Lebih dari Sekadar Wejangan Biasa
Istilah “nasihat” seringkali kita pahami secara sempit, hanya sebatas wejangan atau saran dari satu orang ke orang lain. Namun, tahukah Anda bahwa dalam sebuah hadits fundamental, ‘nasihat’ memiliki makna yang jauh lebih dalam dan mencakup seluruh pilar kehidupan seorang Muslim? Ada lima lapisan makna ‘nasihat’ yang akan mengubahnya dari sekadar kata kerja menjadi DNA dari seluruh bangunan Islam—mulai dari akidah personal hingga struktur kenegaraan.
[#1] – “Nasihat” bukan sekadar Saran, tapi Inti dari Ketulusan (Ikhlas)
Secara linguistik, akar kata dari “nasihah” adalah annush, yang secara bahasa berarti alkulus atau kemurnian dan ketulusan. Dari sini, para ulama mendefinisikannya sebagai “menghendaki kebaikan bagi orang yang dinasihati (iradatul khair lil mansub)”.
Ini adalah pergeseran paradigma yang fundamental. Inti dari nasihat bukanlah rangkaian kata-kata yang diucapkan, melainkan sebuah sikap hati yang tulus dan murni. Jadi, ketika Islam disebut sebagai nasihat, artinya esensi agama ini adalah sebuah kehendak aktif dan tulus (iradatul khair) untuk menghadirkan kebaikan bagi siapa pun yang menjadi objeknya—baik itu Allah, Rasul-Nya, pemimpin, maupun masyarakat umum.
[#2] – Hadits Ini adalah Poros Islam yang Menggabungkan Spiritualitas dan Politik
Hadits ini memiliki kedudukan yang sangat agung di mata para ulama. Imam an-Nawawi bahkan menegaskan statusnya yang luar biasa. Imam an-Nawawi rahimahullah berkata, “Hadits ini adalah hadits yang sangat agung, dan padanya terdapat poros Islam.”
Mengapa ia disebut “poros Islam”? Karena hadits ini secara brilian menggabungkan dua aspek vital dalam satu tarikan napas: spiritualitas (ruhiyah) dan politik (siyasiyah).
- Aspek Spiritual: Terlihat jelas dalam perintah untuk memberikan “nasihat” kepada Allah, kitab-Nya (Al-Qur’an), dan Rasul-Nya. Ini adalah ranah hubungan vertikal antara hamba dengan Sang Pencipta.
- Aspek Politik: Terwujud dalam perintah untuk memberikan “nasihat” kepada para pemimpin kaum Muslim (aimmatil muslimin) dan masyarakat umum (ammatihim). Ini mencakup ranah horizontal yang mengatur urusan kemasyarakatan dan kenegaraan.
Inilah bukti tak terbantahkan bahwa dalam pandangan Islam, spiritualitas dan politik bukanlah dua entitas terpisah, melainkan dua sisi dari mata uang yang sama, yang diikat oleh satu poros: nasihat. Struktur hadits ini secara tegas menunjukkan kesempurnaan Islam yang tidak mengenal pemisahan antara agama dan kehidupan (sekularisme).
[#3] – “Nasihat” kepada Allah, Rasul, dan Al-Qur’an adalah Komitmen Total untuk Tunduk dan Taat
Memberikan “nasihat” kepada Allah, Rasul, dan Al-Qur’an bukanlah berarti kita memberi saran kepada mereka. Sebaliknya, ini adalah wujud komitmen dan ketulusan kita dalam bentuk ketundukan dan ketaatan total. Berikut rinciannya:
- Nasihat untuk Allah: Ini berarti mengesakan-Nya dalam ibadah dan sifat-sifat-Nya (tauhid). Wujudnya adalah dengan tidak menyekutukan-Nya dengan apa pun, serta menggantungkan seluruh harapan (raghbah) dan rasa takut (rahbah) hanya kepada-Nya. Ibadah, doa, dan persembahan kita murni ditujukan hanya untuk Allah SWT.
- Nasihat untuk Al-Qur’an: Diwujudkan dengan membacanya, menghafalnya, dan mentadaburi maknanya. Namun yang terpenting adalah bersungguh-sungguh untuk mengamalkan hukum-hukum yang terkandung di dalamnya dalam segenap aspek kehidupan, baik pribadi, masyarakat, maupun negara.
- Nasihat untuk Rasulullah ﷺ: Ini berarti membenarkan kenabiannya, menerima semua ajaran yang beliau bawa tanpa keraguan, menaati seluruh perintah dan larangannya, serta menjadikan syariat yang beliau sampaikan sebagai satu-satunya hukum dalam menyelesaikan perselisihan.
[#4] – “Nasihat” kepada Pemimpin adalah Taat dalam Kebaikan dan Mengoreksi Jika Menyimpang
Makna nasihat li aimmatil muslimin (nasihat kepada para pemimpin kaum Muslim) memiliki beberapa dimensi utama. Pertama, memberikan ketaatan kepada mereka dalam hal yang makruf (sesuai syariat). Ini diwujudkan dengan menunaikan kewajiban sebagai warga negara, seperti membayar zakat kepada negara (baitul mal), hingga berjihad di bawah komando mereka untuk membela Islam.
Namun, bentuk nasihat terpenting lainnya adalah melakukan muhasabah atau koreksi ketika mereka keliru atau menyimpang dari hukum Allah. Tujuan dari koreksi ini bukanlah untuk memberontak, melainkan lahir dari ketulusan dan keinginan agar sang pemimpin menjadi pemimpin yang adil, selamat di akhirat, dan tidak berbuat zalim dengan tidak menerapkan syariat. Kewajiban melakukan muhasabah ini secara fundamental menolak gagasan sekuler yang menganggap pemimpin berada di luar jangkauan kritik agama. Justru, dalam Islam, kesalehan seorang pemimpin diukur dari ketaatannya pada syariat, dan nasihat umat adalah mekanismenya.
[#5] – “Nasihat” kepada Masyarakat adalah Membangun Kontrol Sosial dan Amar Makruf Nahi Munkar
Jika nasihat kepada pemimpin adalah bentuk kontrol vertikal, maka nasihat li ammatihim (nasihat untuk kaum Muslim secara umum) adalah wujud kontrol horizontal yang menjaga kesehatan sosial umat. Ini diwujudkan dengan mencintai kebaikan untuk sesama Muslim sebagaimana kita mencintainya untuk diri kita sendiri.
Wujud praktis yang paling signifikan dari nasihat ini adalah menjalankan amar ma’ruf nahi munkar (mengajak pada kebaikan dan mencegah dari kemungkaran). Rasulullah ﷺ menganalogikan masyarakat ibarat penumpang di sebuah kapal. Jika ada yang melubangi bagian bawah kapal dengan dalih, “Ini adalah hak saya di bagian saya,” dan penumpang lain membiarkannya atas nama toleransi yang keliru, maka seluruh kapal akan tenggelam. Membiarkan kemungkaran merajalela tanpa adanya kontrol sosial berarti kita tidak menasihati masyarakat, dan pada akhirnya keburukan itu akan menimpa semua orang.
***
Jadilah Agen “Nasihat” dalam Arti yang Sebenarnya
Jelaslah bahwa “nasihat” dalam Islam bukanlah sekadar ucapan basa-basi. Ia adalah sebuah komitmen total yang berlandaskan ketulusan—sebuah energi yang menggerakkan tauhid seorang hamba, menghidupkan Al-Qur’an, menuntut ketaatan dan koreksi pada pemimpin, serta membangun kontrol sosial yang solid di tengah umat.
Pada akhirnya, memahami ‘agama adalah nasihat’ secara utuh adalah memahami penolakan total Islam terhadap sekularisme. Ia menuntut kita untuk tidak pernah memisahkan ketulusan iman kepada Allah dari kepedulian aktif terhadap urusan masyarakat dan negara.[]
Disarikan dari kajian dengan tema tersebut di NSTV:
