Kemegahan Andalusia dan Istana Alhambra sering dikenang sebagai puncak kejayaan Islam, namun di balik keruntuhannya pada 1492 tersimpan pelajaran ironis yang jarang terungkap. Jauh dari sekadar kisah kejatuhan, peristiwa ini adalah titik balik sejarah yang dipicu oleh serangkaian fakta tak terduga. Berikut adalah lima di antaranya.
[#1] – Ironi Kelahiran: Bersekutu dengan Musuh Demi Tahta
Fakta paling ironis dari Emirat Granada adalah fondasi kelahirannya. Jauh sebelum menjadi benteng terakhir Islam di Spanyol, cikal bakalnya justru lahir dari sebuah persekutuan kontroversial. Pendirinya, Emir Muhammad I (dijuluki al-Ghalib), menjalin kerja sama militer dengan Raja Katolik Fernando III dari Kastilia. Tujuannya? Menaklukkan kota-kota Muslim lainnya seperti Kordoba dan Sevilla. Sebagai imbalannya, kekuasaan Muhammad I di Granada dan wilayah sekitarnya dijamin tidak akan diganggu. Dengan kata lain, benteng terakhir Islam ini berdiri di atas puing-puing kekuasaan Islam lainnya yang dihancurkan bersama musuh.
[#2] – Hancur dari Dalam: 31 Suksesi dalam 260 Tahun
Fondasi yang dibangun di atas pengkhianatan ini terbukti rapuh, karena ‘penyakit’ yang sama—mengorbankan persaudaraan demi kekuasaan—akhirnya menggerogoti Granada dari dalam. Selama 260 tahun kekuasaan Dinasti Bani Nasri, perebutan kekuasaan yang tak henti-hentinya menjadi musuh terbesar mereka. Data sejarah mencatat ada 31 kali suksesi kekuasaan yang melibatkan 23 emir berbeda, dengan lima di antaranya berkuasa dua kali dan satu emir bahkan naik tahta hingga empat kali. Angka-angka ini menunjukkan betapa parahnya konflik internal yang terus-menerus menggerogoti kekuatan mereka, membuat Granada menjadi sangat rentan terhadap serangan dari luar.
[#3] – “Menangislah Seperti Perempuan”: Teguran Terakhir Sang Ibunda
Kelemahan akibat konflik internal selama ratusan tahun inilah yang pada akhirnya membawa Emir Muhammad XII (dikenal sebagai Boabdil) ke momen paling memilukan dalam sejarah Andalusia. Pada tanggal 2 Januari 1492, ia menyerahkan kunci Istana Alhambra kepada Raja Fernando dan Ratu Isabella. Saat meninggalkan istananya, Boabdil menoleh ke belakang untuk memandangi kemegahan Alhambra terakhir kalinya, lalu menangis. Di momen yang penuh kepiluan itu, ibunya, Ratu Aisyah, memberikan teguran tajam yang terukir abadi dalam sejarah.
“Menangislah, Anakku. Menangislah sebagaimana sosok perempuan karena sesungguhnya engkau tidak bisa menjaga kekuasaanmu, tidak mampu untuk mempertahankan istanamu layaknya sebagai laki-laki.”
Teguran keras ini menjadi simbol penyesalan dan kegagalan dalam mempertahankan warisan peradaban yang agung. Lokasi tempat peristiwa ini terjadi hingga kini dikenal sebagai Puerto del Suspiro del Moro (Tangisan Sosok Moro yang Terakhir).
[#4] – Akhir Satu Era, Awal Era Lain: Jatuhnya Granada Mendanai Pelayaran Columbus
Keruntuhan Granada secara langsung memicu dimulainya era penjelajahan samudra yang mengubah peta dunia. Setelah menaklukkan benteng Islam terakhir ini, Ratu Isabella dan Raja Fernando mengalihkan sumber daya mereka untuk mendanai ekspedisi Christopher Columbus. Semangat penaklukan (Reconquista) tidak berhenti di Andalusia. Dua tahun kemudian, pada 1494, Spanyol dan Portugal menandatangani Perjanjian Tordesilas, sebuah pakta yang membagi dunia non-Eropa untuk ditaklukkan oleh keduanya dengan misi Gold, Glory, and Gospel (Emas, Kejayaan, dan Penyebaran Agama). Satu peristiwa sejarah besar menjadi bahan bakar untuk peristiwa besar berikutnya.
[#5] – Bantuan yang Terlambat: Jawaban Kesultanan Utsmani
Dalam keputusasaannya, Emir Boabdil sebenarnya telah mengirim utusan untuk meminta bantuan dari kekuatan Muslim lainnya, termasuk Kesultanan Utsmani yang saat itu dipimpin oleh Sultan Bayazid II. Awalnya, Sultan Bayazid ragu karena jarak yang sangat jauh dan rintangan politik. Namun, ia akhirnya mengirimkan armada bantuan berkekuatan 20.000 pasukan. Menariknya, misi utama pasukan ini bukanlah untuk menyelamatkan kekuasaan Boabdil, melainkan untuk menyelamatkan kaum Muslim dan Yahudi dari penganiayaan. Sultan Bayazid dengan tegas menyatakan:
“Kami tidak bermaksud untuk menyelamatkan kekuasaan kalian. Kami hanya berupaya untuk menyelamatkan saudara Muslim kami dari penganiayaan namun kami tidak mampu untuk memberikan jaminan bahwa kekuasaan kalian akan tetap terjaga dan terlindungi.”
Bantuan ini menunjukkan adanya solidaritas, meskipun datang terlambat dan secara realistis tidak cukup untuk mengubah hasil akhir perang.
***
Cermin Sejarah yang Tak Pernah Pudar
Kisah runtuhnya Granada adalah pelajaran abadi tentang bagaimana peradaban besar sekalipun dapat runtuh, bukan hanya karena kekuatan musuh, tetapi terutama karena perpecahan dari dalam. Konflik internal, perebutan kekuasaan, dan hilangnya persatuan terbukti menjadi racun yang mematikan. Sejarah Granada menjadi cermin yang merefleksikan sebuah kebenaran universal. Jika perpecahan internal mampu meruntuhkan peradaban yang bertahan ratusan tahun, pelajaran apa yang bisa kita ambil untuk masa kini?[]
Disarikan dari kajian dengan tema tersebut di NSTV:
