Ilmu yang Paling Berpengaruh di Muka Bumi
Ilmu apakah yang paling berpengaruh terhadap kehidupan umat manusia di atas permukaan bumi ini? Di antara sekian banyak cabang ilmu pengetahuan—mulai dari fisika, kimia, hingga biologi—jawabannya mungkin akan mengejutkan Anda: ilmu ekonomi. Argumennya sederhana namun kuat: nasib miliaran manusia, seakan-akan hidup dan matinya, ditentukan oleh ilmu ini.
Boleh dikatakan ilmu ekonomi dapat dianggap sebagai ilmu yang paling bertanggung jawab terhadap nasib jutaan umat manusia di bumi ini. Nasibnya ditentukan oleh ilmu ekonomi.
Namun, bagaimana mungkin sebuah ilmu yang terdengar rumit ini bisa begitu kuat? Jawabannya ada di sekitar kita, dalam setiap aspek kehidupan kita sehari-hari.
Jejak Ekonomi dalam Keseharian Anda
Teori dan kebijakan ekonomi bukanlah konsep abstrak yang hanya ada di buku teks (text book). Keduanya adalah kekuatan nyata yang secara langsung memengaruhi kehidupan Anda dan keluarga.
Harga Makanan di Meja Makan
Ilmu ekonomi menentukan bagaimana aliran makanan didistribusikan ke seluruh dunia. Hal ini menciptakan sebuah keanehan: stok pangan bisa saja melimpah ruah, namun di belahan bumi lain, manusia bisa mengalami kelaparan. Ini bukan karena kegagalan ilmu pertanian, melainkan karena sistem distribusi ekonomi yang bermasalah.
Contoh nyata yang pernah kita alami di Indonesia adalah saat krisis moneter tahun 1997-1998. Stok beras di pasar masih ada, pedagangnya ada, dan pembelinya pun ada. Namun, karena guncangan ekonomi, harga bahan pokok melonjak secara gila-gilaan dalam hitungan hari.
Harga beras saat itu bisa berlarian dalam hitungan hari. Dari yang semula harganya Rp500 per kilo tiba-tiba besoknya bisa menjadi Rp1.000 per kilo. Besoknya lagi menjadi Rp1.500 per kilo. Besoknya bisa menjadi Rp2.000 per kilo.
Fenomena ini menunjukkan betapa rentannya akses kita terhadap kebutuhan paling dasar di hadapan keputusan-keputusan ekonomi.
Gaji yang Anda Terima dan Pekerjaan yang Tersedia
Nasib jutaan buruh pabrik yang setiap hari membanting tulang juga ditentukan oleh ilmu ekonomi. Konsep upah yang mereka terima sering kali dihitung berdasarkan Kebutuhan Fisik Minimum (KFM). Pertanyaannya adalah, apakah upah yang hanya cukup untuk bertahan hidup secara fisik ini layak untuk mencapai kehidupan yang sejahtera?
Lebih jauh lagi, ketersediaan lapangan kerja itu sendiri bergantung pada keputusan ekonomi di tingkat negara. Sebuah pabrik yang besar dengan mesin yang canggih bisa saja berhenti berproduksi jika pasokan bahan bakunya terhenti. Keputusan apakah pasar harus diproteksi atau dibuka secara bebas—yang merupakan teori dalam ilmu ekonomi—pada akhirnya menentukan apakah jutaan orang akan tetap memiliki pekerjaan atau tidak.
Jika dampaknya begitu besar pada tingkat pribadi, bayangkan apa yang bisa terjadi ketika sistem ekonomi sebuah negara, atau bahkan dunia, mengalami guncangan.
Ketika Raksasa Ekonomi Tumbang: Kisah Dua Krisis Dunia
Sejarah modern telah menunjukkan betapa dahsyat dan cepatnya daya rusak dari sistem ekonomi. Dua krisis besar menjadi bukti nyata bagaimana kekayaan sebuah negara bisa lenyap dalam sekejap.
|
Peristiwa Krisis |
Dampak Nyata pada Manusia |
| Krisis Moneter Asia (1997-1998) | Negara-negara yang sebelumnya dipuji sebagai “Macan Asia”, termasuk Indonesia, tiba-tiba hancur dalam hitungan bulan. Di Thailand, sebagai sumber utama badai ekonomi ini, situasinya lebih mengerikan. Fenomena yang terjadi sangat nyata: para eksekutif dan bos-bos besar yang terbiasa hidup mewah dengan mobil dan jas mahal, dalam sekejap kehilangan segalanya dan terpaksa menjadi pedagang kaki lima untuk bertahan hidup. |
| Krisis Subprime Mortgage (2008) | Negara adidaya ekonomi seperti Amerika Serikat, Eropa, dan Jepang hancur berantakan dalam waktu yang sangat singkat. Kekayaan miliaran dolar dalam bentuk saham dan sekuritas yang dimiliki orang-orang kaya raya tiba-tiba tidak ada harganya sama sekali. Kertas-kertas berharga itu nilainya lenyap dalam hitungan detik, membuat mereka jatuh miskin secara mendadak. |
Krisis yang terjadi berulang kali ini memunculkan pertanyaan mendasar: Mengapa sebuah ilmu yang seharusnya menyejahterakan justru memiliki daya rusak yang begitu cepat dan dahsyat?
Akar Masalah: Saat Ekonomi Kehilangan Sisi Kemanusiaannya
Kritik utama terhadap ilmu ekonomi modern terletak pada pergeseran fundamental dalam pendekatannya, yang membuatnya semakin jauh dari fitrah manusia.
- Pergeseran Identitas: Ilmu ekonomi, yang akarnya adalah ilmu sosial, telah memaksakan diri menjadi seperti ilmu eksakta yang kaku, setara dengan fisika atau kimia. Pendekatannya menjadi “sangat matematis”, dipenuhi dengan rumus-rumus integral dan diferensial. Akibatnya, ia sulit diidentifikasi: apakah ini masih ilmu sosial, atau sudah menjadi ilmu pasti? Jenis kelaminnya seakan tidak lagi jelas. Persoalan kemanusiaan yang kompleks coba diselesaikan dengan hitungan kaku yang kosong dari sentuhan kasih sayang dan kepedulian.
- Asumsi yang Keliru: Ekonomi modern dibangun di atas asumsi “Homo Economicus”, yaitu anggapan bahwa manusia adalah makhluk yang perilakunya selalu didorong oleh motif ekonomi semata (untung-rugi). Asumsi ini terbukti sangat rapuh. Pernah ada kisah seorang guru ekonomi saat masih muda, pengalamannya saat kuliah S1 di jurusan Sosial Ekonomi Pertanian. Beliau bersama rekan-rekannya ditugaskan untuk melakukan riset langsung ke para petani, menghitung pendapatan dan pengeluaran mereka dalam setahun. Hasilnya mencengangkan: menurut hitungan matematis, pendapatan para petani itu “minus” atau “negatif”. Secara teori, mereka seharusnya tidak bisa hidup. Namun kenyataannya, mereka hidup dengan “nyaman”, “tentram”, dan “bahagia”. Rahasianya? Kehidupan mereka tidak bisa diukur dengan rumus. Saat ditanya bagaimana mereka makan jika tak ada lauk, jawabannya adalah, “Kami masih punya ayam untuk dipelihara.” Jika sayur tak ada, “Kami menanam di pekarangan.” Selain itu, ada tradisi kenduri (selamatan) dari tetangga yang menjadi penyambung hidup. Fenomena ini membuktikan bahwa ada motif lain yang lebih kuat dari sekadar hitungan ekonomi, seperti kepedulian, kasih sayang, dan bahkan dimensi peribadatan.
Dengan mengenali keterbatasan ini, kita akan sampai pada sebuah persimpangan jalan yang penting.
Saatnya Membuka Cakrawala Baru
Semua fakta di atas menggiring kita pada sebuah pertanyaan besar: “Apakah ilmu ekonomi yang ada pada saat ini telah berhasil menyejahterakan kehidupan umat manusia di atas muka bumi?”
Kegagalan yang berulang dan krisis yang semakin sering terjadi menunjukkan bahwa ada yang salah secara fundamental. Sebagai respons, muncul upaya untuk mengeksplorasi cara pandang alternatif. Salah satunya adalah gagasan yang disebut “Mazhab Hamfara”. Nama ini merupakan singkatan dari kalimat dalam Alquran yang diucapkan Nabi Sulaiman saat menerima karunia luar biasa: “Hadza min fadli Rabbi (ini adalah karunia dari Tuhanku).” Penamaan ini menegaskan bahwa sistem ini digali langsung dari Alquran dan Sunnah, bukan sekadar “islamisasi ekonomi konvensional”. Ini adalah sebuah pandangan yang memandang ekonomi sebagai karunia Ilahi, bukan sekadar mesin hitung.
Ini bukanlah akhir dari cerita, melainkan awal dari sebuah pencarian penting untuk menemukan sistem yang benar-benar memanusiakan manusia dan membawa kesejahteraan sejati.[]
Disarikan dari kajian dengan tema tersebut di NSTV:
