Baitul Maqdis bukan sekadar titik koordinat di peta Timur Tengah; ia adalah detak jantung peradaban yang getarannya merambat hingga ke ufuk Timur. Bagi masyarakat Indonesia, hubungan dengan Palestina sering kali dianggap sebagai buah dari solidaritas politik modern atau empati kemanusiaan semata. Namun, jika kita menyelami arus bawah sejarah, kita akan menemukan bahwa antara tanah para nabi dan tanah Jawa telah terjalin ikatan darah, intelektual, dan strategi perang yang sudah berakar ratusan tahun sebelum proklamasi 1945 dikumandangkan.
Ini bukanlah cerita tentang dua bangsa yang asing satu sama lain. Ini adalah kisah tentang satu napas spiritual yang melintasi samudra, sebuah frekuensi yang telah disetel sejak era keemasan Islam di Nusantara.
Gaza: Rahim Intelektual Nusantara
Jika Anda bertanya mengapa Muslim Indonesia merasa begitu dekat dengan masyarakat Gaza, jawabannya tersimpan dalam DNA teologis yang sama. Secara mengejutkan, mayoritas penduduk Gaza dan Muslim Nusantara menganut mazhab yang identik: Mazhab Imam Muhammad bin Idris As-Syafi’i.
Imam As-Syafi’i tidak lahir di gurun pasir yang jauh, melainkan di tanah Gaza, Palestina. Pemikiran beliau yang kokoh menjadi fondasi utama keberislaman di Nusantara. Kesamaan mazhab ini menciptakan sebuah jembatan spiritual yang membuat narasi perjuangan Palestina selalu terasa sangat personal bagi kita. Kita tidak hanya berbagi empati; kita menghirup napas pemikiran dari rahim intelektual yang sama di Gaza.
Putra Baitul Maqdis di Balik Telik Sandi Majapahit
Narasi sejarah kita sering kali luput mencatat bahwa tokoh sentral penyebar Islam di Jawa bukanlah orang asing bagi Palestina. Mari kita bicara tentang Jafar Shadiq Azmatkhan, atau yang lebih dikenal sebagai Sunan Kudus. Beliau lahir di Baitul Maqdis pada 9 September 1400. Beliau adalah “putra kandung” tanah suci tersebut yang membawa misi besar ke tanah Jawa.
Namun, sisi yang lebih provokatif ada pada sosok ayahnya, Maulana Utsman Haji atau Sunan Ngudung. Beliau bukan sekadar ulama, melainkan seorang ahli strategi militer dan intelijen dari Palestina. Dalam konteks geopolitik masa itu, Sunan Ngudung merupakan pelatih bagi pasukan elite Senapati Bayangkari dan para Telik Sandi (agen rahasia) di Keraton Trowulan, Majapahit.
Keterlibatan ini bukanlah kebetulan. Setelah jatuhnya Baghdad ke tangan Mongol pada 1258, diaspora ulama dan ksatria dari wilayah Syam mulai mencari perlindungan sekaligus menyebarkan pengaruh ke Timur. Pada tahun 1267, delegasi Daulah Mamlukiyah yang dipimpin Laksamana Najmuddin Al-Kamil telah tiba di Samudra Pasai untuk membangun aliansi strategis. Di sinilah akar “Nyamaslam”—60 ksatria Majapahit yang berislam—mulai terbentuk di bawah bimbingan para amirul jihad dari Palestina.
Al-Quds di Jawa: Arsitektur Rindu Sang Wali
Saat Sunan Kudus membangun pusat peradabannya di Jawa Tengah, ia tidak sekadar mendirikan kota; ia sedang merekonstruksi memori tanah kelahirannya. Atas perintah Sultan Demak untuk membangun kota baru, Sunan Kudus menamakan wilayah tersebut Al-Quds (Kudus), mengambil nama langsung dari kota suci Baitul Maqdis.
Ia membangun Masjid Al-Aqsa di jantung Jawa, lengkap dengan menaranya yang ikonik sebagai bentuk akulturasi yang melambangkan kejayaan Islam. Bahkan bentang alam sekitarnya pun diselaraskan; perbukitan di sana dinamai Bukit Muria, yang diambil dari kata Amuriah atau Bukit Munirah yang ada di Baitul Maqdis.
“Pembangunan Kota Kudus dengan masjid dan menaranya adalah upaya sadar untuk memindahkan atmosfer kesucian Baitul Maqdis ke jantung tanah Jawa, menjadikannya miniatur tanah suci yang menjadi mercusuar bagi masyarakat Nusantara.”
Gema Suara Dukungan tanpa Syarat
Lompat ke abad ke-20, saat Indonesia masih berstatus sebagai janji di atas kertas, Palestina adalah entitas pertama yang meneriakkan pengakuan kedaulatan kita ke seluruh dunia. Pada September 1944, Imam Muhammad Amin Al-Husaini, Mufti Besar Palestina, menyiarkan dukungan kuat bagi kemerdekaan Indonesia melalui stasiun radio di Berlin dan seluruh Timur Tengah.
Dukungan ini bukan sekadar retorika. Seorang pengusaha dan bangsawan Palestina, Muhammad Thahir Ali, mendonasikan kekayaannya yang sangat besar untuk membiayai perjuangan diplomatik para pemimpin Republik. Di saat dunia internasional masih bersikap apatis, Palestina—melalui darah dan hartanya—telah menjadi bidan yang membantu kelahiran Republik Indonesia.
Diplomasi Harga Diri: Menolak Zionisme di Panggung Bandung
Prinsip “hutang budi” sejarah ini dijaga ketat oleh duet Soekarno-Hatta. Pada Konferensi Asia Afrika (KAA) 1955 di Bandung, Indonesia menunjukkan taring geopolitiknya dengan menolak keras kehadiran perwakilan Zionis Yahudi Israel “Si Rewel”. Meskipun mendapat tekanan dari pihak Barat, Indonesia tetap konsisten memandang entitas tersebut sebagai agresor dan ekspansionis.
Sebagai gantinya, Indonesia memberikan panggung kehormatan kepada Imam Muhammad Amin Al-Husaini. Sang Mufti Besar berjalan kaki dari Yayasan Assalam menuju gedung KAA, disambut sebagai tamu agung negara.
“Selama hak bangsa Palestina tidak dikembalikan sebagaimana mestinya, maka sampai kapan pun bangsa Indonesia tidak akan pernah membuka hubungan diplomatik atau mengakui negara Zionis tersebut.” — Prinsip teguh diplomasi Bung Karno.
Ashabul Jawiyah: Nubuat Pembebas dari Ujung Timur
Ada satu dimensi yang lebih mendalam dari sekadar politik: dimensi eskatologis. Dalam literatur sejarah dan nubuat yang dipercayai oleh banyak Muslim Palestina, terdapat konsep tentang Ashabul Jawiyah (Bangsa Jawi) yang berasal dari Biladil Masriq atau Wilayah Timur.
Bagi Muslim Palestina hari ini, Indonesia bukan sekadar donor bantuan kemanusiaan. Dalam doa-doa yang dipanjatkan di kompleks Masjidil Aqsa, mereka menaruh harapan besar pada kita sebagai Pasukan Panji Hitam yang dinubuatkan akan membantu pembebasan Baitul Maqdis di akhir zaman. Di mata mereka, Nusantara adalah benteng terakhir Islam yang akan membawa kembali cahaya dari Timur untuk mengakhiri kegelapan di tanah suci.
Memantaskan Diri untuk Sejarah Besar
Hubungan Indonesia dan Palestina bukanlah sekadar relasi transaksional antarnegara. Ini adalah jalinan harmonis yang bersifat historis, teologis, dan politis yang telah dirajut sejak era Daulah Shalihiyah di Samudra Pasai hingga perjuangan kemerdekaan modern. Kita telah mewarisi strategi tempur dari Sunan Ngudung, arsitektur rindu dari Sunan Kudus, dan konsistensi politik dari Bung Karno.
Sejarah telah menenun takdir kita begitu erat dengan Baitul Maqdis. Namun, sebuah pertanyaan besar tetap menggantung: Jika nubuat telah menunjuk kita sebagai bagian dari masa depan pembebasannya, sudahkah hari ini kita memantaskan diri untuk menggenapi janji sejarah tersebut?[]
Disarikan dari kajian dengan tema tersebut di NSTV:
