Di Balik Istilah yang Menenangkan
Gagasan “Kurikulum Berbasis Cinta” (KBC) yang digulirkan oleh Kementerian Agama sekilas terdengar positif dan menenangkan. Istilah “cinta” membawa kesan yang damai dan humanis; sebuah pendekatan yang seolah dibutuhkan di tengah berbagai konflik saat ini. Namun, sebuah pertanyaan mendasar perlu diajukan: Apakah konsep “cinta” yang ditawarkan ini benar-benar selaras dengan pandangan akidah Islam? Setidaknya ada empat poin kritis dari Kurikulum Berbasis Cinta berdasarkan perspektif Islam, untuk memahami substansi di balik nama yang indah tersebut.
[#1] – Fondasi Utamanya Bukan Akidah, Melainkan Humanisme Sekuler
Analisis kritis terhadap KBC harus dimulai dari fondasinya, karena di sinilah letak pergeseran paradigmatik yang paling berbahaya: dari akidah Islam menuju humanisme sekuler. Berdasarkan buku panduannya, kurikulum ini dibangun untuk mengatasi fenomena “dehumanisasi” dengan landasan “humanisme” dan berprinsip pada “humanity is only one” (kemanusiaan itu hanya satu).
Humanisme bukanlah konsep yang netral. Ia adalah sebuah filsafat yang menjadikan manusia—bukan wahyu—sebagai standar penentu baik dan buruk, yang secara inheren menyingkirkan peran agama dari kehidupan publik (sekularisme) dan melahirkan pluralisme.
Hal ini bertentangan secara diametral dengan kurikulum dalam Islam, yang wajib berlandaskan pada akidah Islam. Dalam pendidikan Islam, semua materi pembelajaran, metode, hingga tujuan akhir tidak boleh sedikit pun bertentangan dengan akidah. Perbedaan fondasi ini sangat fundamental dan krusial. Fondasi humanisme yang rapuh inilah yang kemudian melahirkan distorsi pertama pada pilar utama iman: konsep cinta kepada Tuhan.
[#2] – Konsep “Cinta kepada Tuhan” Ternyata Tidak Spesifik kepada Allah SWT
Salah satu poin dalam KBC adalah “membangun cinta kepada Tuhan,” yang secara sepintas terdengar sangat Islami. Namun, setelah ditelaah, konsep “Tuhan” yang diusung bersifat umum dan tidak spesifik merujuk kepada Allah SWT. Konsep yang kabur ini membuka ruang bagi gagasan pluralisme, yaitu anggapan bahwa semua agama pada dasarnya sama dan menuju Tuhan yang sama.
Ini berbeda total dengan konsep cinta dalam Islam. Cara mencintai Allah SWT telah diatur secara spesifik dan tidak bisa ditafsirkan secara bebas. Allah SWT berfirman:
“Katakanlah (Muhammad), ‘Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihimu…'” (QS. Ali ‘Imran: 31)
Ayat ini menegaskan bahwa bukti cinta seorang hamba kepada Allah adalah dengan mengikuti sunnah Rasulullah SAW secara totalitas. Mengikuti sunnah beliau bukan sekadar ritual ibadah personal, melainkan mencakup metode dakwah untuk menyeru manusia kepada tauhid (umirtu an uqatilan-nas hatta yasyhadu an la ilaha illallah), bahkan hingga mempertahankan Islam dari pihak yang memeranginya. Konsep cinta yang aktif dan berprinsip ini sangat bertolak belakang dengan konsep “cinta” pasif dan pluralistik yang diisyaratkan oleh KBC.
Ketika konsep “cinta kepada Tuhan” dikaburkan, maka konsep “cinta kepada sesama manusia” pun kehilangan standar kebenarannya, dan justru dapat berubah menjadi bentuk pengkhianatan.
[#3] – “Cinta kepada Sesama Manusia” Bisa menjadi Cinta Palsu jika Membiarkan Kekufuran
KBC juga mengusung poin “membangun cinta kepada sesama manusia apapun agamanya”. Dari perspektif Islam, bentuk cinta tertinggi kepada sesama manusia adalah menginginkan keselamatan abadi bagi mereka (dengan Islam) dan melindungi mereka dari bahaya terbesar (kekufuran). Membiarkan seseorang tetap dalam kekufuran atas nama toleransi atau cinta justru merupakan bentuk “cinta yang palsu” dan berbahaya, yang mengutamakan harmoni duniawi yang semu di atas keselamatan akhirat yang hakiki.
Landasan argumen ini sangat kokoh, karena Allah SWT sendiri menegaskan sikap-Nya terhadap kekufuran:
“…jika kamu kafir maka sesungguhnya Allah tidak memerlukan (iman)mu dan Dia tidak meridai kekafiran bagi hamba-Nya…” (QS. Az-Zumar: 7)
Jika Sang Pencipta sendiri tidak rida terhadap kekufuran, bagaimana mungkin manusia bisa rida dan membiarkannya atas nama cinta? Analogi sederhananya, seorang ayah yang mencintai anaknya tidak akan membiarkan sang anak bermain di dekat sumur berbahaya hanya demi “toleransi” pada keinginan si anak. Ia pasti akan menyelamatkannya, karena itulah wujud cinta yang sebenarnya. Membiarkan kekufuran atas nama cinta adalah pengkhianatan terhadap hakikat cinta itu sendiri.
[#4] – Pendidikan Islam Sejati Mengantarkan pada Ma’rifatullah, Bukan Merayakan Perbedaan Keyakinan
Tujuan akhir dari seluruh kurikulum pendidikan dalam Islam adalah untuk mengantarkan peserta didik pada ma’rifatullah (mengenal Allah). Setiap cabang ilmu pengetahuan seharusnya menjadi sarana untuk memperkuat keimanan.
Pelajaran biologi tentang kompleksitas penciptaan manusia seharusnya membawa kita merenungi firman-Nya, “Wa fī anfusikum, afalā tubṣirūn (Dan pada dirimu sendiri, maka apakah kamu tidak memperhatikan?)” Pelajaran geografi dan kosmologi tentang keteraturan alam semesta seharusnya mengantarkan pada kesimpulan yang sama, sebagaimana firman-Nya, “Inna fī khalqis-samāwāti wal-arḍi… la’āyātil li’ulil-albāb (Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi… terdapat tanda-tanda kebesaran Allah bagi orang yang berakal).” Semua ilmu mengarah pada satu titik: pengenalan akan Sang Pencipta.
Ini sangat berbeda dengan KBC yang berakar pada humanisme. Alih-alih mengantarkan pada ma’rifatullah, fondasi ini justru berpotensi besar mengarah pada pengajaran konsep yang merusak akidah seperti pluralisme. Gagasan bahwa “semua agama sama menuju Tuhan yang sama” adalah sebuah konsep absurd yang tidak memiliki realita. Kurikulum Islam yang sejati tidak akan pernah menyuburkan kekufuran, melainkan mengajak seluruh manusia kepada tauhid sebagai bentuk rahmat tertinggi bagi seluruh alam.
***
Fondasi Menentukan Arah
Pada akhirnya, “Kurikulum Cinta” menjadi studi kasus tentang bagaimana sebuah istilah yang indah dapat digunakan untuk membungkus agenda yang mengikis fondasi akidah. Ini bukan lagi sekadar perdebatan tentang metode pendidikan, melainkan tentang pertarungan mempertahankan jiwa dan arah generasi masa depan. Pertanyaannya bukan lagi apakah kurikulum ini baik, tetapi: jika fondasi akidah telah diganti, bangunan peradaban seperti apa yang sebenarnya sedang kita wariskan?[]
Disarikan dari kajian dengan tema tersebut di NSTV:
