Membaca Zaman yang Penuh Gejolak
Dunia modern dipenuhi dengan gejolak, kekacauan, dan ketidakpastian yang sering kali membuat kita bingung. Di tengah arus informasi yang deras dan krisis global yang silih berganti, muncul sebuah pertanyaan mendasar: adakah sebuah peta atau petunjuk untuk memahami era yang sedang kita jalani ini?
Ternyata, Nabi Muhammad SAW telah memberikan sebuah “peta zaman” melalui hadits-nya. Peta ini memetakan fase-fase kepemimpinan umat Islam dari masa kenabian hingga akhir zaman, memberikan kita kerangka untuk memahami di mana posisi kita saat ini dan ke mana sejarah akan bergerak. Mari kita telusuri peta ini untuk menemukan di fase mana kita hidup sekarang.
Era “Mulkan Jabriyyatan”: Sebuah Fase Pemerintahan Tiran yang Diramalkan
Berdasarkan hadits sahih yang diriwayatkan dari Hudzaifah Ibnul Yaman, Nabi Muhammad SAW memetakan sejarah kepemimpinan umat Islam ke dalam lima fase. Fase pertama adalah era Kenabian (Nubuwwah), diikuti oleh fase kedua, Kekhilafahan di atas metode kenabian (Khilafah ‘ala Minhajin Nubuwwah) yang dipimpin oleh para Khulafa ar-Rasyidin. Fase ketiga adalah era kerajaan yang “menggigit” (Mulkan ‘Adhan), yang berlangsung dari masa Bani Umayyah hingga Utsmaniyah, di mana sistem Islam secara umum masih tegak namun terkadang diwarnai oleh kezaliman individu penguasa. Setelah itu, hadits tersebut menubuatkan datangnya fase keempat, sebuah era yang disebut Mulkan Jabriyyatan—era Pemerintahan yang Memaksa atau Tiran—yang menurut para ulama adalah fase yang sedang kita jalani saat ini.
Karakteristik utama fase Mulkan Jabriyyatan ini digambarkan sebagai era yang lebih buruk dari sebelumnya. Ia adalah sebuah sistem pemerintahan yang ditegakkan secara paksa dan melawan kehendak rakyat, sebuah kondisi yang digambarkan dalam hadits sebagai yatimu jabaran waragman an-nas. Era ini ditandai dengan tersebarnya kerusakan (fasad) yang masif, di mana khamar (minuman keras) dan prostitusi dilegalkan, serta pertumpahan darah menjadi hal yang biasa. Menurut penafsiran para ulama, fase ini dimulai setelah runtuhnya Khilafah Utsmaniyah pada tahun 1924, yang membuka jalan bagi dominasi kekuatan global seperti kapitalisme dan komunisme di panggung dunia.
Sebuah hadits lain menggambarkan betapa suramnya gambaran era ini, yang sangat selaras dengan ciri-ciri Mulkan Jabriyyatan:
“Tidaklah terjadi hari kiamat melainkan muka bumi akan penuh dengan kezaliman dan permusuhan.”
Deskripsi ini terasa sangat relevan dengan berbagai krisis yang kita saksikan hari ini, mulai dari peperangan, genosida, hingga ketidakadilan sistemik yang merajalela di berbagai belahan dunia.
Akar Masalahnya: Terurainya “Ikatan” Pemerintahan dalam Islam
Peralihan ke fase Mulkan Jabriyyatan yang penuh kezaliman ini bukanlah sebuah kebetulan. Nabi Muhammad SAW telah memprediksi akar masalahnya dalam sebuah hadits lain yang sangat penting, yang berbunyi: “latunqadanna ‘ural Islam ‘urwatan ‘urwatan (Sungguh benar-benar ikatan-ikatan Islam akan terurai satu per satu).”
Secara linguistik, hadits ini menggunakan penekanan berlapis melalui huruf lam dan nun taukid asaqilah, yang menandakan sebuah kepastian mutlak. Lebih dari itu, penggunaan kata kerja pasif tunqadu (terurai) menyiratkan bahwa ikatan-ikatan Islam ini tidak terlepas dengan sendirinya, melainkan ada pihak-pihak yang secara aktif melepaskannya. Hadits ini adalah sebuah peringatan agar umat tidak ikut serta dalam proses tersebut. Poin paling krusial adalah urutan terurainya ikatan tersebut: ikatan pertama yang lepas adalah urusan pemerintahan (al-hukmu), dan yang terakhir adalah salat (as-shalah).
Hilangnya ikatan al-hukmu ini secara historis terkonfirmasi dengan runtuhnya Khilafah Utsmaniyah pada tahun 1924. Peristiwa inilah yang menjadi pintu gerbang masuknya umat ke dalam era Mulkan Jabriyyatan. Dengan menyandingkan pemerintahan (al-hukmu) dengan salat, hadits ini menunjukkan bahwa urusan kepemimpinan adalah bagian fundamental dari ajaran Islam, bukan sekadar urusan duniawi yang terpisah dari agama. Ini membantah pandangan sempit bahwa Islam hanya mengatur ibadah pribadi.
Akhir dari Sebuah Era: Harapan Kembalinya Keadilan
Setelah memaparkan fase-fase suram, peta zaman dari Nabi ini memberikan kabar gembira (bisyarah) yang menjadi secercah harapan. Beliau menjanjikan akan datang fase kelima dan terakhir, yaitu kembalinya Khilafah ‘ala Minhajin Nubuwwah (Kekhilafahan yang mengikuti metode kenabian). Era ini digambarkan sebagai antitesis atau kebalikan total dari Mulkan Jabriyyatan.
Kontrasnya sangat tajam: jika era kita saat ini dipenuhi dengan dzulman wa ‘udwanaan (kezaliman dan permusuhan), maka era yang dijanjikan akan dipenuhi dengan qisthan wa ‘adlan (keseimbangan hidup dan keadilan). Menurut penjelasan para ulama, para pemimpin di era keemasan ini di antaranya adalah Imam Al-Mahdi dan Nabi Isa bin Maryam. Kembalinya sistem yang adil ini bukanlah sebuah utopia atau angan-angan, melainkan sebuah janji pasti dari Nabi Muhammad SAW yang disebutkan secara eksplisit dalam sebuah hadits sahih.
“…kemudian akan keluar salah seorang dari ahli baitku atau anak keturunanku yang memenuhi muka bumi dengan keseimbangan hidup dan keadilan, sebagaimana muka bumi sebelumnya penuh dengan kezaliman dan permusuhan.”
Panggilan untuk Menjadi Generasi Pejuang
Mengetahui peta zaman ini bukanlah alasan untuk menjadi pasif dan hanya menunggu datangnya pertolongan. Jika hilangnya sunnah dalam pemerintahan (al-hukmu) adalah akar masalahnya, maka berpegang teguh pada sunnah tersebut adalah awal dari solusinya. Sejarah Islam mengajarkan bahwa Nabi dan para sahabatnya tidak pernah diam. Mereka adalah generasi pejuang yang berjuang tanpa lelah untuk menegakkan Islam secara kaffah (menyeluruh).
Nabi Muhammad SAW secara tegas memerintahkan kita untuk mengikuti jejak langkah kepemimpinan mereka melalui sabdanya: “Alaikum bisunnati wa sunnatil khulafa’ ar-rasyidin“ (Hendaklah kalian berpegang teguh kepada sunnah-ku dan sunnah para Khulafa ar-Rasyidin). “Sunnah” dalam konteks ini tidak hanya mencakup ibadah ritual, tetapi juga sunnah dalam memimpin dan mengatur urusan umat. Oleh karena itu, umat Islam hari ini memiliki peran penting untuk mempersiapkan jalan bagi kembalinya era keadilan tersebut, bukan menyerah pada kondisi Mulkan Jabriyyatan yang destruktif.[]
Disarikan dari kajian dengan tema tersebut di NSTV:
