Mengapa Kita Perlu Bicara Serius Tentang Bullying?
Pernahkah jantung Anda terasa mencelos membaca berita seorang santri membakar pesantrennya, atau seorang siswa SMA mengebom sekolahnya sendiri? Di balik tragedi yang tak terbayangkan ini, seringkali bersembunyi monster yang kita anggap remeh: bullying. Banyak yang masih menganggapnya sebagai hal biasa dengan dalih “namanya juga anak-anak.” Namun, sikap meremehkan inilah yang justru berbahaya. Di balik fenomena yang meresahkan ini, ada beberapa kebenaran mengejutkan yang wajib diketahui oleh setiap orangtua untuk bisa melindungi generasi kita.
1. Pelaku Bullying Pertama Mungkin Ada di Rumah (dan Kita Tidak Menadarinya)
Orangtua Juga Bisa Menjadi Pelaku Bullying
Saat kita berpikir tentang pelaku bullying, yang terbayang adalah teman sebaya di sekolah. Namun, pelaku pertama dan yang paling berdampak bisa jadi adalah orangtua, seringkali tanpa kita sadari. Beberapa bentuk bullying oleh orangtua yang sering terjadi, di antaranya:
- Ucapan yang merendahkan, seperti, “Kamu payah, gini aja enggak bisa.”
- Mengabaikan kebutuhan fisik dan emosional anak, seperti tidak memenuhi kebutuhannya atau abai terhadap perasaannya.
- Membanding-bandingkan anak satu dengan yang lain, yang menimbulkan rasa rendah diri dan persaingan tidak sehat.
- Mengambil hak anak secara paksa, misalnya, merampas mainan si kakak untuk diberikan kepada adiknya.
Perilaku-perilaku ini, meski terlihat sepele, sesungguhnya adalah bentuk penindasan. Bullying dari orangtua inilah yang “jauh lebih menyakiti anak” dan dapat menjadi fondasi yang membentuk anak menjadi pelaku atau korban bullying di lingkungan luar rumah.
2. Bullying “Diam-Diam” ternyata Bisa Merusak Fisik dan Mental
Ancaman Bullying Relasional: Disakiti tanpa Disentuh
Bullying tidak selalu tentang pukulan atau cacian. Ada bentuk lain yang tak kalah merusak, yaitu bullying relasional. Ini adalah tindakan mengucilkan, mendiamkan, atau tidak menganggap keberadaan seseorang sama sekali.
Pernah ada seorang santri yang mendapatkan bullying relasional ini di sebuah pesantren. Dampak dari ‘perang dingin’ ini bisa merayap ke dalam fisik dan jiwa anak. Konsentrasinya hancur, membuat nilai-nilainya anjlok. Kepalanya diserang rasa sakit yang begitu hebat hingga seorang terapis menggambarkannya seolah “saraf-saraf di kepala itu sampai melilit-lilit”. Bahkan lambungnya memberontak, menyebabkannya sering muntah-muntah.
Kisah ini menjadi pengingat bahwa luka emosional akibat pengabaian sosial bisa sama berbahayanya, bahkan lebih merusak, daripada kekerasan fisik yang terlihat mata.
3. Reaksi Korban Ternyata Menentukan Nasibnya
Menjadi ‘Bully-able’: Mengapa Beberapa Anak Selalu Menjadi Sasaran?
Pernahkah Anda melihat seorang anak yang sepertinya selalu menjadi sasaran bullying di mana pun ia berada? Fenomena ini disebut sebagai anak yang “bully-able”. Salah satu penyebab utama seorang anak menjadi target konstan bukanlah semata karena penampilan fisiknya, melainkan karena reaksinya.
Anak yang reaktif—mudah marah atau mudah menangis saat diganggu—cenderung menjadi korban favorit para pem-bully. Sebuah anekdot menceritakan tentang seorang anak laki-laki yang sangat reaktif. Ketika diejek karena memakai jam tangan berwarna merah, ia langsung mengamuk. Reaksinya yang eksplosif inilah yang membuat teman-temannya semakin senang mengganggunya.
Titik baliknya terjadi ketika ia belajar untuk tidak lagi reaktif. Saat ditanya bagaimana reaksinya sekarang jika diejek, ia menjawab, “Ah diemin aja. Entar kalau aku ngelawan juga tambah ramai.” Dengan mengubah reaksinya menjadi lebih tenang, teman-temannya pun berhenti mengganggunya. Ini menunjukkan bahwa mengajarkan anak untuk mengelola respons emosional mereka adalah salah satu kunci pertahanan diri yang paling efektif melawan bullying.
4. Akar Masalah Bullying Jauh Lebih Dalam dari Sekadar “Kenakalan Remaja”
Sistem Hidup Materialistis dan Sekuler sebagai Biang Keladi
Mengatasi bullying dengan hanya menasihati anak atau menghukum pelaku tidak akan menyelesaikan masalah hingga ke akarnya. Akar masalah bullying bersifat sistemik, yang bersumber dari “sistem hidup kapitalis” yang berlaku saat ini. Ada tiga pilar utama dari sistem ini yang secara aktif menciptakan dan menyuburkan perilaku bullying:
- Materialisme: Sistem ini mengajarkan manusia untuk menilai segala sesuatu dari materi. Akibatnya, perbedaan fisik seperti warna kulit “hitam” atau rambut “keriting” menjadi bahan ejekan yang lumrah karena manusia diukur dari standar fisik yang dangkal.
- Industri Hiburan yang Bebas: Industri hiburan kemudian menjadi ‘sekolah’ tidak resmi bagi para calon pem-bully. Tayangan seperti prank yang merendahkan martabat orang lain dianggap wajar dan menghibur selama menghasilkan uang. Tontonan ini menjadi contoh buruk yang menormalisasi kekejaman dan ditiru oleh anak-anak.
- Sekularisme: Agama dijauhkan dari kehidupan sehari-hari dan pendidikan. Pelajaran agama yang minim gagal membentuk cara berpikir dan bersikap yang berlandaskan moralitas. Ketiadaan benteng iman yang kuat ini menciptakan kekosongan moral, yang membuat anak-anak tidak memiliki alasan kuat untuk tidak menyakiti orang lain.
Tanpa memperbaiki akar masalah yang bersifat sistemik ini, segala upaya untuk menanggulangi bullying hanya akan menjadi solusi sementara.
5. Islam Menawarkan Solusi Tegas, Bukan Sekadar Nasihat
Peringatan Keras dari Al-Qur’an dan Solusi ‘FBI’
Islam tidak memandang bullying sebagai kenakalan biasa. Al-Qur’an memberikan peringatan yang sangat tegas dalam Surat Al-Hujurat ayat 11, yang mengaitkan perilaku mencela dan mengolok-olok dengan tingkat keimanan seseorang dan menganggapnya sebagai sebuah kezaliman.
“Hai orang-orang yang beriman, janganlah sekumpulan orang laki-laki merendahkan kumpulan yang lain, boleh jadi yang ditertawakan itu lebih baik dari mereka. Dan jangan pula sekumpulan perempuan merendahkan kumpulan lainnya, boleh jadi yang direndahkan itu lebih baik… dan janganlah suka mencela dirimu sendiri dan jangan memanggil dengan gelaran yang mengandung ejekan. Seburuk-buruk panggilan adalah (panggilan) yang buruk sesudah iman dan barangsiapa yang tidak bertobat, maka mereka itulah orang-orang yang zalim.” (QS. Al-Hujurat: 11)
Berdasarkan landasan ini, bisa dirumuskan solusi praktis yang disingkat sebagai “FBI”:
- F – Fungsi Keluarga Dikuatkan: Peran utama orangtua adalah menanamkan akidah yang kokoh, membangun rasa percaya diri anak sebagai makhluk ciptaan Allah yang sempurna, dan menjadi teladan dalam berakhlak.
- B – Bangkitkan Kepedulian Sosial: Masyarakat harus proaktif untuk saling mengingatkan dan menunjukkan kepedulian. Ini termasuk memberi perhatian dan kasih sayang kepada pelaku bullying, yang seringkali merupakan anak yang kurang perhatian.
- I – Islam Diterapkan secara Kafah: Solusi pamungkas yang bersifat sistemik adalah melalui negara yang menerapkan syariat Islam secara menyeluruh. Ini mencakup kurikulum pendidikan yang membentuk karakter saleh hingga sistem sanksi yang sangat tegas. Untuk menggambarkan betapa seriusnya Islam memandang kekerasan fisik, sanksi diyat (kompensasi) menetapkan hukuman yang mengejutkan: menghilangkan satu gigi saja hukumannya setara dengan lima ekor unta, mencederai satu jari tangan hukumannya 10 ekor unta, dan merusak organ vital bisa mencapai 100 ekor unta. Sanksi yang memberikan efek jera seperti inilah yang akan membuat siapapun berpikir ribuan kali sebelum berani melukai orang lain.
***
Langkah Apa yang Bisa Kita Ambil Hari Ini?
Mengatasi wabah bullying bukanlah tugas yang bisa diselesaikan seorang diri. Ia memerlukan kesadaran dan upaya di berbagai level: dimulai dari introspeksi diri kita sebagai orangtua, memperkuat benteng keluarga, membangun kepedulian di tengah masyarakat, hingga memperjuangkan solusi sistemik yang lebih mendasar. Setelah mengetahui akar masalahnya yang begitu dalam, peran apa yang akan kita pilih untuk melindungi generasi kita dari lingkaran kekerasan ini?[]
Disarikan dari kajian dengan tema tersebut di NSTV:
