NgajiShubuh.or.id — Di antara pekerjaan setan baik dari jenis manusia maupun dari golongan jin sebagaimana yang dikabarkan Allah Swt. dalam surah An-Naml ayat 24 adalah sebagai berikut.
وَجَدْتُّهَا وَقَوْمَهَا يَسْجُدُوْنَ لِلشَّمْسِ مِنْ دُوْنِ اللّٰهِ وَزَيَّنَ لَهُمُ الشَّيْطٰنُ اَعْمَالَهُمْ فَصَدَّهُمْ عَنِ السَّبِيْلِ فَهُمْ لَا يَهْتَدُوْنَۙ ٢٤
“Aku (burung Hudhud) mendapati dia dan kaumnya sedang menyembah matahari, bukan Allah. Setan telah menghiasi perbuatan-perbuatan (buruk itu agar terasa indah) bagi mereka sehingga menghalanginya dari jalan (Allah). Mereka tidak mendapat petunjuk.” (TQS. An-Naml: 24)
Pertama, membuat indah perbuatan maksiat. Apakah ada hari ini? Ada. Mereka yang sulit sekali hijrah dan terlanjur jatuh ke dalam lingkaran dosa, terasa dosa itu sangat indah dan nikmat. Ia pun merasa tidak bisa keluar dari jeratan tipu daya setan. Sebagai contoh, melakukan perzinaan lebih ia sukai daripada pernikahan. Padahal, jalan memenuhi naluri seksual dalam Islam adalah dengan menikah, tapi kebanyakan orang malah suka pacaran hingga terjerumus ke perbuatan zina.
Manusia termasuk Muslim, dibuai dengan keindahan istilah bunga bank, padahal itu riba. Dosa riba yang lebih besar dari dosa zina terasa sangat biasa karena istilah “bunga”. Kebiasaan utang riba juga sulit sekali ditinggalkan dengan berbagai alasan; kalau tidak utang riba tidak mungkin punya rumah, tidak mungkin punya motor atau mobil. Bahkan, utang riba dianggap sebuah keharusan jika ingin hidupnya berkembang.
Parahnya lagi, budaya riba dilakukan tidak hanya menjerat di dunia nyata yakni di bank atau koperasi, di dunia maya pun masyarakat mudah sekali mendapatkan tawaran pinjaman online yang lebih membius daripada di dunia nyata karena menyasar berbagai kalangan yang menggunakan digital. Riba yang seharusnya ditampakkan sebagai bentuk dosa besar hari ini dihiasi dengan istilah yang indah, lebih-lebih dilindungi oleh negara. Mereka yang menarik riba (bunga bank) tidak mendapatkan hukuman, justru memiliki legitimasi hukum dalam mencekik pengutang dengan rentetan riba. Bodohnya lagi, banyak manusia yang memilih jalan utang riba untuk memenuhi gaya hidup konsumtif mereka.
Soal tipu daya istilah demokrasi. Sistem demokrasi dihiasi dengan kata-kata indah dan menipu, yakni dari rakyat, oleh rakyat, dan untuk rakyat. Seolah-olah dengan menerapkan demokrasi semua keinginan kita bisa diwujudkan. Padahal faktanya, hanya keinginan dan kepentingan pemilik modal yang menjadi hakim dalam setiap perkara.
Demokrasi telah mengalihkan hak menetapkan hukum (as-syari’) yang harusnya milik Allah Swt. beralih menjadi haknya manusia. Manusia membuat hukum-hukum sendiri untuk mengatur kehidupan. Mereka terbuai dengan istilah “demokrasi” yang melalaikan tanggung jawab dirinya sebagai penegak hukum atau syariat yang telah Allah Swt. turunkan melalui Baginda Nabi Muhammas saw. Dengan penuh kesombongan para pejuang demokrasi menolak aturan Ilahi dan lebih memilih membuat undang-undangnya sendiri.
Kedua, menghalangi dari jalan Allah Swt. Apakah ada? Banyak. Mereka memosisikan diri sebagai penghalang dakwah amar makruf nahi mungkar. Mereka menjadi penjaga kemungkaran. Yang mengajak untuk menerapkan hukum Allah dihalangi, dilarang, dikriminalisasi, dimonsterisasi, dituduh garis keras, radikal, fundamentalis, bahkan teroris. Beginilah pekerjaan setan, yang bisa berwujud jin maupun manusia.
Perbuatan setan ini mencengkram kuat kaum Muslim secara sistemis, karena memang tantangan terbesar terhadap dakwah Islam kaffah ada pada sistem sekuler yang ditetapkan hari ini. Sistem sekuler yang mengakomodasi hawa nafsu manusia untuk menjadi hakim dalam setiap perkara dengan mengabaikan syariat Islam sebagai pengatur kehidupan.
Pantangan
Umat Islam harus menyadari bagaimana tipu daya setan dalam menyesatkan manusia dan menghalangi dakwah Islam. Umat Islam pantang menyerah akan semua hal ini; di sinilah pentingnya kaum Muslim senantiasa memurnikan akidahnya dengan terus-menerus sadar akan posisinya sebagai hamba yang harus taat. Selanjutnya, umat Islam harus terus berdakwah walaupun kondisinya tekanan sistem sekuler yang memusuhi dakwah makin kuat. Tidak boleh seorang Muslim putus asa akan kelicikan setan yang memoles kemungkaran menjadi keindahan.
Yang harus dilakukan kaum Muslim ada tiga. Pertama, harus terus menyuarakan dakwah untuk kemurnian akidah Islam. Umat Islam sadar posisinya sebagai seorang hamba yang harus menaati semua perintah-Nya. Kedua, terus-menerus mengkaji Islam, sebagai sarana untuk menguatkan tsaqafah keislaman. Ketiga, istikamah berdakwah. Menyadarkan kaum Muslim untuk bersama-sama agar tidak tertipu dengan dua pekerjaan setan tersebut dan kembali mewujudkan kehidupan Islam di bawah sistem pemerintahan Islam yakni khilafah.
Dalam usahanya mewujudkan kehidupan Islam harus senantiasa meminta perlindungan pada Allah Swt. agar dikuatkan untuk tetap berada di jalan yang benar, yakni jalan Islam yang sesungguhnya.
“Sesungguhnya Kami telah menganugerahkan kepadamu kemenangan yang nyata.” (TQS. Al-Fath: 1)
“Wahai orang-orang yang beriman! Jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu.” (TQS. Muhammad: 7).[] Ika Mawarningtyas
