuah negara bisa lumpuh total tanpa perlu satu pun tentara asing menginjakkan kaki di tanah mereka.
Bagaimana sebuah kedaulatan diruntuhkan dalam belasan menit? Rahasianya adalah pelumpuhan sistem radar melalui teknik jamming. Pesawat pengacau sinyal terbang tinggi, memancarkan frekuensi yang identik dengan radar pertahanan Venezuela hingga keduanya saling mematikan. Radar menjadi buta, komunikasi terputus, dan koordinasi militer di darat hancur seketika. Helikopter operasi asing pun masuk ke jantung istana tanpa terdeteksi.
Namun, teknologi hanyalah alat. Kegagalan di Venezuela juga dipicu oleh runtuhnya “human-ware”—integritas manusia. Muncul laporan adanya penyogokan sebesar $10 juta terhadap pengawal ring satu untuk berkhianat. Kedaulatan teknopolitik menuntut dua hal: kecanggihan alat dan kemuliaan akhlak.
“Teknologi tanpa iman digunakan untuk menjajah secara sistemik. Penjajahan masa kini tidak perlu fisik; cukup dengan mematikan radar atau memanipulasi informasi melalui teknologi yang mereka kendalikan.” — Prof. Fahmi Amhar
Saklar Kedaulatan yang Berada di Luar Negeri
Dunia saat ini terbagi secara tajam dalam hierarki penguasaan ruang angkasa:
- Independent Space-faring: Negara yang mandiri sepenuhnya dalam teknologi langit (AS, Rusia, dan Cina). Mereka memiliki konstelasi satelit navigasi sendiri seperti GLONASS (Rusia) dan Beidou (Cina).
- Space-faring: Negara yang memiliki kemampuan antariksa namun masih bergantung pada komponen atau teknologi dasar luar (seperti Jepang, Iran, atau Brazil).
- Emerging Space: Negara yang baru memulai dan memiliki lembaga antariksa namun masih sangat tergantung pada pihak lain (seperti Indonesia).
Risiko terbesar bagi negara emerging adalah fenomena backdoor (pintu belakang) teknologi. Meskipun kita memiliki satelit, jika teknologinya buatan asing, produsen aslinya memegang saklar kedaulatan kita. Mereka membedakan antara C/A Code (akses sipil yang bisa mereka ganggu atau matikan sewaktu-waktu) dan Precision Code (P-Code) yang hanya untuk kepentingan militer mereka sendiri. Secara hukum kita merdeka, namun secara operasional, saklar kita ada di tangan asing.
Belajar dari Iran: Menggunakan Jamming sebagai Perisai
Contoh menarik mengenai kedaulatan teknologi terjadi di Iran. Saat Elon Musk menawarkan layanan Starlink secara gratis untuk memicu pergerakan internal di Iran, pemerintah Iran tidak menyerang satelitnya, melainkan melakukan jamming pada sinyal GPS.
Mengapa GPS? Karena terminal Starlink membutuhkan sinkronisasi waktu dan posisi dari GPS untuk bekerja. Dengan mengacaukan spektrum di wilayah mereka, terminal tersebut hanya memunculkan pesan “GPS Error/Low Signal”. Inilah bukti bahwa penguasaan sains memungkinkan sebuah negara melakukan tindakan defensif yang cerdas tanpa harus terlibat perang fisik yang menghancurkan.
Menyiapkan Kekuatan (Al-Anfal 60): Perintah “Deterrence”
Islam tidak pernah memisahkan antara ibadah dan persiapan kekuatan. Dalam Surat Al-Anfal ayat 60, Allah memerintahkan umat untuk mempersiapkan kekuatan (min quwwah) yang bertujuan untuk turhibun (deterrence atau menggentarkan musuh).
Di abad ke-7, itu mungkin berarti kuda-kuda perang. Namun di abad ke-21, perintah ini secara kontekstual berarti penguasaan teknologi cyber, satelit, dan AI. Menyiapkan kekuatan bukan untuk menjadi agresor, melainkan untuk membangun daya tawar strategis agar musuh berpikir seribu kali sebelum “mematikan saklar” kedaulatan kita. Menguasai sains adalah bagian dari ketakwaan, bukan sekadar urusan duniawi.
Shalat sebagai Sistem: Melawan Kemungkaran Sistemik
Puncak dari Mi’raj adalah perintah shalat. Namun, shalat yang kaffah harus ditransformasikan dari sekadar ritual individu menjadi sebuah nizham (sistem). Merujuk pada surah Al-Hajj ayat 41, terdapat empat pilar bagi mereka yang diberi tamkin (otoritas/kekuasaan) di bumi:
- Aqamus-Shalah: Fondasi spiritual dan moral publik yang kokoh.
- Aatuz-Zakah: Keadilan ekonomi dan distribusi kesejahteraan.
- Amru bil Ma’ruf: Kebijakan publik yang berbasis pada nilai kebenaran.
- Nahi ‘anil Munkar: Penegakan hukum dan perlindungan rakyat dari kezaliman.
Kemungkaran masa kini bersifat sistemik, seperti genosida di Gaza atau rencana pemindahan paksa populasi melalui kebijakan politik global (seperti “Plan 20”). Shalat sebagai sistem berarti menjadikan nilai-nilai Ilahi sebagai rujukan dalam melindungi rakyat dari eksploitasi oligarki domestik maupun tekanan imperialisme asing.
Sinergi Iman & Kekuatan: “Science without values cause oppression. Faith without strength creates vulnerability.”
***
Mengintegrasikan Iman, Ilmu, dan Kekuasaan
Isra Mi’raj memberikan peta jalan peradaban: langit harus didekati dengan ilmu pengetahuan, sementara bumi harus diatur dengan nilai-nilai shalat.
Tanpa sains, umat Islam akan terus menjadi bulan-bulanan kekuatan global yang memegang kendali teknologi. Namun tanpa shalat (nilai moral), penguasaan teknologi hanya akan melahirkan penindasan baru. Kedaulatan sejati lahir saat kita mampu mengintegrasikan iman, ilmu, dan kekuasaan untuk merahmati semesta.
Pertanyaan Reflektif: Sudahkah kita menempatkan penguasaan teknologi sebagai bagian dari “shalat” dan pengabdian kita, ataukah kita masih merasa cukup dengan doa saja sementara “saklar” kedaulatan bangsa ini masih digenggam oleh tangan bangsa lain?[]
Disarikan dari kajian dengan tema tersebut di NSTV:
