Sebuah Kisah Peringatan
Baru-baru ini, kita dikejutkan oleh berita tragis dari Medan: seorang anak SD tega membunuh ibu kandungnya sendiri. Pemicunya bukan sekadar amarah biasa. Menurut pihak kepolisian, anak ini marah karena sang ibu meng-uninstall aplikasi game dari gawainya. Namun, yang lebih mengerikan adalah inspirasinya. Ia terinspirasi dari game “Murder Mystery” yang memungkinkannya berperan sebagai pembunuh, dan sebuah episode anime “Detective Conan” yang mengajarkan cara membunuh di bagian vital serta menghindari percikan darah dengan melepas pakaian. Insiden mengerikan ini memaksa kita untuk berhenti sejenak dan bertanya: Di era digital ini, ketika kita menyerahkan gawai kepada anak, sadarkah kita siapa yang sesungguhnya membentuk kepribadian mereka?
Nyatanya, ada ancaman tersembunyi di balik layar sebuah gawai.
Bukan Lagi Orangtua, Kepribadian Anak Kini “Disetel” oleh Algoritma
Tanpa kita sadari, algoritma telah mengambil alih peran krusial orangtua dan guru dalam membentuk kepribadian anak. Bayangkan algoritma bekerja seperti pelayan restoran yang sangat cerdas. Ia terus memantau, memahami apa kesukaan anak Anda, lalu tanpa henti menyodorkan menu konten yang membuat mereka ketagihan.
Ada istilah kunci untuk proses ini: tuning. Istilah ini tidak datang dari dunia psikologi, melainkan dari bidang Kecerdasan Buatan. Tuning adalah proses yang digunakan untuk ‘menyetel’ mesin agar menjadi cerdas. Kini, proses yang sama sedang digunakan algoritma untuk ‘menyetel’ anak-anak kita, membentuk dua hal fundamental:
- Muyul: Apa yang anak sukai dan benci, atau kecenderungan perasaannya.
- Mafhum: Konsep anak tentang baik-buruk dan benar-salah, atau pola pikirnya.
Poin ini sangat krusial. Orangtua mungkin merasa anak mereka aman karena hanya berada di dalam kamar. Padahal, pada saat yang sama, pikiran dan perasaan mereka sedang ‘diprogram’ oleh entitas tak terlihat yang tujuannya bukanlah untuk kebaikan anak, melainkan untuk kepentingan komersial.
Akses Gadget Terlalu Dini Berisiko Merusak Kesehatan Mental
Sebuah penelitian berskala masif memberikan bukti nyata akan bahaya ini. Dengan melibatkan lebih dari 100.000 remaja di 163 negara, penelitian ini mengungkap korelasi yang mengkhawatirkan: semakin muda seorang anak (di bawah 13 tahun) memiliki smartphone, semakin rendah skor kesehatan mental mereka saat beranjak dewasa (usia 18-20 tahun).
Temuan spesifik dari penelitian tersebut menunjukkan risiko-risiko berikut:
- Pikiran untuk bunuh diri dan melukai diri sendiri
- Kecenderungan menjadi agresif dan menyerang orang lain
- Kesulitan membedakan dunia nyata dan dunia digital (detachment dari realitas)
- Menurunnya citra dan kepercayaan diri
- Kesulitan mengendalikan emosi dan mudah stres
Ancaman ini bukan lagi masalah di negara lain. Sebuah penelitian UGM pada tahun 2022 menunjukkan bahwa 30% remaja Indonesia berisiko mengalami masalah kesehatan mental (ODGJ). Ini adalah krisis yang nyata dan sudah ada di depan mata kita.
Fenomena Brain Rot: Ketika Otak Anak secara Harfiah Membusuk
Pada tahun 2024, Oxford mempopulerkan istilah yang sangat meresahkan: Brain Rot atau pembusukan otak. Ini adalah kondisi di mana kemampuan kognitif seseorang menurun drastis akibat konsumsi konten yang ringan dan dangkal secara terus-menerus.
Dampak dari Brain Rot sangat nyata dan merusak:
- Fokus berkurang secara signifikan
- Daya pikir melemah, sulit mencerna informasi kompleks
- Kesabaran menurun, menginginkan segalanya serba instan
- Otak secara fisik bisa mengkerut
Ini bukan lagi sekadar masalah anak menjadi malas, tetapi tentang kerusakan fisik pada organ terpenting mereka. Kerusakan pada otak akan berdampak permanen pada masa depan mereka.
Perhatian Anak Kita adalah Produk yang Dijual
Pernahkah kita bertanya mengapa gawai dan aplikasi di dalamnya begitu adiktif? Jawabannya terletak pada konsep yang disebut “Surveillance Capitalism” atau kapitalisme pemantauan. Konsep ini dipopulerkan oleh Shoshana Zuboff, seorang pakar dari Harvard, dalam bukunya The Age of Surveillance Capitalism. Di dunia digital, produk yang sebenarnya dijual bukanlah aplikasi atau game gratis, melainkan perhatian (attention) kita dan anak kita.
Analoginya seperti sebuah mall. Aplikasi digital didesain untuk membuat kita betah berlama-lama di dalamnya. Data tentang berapa lama dan apa saja yang kita lihat itulah yang menjadi produk mahal yang dijual kepada para pengiklan. Fakta yang paling mengejutkan adalah usaha untuk berhenti dari kecanduan gawai memiliki tingkat kegagalan hingga 90%. Alasannya? Kita tidak sedang melawan aplikasi, tetapi kita melawan “makhluk super jenius” (AI) yang telah memantau, mencatat, dan memahami diri kita lebih baik daripada kita memahami diri sendiri.
Penghancuran Sistematis Akhlak: Dari Rasa Malu hingga Kejujuran
Ditemukan sebuah pola yang mengejutkan dan mengerikan: nilai-nilai akhlak mulia yang menjadi pilar dalam Islam, kini dihancurkan secara sistematis oleh dunia digital. Kontras antara apa yang diajarkan agama dengan apa yang dipromosikan algoritma begitu tajam.
- Rasa Malu: Dihilangkan dengan tren joget-joget yang tidak pantas dan kebiasaan berkata kasar yang dinormalisasi.
- Ketenangan (Tidak Tergesa-gesa): Dihancurkan oleh budaya serba cepat, instan, dan tidak sabaran yang ditanamkan oleh konten-konten pendek.
- Kejujuran: Dirusak oleh budaya flexing (pamer) dan menampilkan versi diri yang tidak nyata demi validasi sosial.
- Kecermatan (Tabayyun): Diabaikan karena kebiasaan menyebar berita hanya dari judulnya tanpa memeriksa kebenaran isinya.
Tanggung jawab ini pada akhirnya kembali kepada orangtua. Sebagaimana diperingatkan oleh Imam Ibnul Qayyim:
“Barangsiapa yang dengan sengaja tidak mengajarkan apa yang bermanfaat bagi anaknya dan meninggalkannya begitu saja, berarti dia telah melakukan sebuah kejahatan yang sangat besar. Kerusakan pada diri anak kebanyakan dari sisi orangtua.”
Strategi Praktis Merebut Kembali Peran Orangtua
Menghadapi situasi genting ini, pasrah bukanlah pilihan. Orangtua harus merebut kembali peran sentralnya. Berikut adalah strategi praktis yang bisa diterapkan:
- Pahami Peran Utama Ayah: Al-Qur’an dalam Surah At-Tahrim ayat 6 mengingatkan, “Jagalah dirimu dan keluargamu dari api neraka.” Tugas mendidik dan memastikan keselamatan keluarga, terutama di era digital, adalah tanggung jawab utama seorang ayah.
- Wajib Belajar Ilmu Parenting Digital: Mendidik anak hari ini berbeda dengan 20 tahun lalu. Orangtua wajib terus belajar ilmu parenting yang relevan. Menjadi “ahli parenting digital” di rumah sendiri bukan lagi pilihan, melainkan sebuah keharusan untuk dapat melawan pengaruh algoritma.
- Bangun Kepribadian Islam (Syakhsiyyah Islamiyyah): Bentengi anak dengan membangun dua pilar utama: aqliyyah (pola pikir) dan nafsiyyah (pola sikap). Adakan forum keluarga untuk menanamkan akidah, ajarkan prinsip halal-haram, dan biasakan mereka dengan ibadah.
- Perkuat Ikatan (Bonding): Ikatan yang kuat adalah pertahanan terbaik. Luangkan waktu untuk makan bersama, lakukan perjalanan tafakur alam, dan ciptakan ruang dialog yang terbuka. Ketika anak merasa nyaman dengan orangtua, mereka tidak akan mencari pelarian di dunia maya.
- Ambil Langkah Tegas: Jangan ragu untuk bersikap tegas. Pemerintah Australia telah bergerak melarang media sosial untuk anak di bawah 16 tahun, dengan Perdana Menteri menyebutnya sebagai upaya “mengembalikan anak-anak kepada orangtuanya”. Jika negara saja bisa, orangtua harus lebih bisa.
- Gunakan “Jurus Langit”: Setelah semua “jurus bumi” atau ikhtiar duniawi dilakukan, sandarkan harapan pada kekuatan doa. Gunakan “jurus langit”, karena pada akhirnya Allah-lah yang memegang hati dan masa depan anak-anak kita.
***
Mengambil Kembali Kendali
Ancaman algoritma bukanlah fiksi ilmiah; ini adalah kenyataan pahit yang sedang menggerogoti generasi kita, mulai dari merusak struktur otak hingga mengikis fondasi akhlak. Situasinya genting, tetapi sebagai orangtua, kita tidak boleh menyerah. Ini adalah pertarungan untuk merebut kembali masa depan anak-anak kita.
Setelah mengetahui semua ini, langkah konkret apa yang akan Anda ambil hari ini untuk merebut kembali peran Anda sebagai pendidik utama bagi anak Anda dari genggaman algoritma?[]
Disarikan dari kajian dengan tema tersebut di NSTV:
