Di tengah deru hustle culture dan riuhnya notifikasi gawai yang terus mengejar target duniawi, kita sering terjebak dalam perlombaan tanpa garis finis. Kita sibuk menata angka, mengejar omzet, dan memoles citra, namun jarang berhenti sejenak untuk bertanya: “Sejauh mana kita telah menyiapkan bekal untuk pulang?” Usia terus bertambah, dan satu demi satu tanda kepulangan mulai mengetuk pintu hati.
Keluarga seharusnya bukan sekadar rekan serumah yang berbagi atap untuk tidur, melainkan mitra seperjalanan menuju keabadian. Menjadikan rumah sebagai sumber “nutrisi ruh” adalah langkah awal agar kita tidak sekadar hidup bersama di dunia, tapi juga bertetangga di Surga-Nya. Berikut adalah lima rahasia untuk memastikan langkah keluarga kita tetap berada di jalur yang benar.
1. Membangun “Benteng” melalui Ketaatan dan Implementasi Hukum
Landasan utama sebuah keluarga bukanlah fondasi beton, melainkan perlindungan spiritual dari api neraka. Perintah ini tertuang tegas dalam Surah At-Tahrim ayat 6:
“Wahai orang-orang yang beriman! Jagalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu…” (QS. At-Tahrim: 6)
Para ulama memberikan panduan bagi kita untuk menjalankan amanah ini:
- Imam Ibnu katsir menekankan bahwa menjaga keluarga berarti mendidik istri dan anak untuk taat serta menjauhi maksiat.
- Imam Ath-Thabari memberikan penekanan yang lebih tajam: tanggung jawab kita bukan hanya mengajari, tetapi juga melaksanakan dan mengimplementasikan hukum-hukum Allah dalam keseharian rumah tangga.
- Imam Al-Qurtubi dan Imam Ash-Shabuni mengingatkan bahwa kewajiban ini secara khusus dibebankan kepada kepala keluarga untuk memastikan seluruh anggota keluarga berada dalam koridor ketaatan.
2. Rahasia Penyetaraan Derajat dan Reuni Keluarga Besar
Salah satu rahmat Allah yang paling menyentuh adalah janji reuni keluarga. Allah tidak hanya mengumpulkan keluarga inti, tetapi juga “Big Family” yang mencakup nenek moyang (leluhur) hingga anak cucu (keturunan).
Dalam Surah Ath-Thur ayat 21 dan Ar-Ra’d ayat 23, Allah menjanjikan bahwa anggota keluarga yang derajat amalnya lebih rendah akan diangkat untuk berkumpul dengan mereka yang derajatnya lebih tinggi sebagai bentuk pemuliaan. Said bin Zubair menceritakan sebuah dialog yang sangat emosional di Surga nanti:
Seorang mukmin akan bertanya, “Di manakah ayahku? Di manakah saudaraku? Di manakah anak-anakku?” Ketika dijawab bahwa amal mereka tidak setinggi derajatnya, mukmin tersebut akan memohon, “Ya Tuhanku, sesungguhnya pahala amal kebaikanku ini adalah untukku dan untuk mereka.” Maka Allah pun menyatukan mereka dalam satu kedudukan yang mulia.
Syarat utama reuni abadi ini adalah:
- Fondasi Keimanan: Setiap anggota keluarga harus memiliki akar iman yang sama.
- Kesalehan yang Mengikuti: Keturunan (dzuriah) yang berusaha meniti jejak ketaatan orangtuanya.
- Komitmen Kolektif: Saling mendoakan dan menjaga agar tidak ada satu pun yang tertinggal dalam kemaksiatan.
3. Kekuatan Istighfar Anak sebagai Booster Kedudukan Orangtua
Kita mungkin merasa amal kita biasa-biasa saja. Namun, bagi orangtua yang mendidik anaknya dengan baik, ada kejutan yang menanti di akhirat. Rasulullah SAW mengisahkan tentang seorang hamba yang terheran-heran melihat derajatnya naik drastis di Surga.
Ia bertanya, “Ya Tuhanku, dari manakah semua kemuliaan ini datang kepadaku?” Allah menjawab, “Berkat istighfar (permohonan ampun) anakmu untukmu.”
Inilah investasi abadi yang sesungguhnya. Ketika napas telah terhenti, hanya ada tiga pintu pahala yang tetap terbuka, dan salah satunya adalah anak saleh yang mendoakan. Kesalehan anak bukan sekadar tentang akhlak mereka di dunia, melainkan menjadi lifter atau pengangkat derajat orangtuanya di hadapan Allah SWT.
4. Prinsip Mu’asyarah bil Ma’ruf: Keluarga adalah Prioritas Utama
Ada fenomena pahit di zaman modern: seseorang bisa tampil begitu santun dan inspiratif di media sosial atau forum publik, namun menjadi sosok yang dingin atau kasar di dalam rumah. Islam menolak standar ganda ini melalui prinsip Al-Aqrabun Aula Bil Ma’ruf—orang terdekat adalah yang paling berhak mendapatkan kebaikan kita.
Keluarga kita bukan robot. Hubungan di dalam rumah harus dibangun di atas nilai ukhuwah dan kasih sayang, bukan sekadar instruksi searah yang kaku. Jangan biarkan rumah hanya menjadi tempat singgah untuk tidur. Kita dituntut untuk melakukan Mu’asyarah bil Ma’ruf, yakni memperlakukan pasangan dan anak dengan cara yang paling baik, paling lembut, dan paling membahagiakan.
5. Komunikasi Berkualitas dan Kepercayaan di Tengah Badai
Di era di mana banyak ayah harus bekerja jauh di pertambangan atau pelayaran demi nafkah, komunikasi bukan sekadar bertukar kabar, melainkan urat nadi kepercayaan. Jarak tidak boleh menjadi penghalang untuk membangun visi surga.
- Membangun Honesty (Kejujuran): Terutama dalam hubungan jarak jauh (LDR), kejujuran adalah pondasi agar tidak ada celah bagi prasangka.
- Waktu Berkualitas: Sediakan waktu untuk mengobrol mendalam tanpa gangguan gawai. Saling memotivasi untuk tetap tahajud atau menjaga amanah meski terpisah jarak.
- Dukungan Sistem (Support System): Jadikan rumah sebagai tempat yang paling dirindukan karena setiap anggotanya merasa didukung dalam kebaikan, bukan justru merasa gelisah saat berada di dalamnya.
***
Menjadi Contoh (Qudwah) di Tengah Badai Zaman
Perjalanan menuju Surga adalah upaya tim yang membutuhkan komitmen setiap anggota keluarga. Ayah harus berdiri sebagai pelindung, Ibu berperan sebagai Ummu Waratul Bait (pendidik utama dan penjaga kehormatan rumah tangga), dan anak-anak tumbuh menjadi pendoa yang tulus.
Sebagai orangtua, kita harus menyadari bahwa kita adalah qudwah (contoh) nyata. Anak-anak tidak hanya mendengar apa yang kita katakan, tapi mereka merekam apa yang kita lakukan. Allah SWT berfirman dalam Surah Adz-Dzariyat ayat 55: “Dan tetaplah memberi peringatan, karena sesungguhnya peringatan itu bermanfaat bagi orang-orang yang beriman.”
Mari kita mulai perubahan itu hari ini. Jangan tunda untuk melakukan satu tindakan ma’ruf kepada pasangan atau memberikan pelukan penuh doa kepada anak-anak kita.
Jika hari ini adalah langkah terakhir kita di dunia, apakah arah yang kita tuju bersama keluarga sudah benar-benar menuju pintu Surga-Nya, atau kita justru sedang sibuk menata jalan menuju tempat yang kita jauhi?[]
Disarikan dari kajian dengan tema tersebut di NSTV:
