Di penghujung tahun, saat hiruk pikuk perayaan dan liburan mencapai puncaknya, momen ini menjadi titik krusial untuk berhenti sejenak dan merenung. Bagi sebuah keluarga Muslim, akhir tahun bukan sekadar penanda kalender, melainkan sebuah pengingat akan pentingnya menjaga kemurnian identitas di tengah derasnya arus budaya dan pemikiran asing. Tulisan ini adalah sebuah perjalanan reflektif untuk secara sadar memahami berbagai ancaman yang mengintai, dan yang lebih penting, bagaimana kita dapat membangun benteng pertahanan yang kokoh bagi keluarga kita, berlandaskan nilai-nilai luhur Islam sebagaimana diuraikan dalam sumber pencerahan kita.
Mengenali Ancaman dari Luar
Langkah pertama dalam membangun pertahanan yang efektif adalah dengan mengenali secara jernih ancaman apa saja yang kita hadapi. Tanpa pemahaman ini, kita akan lengah dan mudah tergerus oleh pengaruh yang datang tanpa kita sadari.
Perayaan Tahun Baru Masehi, yang sering kali dianggap sebagai acara kumpul-kumpul biasa, sesungguhnya mengandung beberapa bahaya laten bagi akidah seorang Muslim. Ada tiga hal yang perlu diwaspadai:
- Ikhtilat: Terjadinya campur baur antara laki-laki dan perempuan yang bukan mahram dalam satu tempat tanpa adanya batasan. Hal ini bertentangan dengan tabiat kehidupan kaum Muslim yang pada dasarnya terpisah antara laki-laki dan perempuan untuk menjaga kehormatan.
- Tasyabbuh bil Kuffar: Menyerupai kebiasaan atau ritual kaum non-Muslim. Rasulullah ﷺ telah memberikan peringatan tegas dalam sebuah hadits yang berarti, “Barang siapa yang menyerupai suatu kaum, maka ia termasuk golongan mereka.” Mengikuti perayaan mereka, meskipun hanya sekadar meniup terompet atau menyalakan kembang api, dapat menjerumuskan kita ke dalam tindakan menyerupai ini. Sudahkah kita bertanya pada diri sendiri, “Apakah tradisi yang saya ikuti ini mendekatkan saya kepada Allah, atau justru meniru kaum yang tidak beriman?”
- Budaya Asing: Perayaan 1 Januari bukanlah budaya yang lahir dari rahim peradaban Islam. Sejarah mencatat bahwa penetapannya berasal dari tradisi Kaisar Romawi Julius Caesar, yang kemudian diresmikan ulang oleh pemimpin tertinggi Katolik, Paus Gregorius XIII, pada tahun 1582. Dengan demikian, merayakannya berarti mengadopsi budaya yang akarnya tidak berasal dari ajaran kita.
Selain perayaan yang bersifat seremonial, ancaman yang lebih halus dan berbahaya datang dalam bentuk pemikiran-pemikiran yang dapat merusak pondasi akidah keluarga.
|
Pemikiran Asing |
Ancaman Terhadap Akidah Keluarga |
| Moderasi Beragama | Ide ini mengajarkan bahwa “semua agama sama dan benar” yang secara langsung mengikis keyakinan fundamental bahwa Islam adalah satu-satunya agama yang benar di sisi Allah. Hal ini melahirkan sikap toleransi kebablasan seperti ikut serta dalam perayaan agama lain. Ide ini bahkan ditanamkan sejak dini melalui tontonan populer hingga buku pelajaran PAUD seperti “membangun jembatan hati”. |
| Hak Asasi Manusia (HAM) | Konsep ini, yang lahir dari sistem sekuler kapitalisme yang mengagungkan kebebasan individu, sering digunakan sebagai tameng untuk melegalkan maksiat dan menentang syariat. Kewajiban menutup aurat, misalnya, bisa dianggap melanggar kebebasan individu karena menjadikan keinginan manusia sebagai standar, bukan wahyu Allah. |
| Feminisme | Gagasan “kesetaraan” antara laki-laki dan perempuan serta slogan “tubuhku adalah milikku” (my body is mine) bertentangan secara diametral dengan konsep Islam. Gagasan ini sering mengkritik peran yang ditetapkan Allah, seperti dalam ayat “arrijalu qawwamuna ‘ala nisa,” Dalam kehidupan sehari-hari, ini termanifestasi dalam kritik halus seperti “perempuan tidak boleh main mobil-mobilan” atau “laki-laki tidak boleh main boneka” yang mengaburkan fitrah. |
Kesadaran akan ancaman-ancaman ini bukanlah untuk menimbulkan ketakutan, melainkan untuk membangkitkan kewaspadaan dan mengarahkan kita pada sumber kekuatan sejati: benteng pertahanan yang telah Islam siapkan dari dalam.
Membangun Benteng Pertahanan Keluarga
Alhamdulillah, Islam tidak membiarkan kita tanpa senjata. Agama kita telah menyediakan perangkat yang lengkap untuk membangun sebuah benteng pertahanan yang kokoh bagi setiap keluarga Muslim.
Pondasi paling fundamental dari benteng ini adalah akidah Islam yang kokoh. Menanamkan keyakinan yang benar tentang Allah, Rasul-Nya, dan Hari Akhir sejak dini kepada anak-anak adalah langkah pertama dan utama. Kecintaan yang mendalam kepada Allah dan Rasulullah ﷺ akan menjadi benteng pertama dan terkuat yang secara otomatis akan menolak berbagai pemikiran sesat dan budaya asing yang bertentangan dengan apa yang mereka cintai.
Setiap aturan dan hukum Islam harus menjadi panduan dalam setiap aspek kehidupan sehari-hari. Islam harus menjadi standar, sementara budaya adalah objek yang distandarisasi. Bukan sebaliknya. Budaya lokal, seperti tradisi sajen, harus diukur dengan standar Islam dan ditolak jika bertentangan. Ini menuntut kita untuk selalu bertanya secara reflektif: “Bagaimana saya memastikan keputusan keluarga kami, dari hal kecil seperti pilihan tontonan hingga hal besar seperti pendidikan anak, selalu merujuk pada standar Islam?“
Berikut adalah tiga langkah praktis yang dapat kita terapkan untuk memperkuat benteng pertahanan keluarga kita:
- Mengkaji Islam sebagai Ideologi: Ada perbedaan krusial antara mempelajari Islam sekadar sebagai pengetahuan dan menjadikannya sebagai jalan hidup (mabda). Mengkajinya sebagai ideologi berarti Islam menjadi lensa yang kita gunakan untuk memandang dan menilai segala sesuatu di dunia ini, bukan sekadar kumpulan informasi yang disimpan dalam memori.
- Menjelaskan Kekeliruan Pemikiran Asing: Orangtua memiliki peran vital untuk bersikap proaktif, bukan reaktif. Jangan menunggu mereka bertanya. Jelaskan secara aktif mengapa pemikiran seperti moderasi beragama, HAM sekuler, dan feminisme bertentangan dengan Islam. Tunjukkan bahayanya dengan cara yang sesuai dengan usia dan pemahaman mereka.
- Memilih Lingkungan Pendidikan yang Tepat: Rumah adalah benteng utama, tetapi lingkungan (biah) juga sangat berpengaruh. Memilih sekolah, pondok, atau lembaga pendidikan yang menerapkan kurikulum berbasis akidah Islam akan menciptakan lingkungan yang mendukung dan memperkuat apa yang telah kita tanamkan di rumah.
Namun, pertahanan sebuah keluarga tidak dapat berdiri sendiri di tengah lautan. Ia membutuhkan dukungan dari benteng-benteng lain di sekitarnya.
Peran Kita di Lingkup yang Lebih Luas
Benteng keluarga akan semakin kokoh dan sulit ditembus jika ia ditopang oleh masyarakat yang peduli dan sebuah sistem negara yang kondusif. Ketiganya adalah pilar yang saling menguatkan, terutama dalam menghadapi ancaman sistemis yang lahir dari rahim sekuler-kapitalisme.
Pertahanan yang komprehensif membutuhkan sinergi dari tiga pilar utama:
- Individu dan Keluarga: Berperan menciptakan ketakwaan individu sebagai fondasi dasar.
- Masyarakat: Melaksanakan fungsinya sebagai kontrol sosial melalui amar makruf nahi mungkar (mengajak pada kebaikan dan mencegah kemungkaran).
- Negara: Memiliki peran terbesar sebagai benteng utama yang melawan arus sistemis. Dengan menerapkan syariat Islam secara kaffah, negara menyelenggarakan sistem pendidikan Islam yang murni, menutup pintu bagi media yang merusak, dan secara aktif melawan sistem sekuler-kapitalisme yang merupakan sumber dari pemikiran-pemikiran rusak tersebut.
Komitmen Pribadi dan Langkah ke Depan
Perenungan ini menyadarkan kita bahwa menjaga identitas keluarga Muslim bukanlah tugas pasif, melainkan sebuah perjuangan aktif yang membutuhkan ilmu, kesabaran, dan strategi. Ini bukan hanya tentang menolak perayaan tahun baru, tetapi tentang membangun sebuah perisai pemikiran dan gaya hidup Islami yang utuh. Sebagai langkah awal, marilah kita bersama-sama berkomitmen untuk:
- Memulai Kajian Keluarga Rutin: Mengalokasikan waktu khusus setiap pekan untuk mengkaji Islam sebagai ideologi bersama seluruh anggota keluarga, tidak hanya sebagai pengetahuan, tetapi sebagai jalan hidup.
- Mendiskusikan Satu Pemikiran Asing: Dalam sebulan ke depan, secara khusus mengajak anak-anak berdiskusi tentang salah satu ide (misalnya, feminisme atau HAM) yang mereka temui di media sosial, dan membahasnya dari sudut pandang Islam.
- Menjadi Bagian dari Masyarakat Peduli: Berupaya lebih aktif dalam lingkungan sekitar untuk turut serta menciptakan suasana yang Islami, dimulai dari hal-hal kecil seperti mengingatkan dengan cara yang baik dan santun.[]
Disarikan dari kajian dengan tema tersebut di NSTV:
