Bagi banyak orang, bulan Rajab identik dengan peristiwa spiritual agung Isra Mikraj. Namun, di balik peristiwa yang kita peringati setiap tahunnya, bulan Rajab menyimpan pelajaran yang lebih dalam dan sangat relevan dengan realitas politik, kekuasaan, dan peran kita di dunia saat ini. Akan kita ungkap hal-hal yang sering terabaikan dari bulan Rajab, menghubungkan titik balik sejarah langsung ke lanskap geopolitik kontemporer kita saat ini.
Rajab: Bulan Peringatan Spiritual dan Titik Balik Politik Umat
Rajab dikenal luas karena peristiwa Isra Mikraj, sebuah perjalanan yang tidak hanya memiliki dimensi spiritual mendalam, tetapi juga dimensi politik (siyasah) yang kuat. Ketika Nabi Muhammad SAW mengimami para nabi lain dalam salat, hal itu menjadi simbol kepemimpinan Islam di masa depan, menegaskan posisi risalah Islam sebagai pemandu bagi seluruh umat manusia.
Namun, di samping puncak spiritualitas tersebut, Rajab juga menjadi saksi sebuah peristiwa yang digambarkan sebagai “petaka yang sangat luar biasa.” Pada tanggal 28 Rajab 1342 H (bertepatan dengan 3 Maret 1924), Khilafah Islamiyah secara resmi dihapuskan. Peristiwa ini menyebabkan terpecahnya dunia Islam menjadi lebih dari 55 negara-bangsa yang terpisah-pisah. Hingga Rajab 1447 H ini, sudah 105 tahun umat hidup tanpa perisai politiknya—sebuah kontras yang tajam jika dibandingkan dengan para Sahabat yang hanya membiarkan kekosongan kepemimpinan selama tiga hari sebelum membaiat Abu Bakar Ash-Shiddiq sebagai pengganti Rasulullah SAW.
Dualitas ini—sebagai bulan ketinggian spiritual (Isra Mikraj) sekaligus bulan kehilangan politik yang mendalam (runtuhnya Khilafah)—memaksa kita melakukan refleksi kritis. Ia menjadi waktu krusial untuk merenungkan kembali kejayaan masa lalu dan secara jujur mengevaluasi kondisi umat Islam saat ini.
Ternyata, Mengkritik Penguasa Zalim adalah “Jihad yang Paling Utama”
Baru-baru ini, kita menyaksikan gelombang intimidasi yang menargetkan para aktivis dan influencer yang kritis terhadap penanganan bencana di Sumatra. Bentuk terornya beragam dan brutal, mulai dari pengiriman bangkai ayam, bom molotov, hingga mobil pribadi yang dirusak. Gelombang intimidasi ini menunjukkan adanya rezim yang “tipis kupingnya” dan tidak toleran terhadap kritik.
Namun, dari perspektif Islam, memuhasabahi penguasa yang zalim bukanlah tindakan makar, melainkan sebuah kehormatan yang bernilai jihad paling utama (afdhalul jihad). Pandangan ini didasarkan pada sebuah hadits yang sangat kuat:
“Jihad yang paling utama adalah menyampaikan kebenaran di hadapan penguasa yang zalim.”
Implikasi dari konsep ini sangat mendalam. Ia mengangkat kritik politik dari sekadar tindakan perbedaan pendapat menjadi sebuah aksi keimanan yang mulia. Bahkan, risikonya pun dihargai dengan sangat tinggi; jika seseorang terbunuh karena menyampaikan kebenaran ini kepada penguasa, ia akan diganjar kedudukan sebagai “penghulu para syuhada” (sayyidusy syuhada). Ini adalah sebuah konsep yang kuat dan seringkali terlupakan di zaman sekarang.
Wajah Asli Politik Global: Saat Amerika Dipaksa Membayar Upeti
Tindakan brutal Donald Trump terhadap Presiden Venezuela, Nicolas Maduro, menjadi cerminan “hukum rimba” modern. Meskipun dalih resminya adalah memerangi perdagangan narkoba, tindakan tersebut membuka kedok motif imperialis yang sesungguhnya: menguasai cadangan minyak terbukti terbesar di dunia yang dimiliki Venezuela. Analisis ini bukanlah pembelaan terhadap rezim sosialis Maduro, melainkan gugatan terhadap hukum rimba yang digunakan oleh negara adidaya yang menobatkan dirinya sebagai polisi, hakim, dan algojo global.
Saat dominasi Amerika tampak begitu absolut hari ini, sejarah menunjukkan dinamika kekuasaan yang sama sekali berbeda. Contoh Amerika bukanlah anomali, melainkan bagian dari pola konsisten kekuatan geopolitik Islam. Sejarah mencatat bagaimana Khalifah Harun Ar-Rasyid membalas Raja Romawi dengan pernyataan, “Jawabannya adalah apa yang kamu lihat, bukan apa yang kamu dengar,” sebelum mengirimkan pasukannya. Sejarah juga merekam bagaimana Khalifah Abdul Hamid II mengancam Prancis untuk menghentikan pertunjukan teater yang menghina Rasulullah SAW, hingga Prancis pun patuh.
Namun, fakta yang paling menakjubkan adalah saat Amerika Serikat sendiri pernah berada dalam posisi tunduk dan terpaksa membayar upeti kepada Khilafah Islam.
Pada era itu, Amerika Serikat dipaksa membayar upeti tahunan kepada wali Utsmani di Aljazair sebesar 642.000 keping emas ditambah 12.000 Lira emas Utsmani. Upeti ini dibayarkan sebagai tebusan untuk membebaskan tawanan Amerika dan menjamin keamanan kapal-kapalnya di Samudra Atlantik dan Mediterania. Perjanjian yang ditandatangani pada 5 September 1795 ini memaksa Amerika untuk menggunakan bukan bahasanya sendiri, melainkan bahasa Arab—bahasa resmi Daulah Utsmaniyah.
Fakta sejarah ini adalah pengingat yang kuat bahwa tatanan dunia saat ini bukanlah sesuatu yang permanen. Kekuatan peradaban Islam yang bersatu pernah mampu memaksa negara adidaya untuk tunduk pada syarat-syarat yang ditetapkannya, menunjukkan apa yang mungkin terjadi ketika umat memiliki kekuatan dan persatuan di bawah satu kepemimpinan.
***
Dari Sejarah menuju Kesadaran Baru
Tiga poin dari bulan Rajab ini—makna gandanya sebagai cermin refleksi spiritual dan politik, kritik sebagai jihad yang mulia, dan sifat tatanan kekuasaan global yang tidak permanen—memberikan kita perspektif baru yang mendalam. Sejarah bukanlah sekadar cerita masa lalu, melainkan kompas untuk masa depan.[]
Disarikan dari kajian dengan tema tersebut di NSTV:
