Membaca Ulang Sejarah Sang Pangeran
Sejarah pahlawan nasional yang kita pelajari di bangku sekolah sering kali terasa sederhana: seorang pangeran marah karena tanah leluhurnya dipasangi patok, lalu perang pun berkobar. Namun, sejarah seringkali ditulis oleh pemenang, dan narasi yang kita terima bisa jadi merupakan hasil dari “cara pandang Netherlandosentris” atau sudut pandang Belanda. Akibatnya, banyak sisi lain dari seorang tokoh besar seperti Pangeran Diponegoro yang tersembunyi atau sengaja dihilangkan.
Akan kita telisik lebih dalam, mengungkap beberapa kisah mengejutkan (untold story) dari kehidupan dan perjuangan Pangeran Diponegoro yang akan mengubah cara pandang kita terhadap sosok pahlawan ini.
Motivasi Sebenarnya Perang Jawa: Jauh Melampaui Sekadar Patok Besi
Kisah yang paling umum kita dengar adalah Perang Jawa (1825-1830) meletus karena Pangeran Diponegoro murka saat Belanda memasang patok-patok besi di tanah leluhurnya. Meskipun peristiwa itu memang terjadi, narasi alternatif menunjukkan bahwa itu hanyalah pemicu terakhir, bukan penyebab utama.
Motivasi inti perjuangan Diponegoro jauh lebih dalam dan bersifat religius. Ia menyaksikan langsung bagaimana intervensi kolonial Belanda telah merusak tatanan moral dan sosial di dalam keraton-keraton Jawa. Kemungkaran ini menjadi nyata dalam berbagai bentuk penghinaan: Residen Belanda, Anthony Hendrik Smitsert, dengan angkuh kerap duduk di singgasana Kesultanan Yogyakarta, sebuah pelecehan terhadap kedaulatan keraton. Lebih jauh lagi, pengangkatan sultan-sultan baru harus mendapat pengakuan dan legitimasi dari pemerintah kolonial.
Kerusakan dan kemungkaran inilah yang mendorongnya untuk menjalankan kewajiban sebagai seorang pemimpin Muslim, yaitu melakukan nahi mungkar (mencegah kejahatan). Perjuangannya bukanlah sekadar pemberontakan atas tanah, melainkan sebuah jihad fisabilillah untuk menegakkan kembali prinsip-prinsip Islam yang tergerus oleh pengaruh penjajah. Sebagai keturunan Sultan dan wali bagi keponakannya, Sultan Hamengkubuwono V, ia merasa memiliki kekuasaan dan tanggung jawab untuk bertindak, sesuai dengan ajaran Nabi Muhammad SAW.
Tiga Kali Berhaji sebelum Perang Berkobar
Narasi sejarah populer sering menyebutkan bahwa salah satu bujukan licik Belanda untuk menangkap Diponegoro adalah dengan janji akan memberangkatkannya ke Tanah Suci untuk berhaji. Ini seolah menyiratkan bahwa sang pangeran belum pernah menunaikan rukun Islam kelima tersebut.
Namun, kisah yang tak banyak diungkap justru menyatakan sebaliknya. Menurut versi ini, Pangeran Diponegoro telah menunaikan ibadah haji sebanyak tiga kali, bahkan salah satunya merupakan “Haji Akbar” karena wukuf di Arafah jatuh pada hari Jumat. Klaim ini diperkuat ketika Prof. Dr. Peter Carey, salah satu sejarawan Barat terkemuka tentang Diponegoro, dalam sebuah forum publik akhirnya mengakui bahwa sang pangeran memang pernah berhaji tiga kali.
Ibadah haji terakhirnya pada tahun 1824, tepat satu tahun sebelum perang meletus, menjadi momen yang sangat krusial. Di salah satu sudut Ka’bah, ia menerima bai’at (sumpah setia) dari para pengikutnya dan dianugerahi gelar agung: Sultan Ngabdul Kamid Heru Cokro Sayidin Panatagama Khalifatullah ing tanah Jawa. Nama “Ngabdul Kamid” diambil sebagai penghormatan kepada Khalifah Utsmaniyah yang berkuasa saat Diponegoro lahir (1785), yaitu Sultan Abdul Hamid I. Gelar ini menegaskan posisinya bukan hanya sebagai pangeran, tetapi sebagai pemimpin spiritual dan pemegang otoritas agama tertinggi di seluruh tanah Jawa.
Koneksi Utsmaniyah: Gaya Militer dan Busana dari Istanbul
Struktur militer pasukan Diponegoro ternyata tidak murni berakar dari tradisi Jawa. Menurut untold story ini, pasukannya mengadopsi struktur dan strata militer dari Kekhalifahan Utsmaniyah (Osmanli Hilafeti) yang berpusat di Istanbul, yang saat itu dipandang sebagai pemimpin umat Islam sedunia.
Jembatan penghubung antara Jawa dan Istanbul ini difasilitasi oleh tokoh-tokoh kunci seperti Kyai Badruddin dan Haji Ngisho, yang bekerja sama dengan 15 syaikh utusan yang dipimpin oleh Syekh Abdul Syukur. Merekalah yang membantu mengimplementasikan struktur militer Utsmaniyah ke dalam laskar Diponegoro. Pengaruh ini terlihat jelas dari istilah-istilah kepangkatan yang digunakan, seperti:
- Ali Basyah (Panglima Perang/Komandan Divisi)
- Basah (Komandan Brigade)
- Dulah (Komandan Batalion)
Nama-nama kesatuan pasukannya pun berbau Turki, seperti Turkio dan Bulkyo.
Tidak hanya dalam militer, penampilan pribadi Diponegoro setelah tahun 1824 juga mencerminkan koneksi ini. Ia selalu tampil di muka umum mengenakan sorban putih dan gamis. Cara ia membawa kerisnya pun berbeda. Bukan diselipkan di pinggang atau punggung seperti ksatria Jawa pada umumnya, melainkan dipasang di bawah dada, meniru gaya para Sultan Utsmaniyah yang menyematkan sanjar (pedang pendek) mereka. Ini adalah simbolisasi dirinya sebagai “raja umat Islam ing tanah Jawa”.
Misteri Penangkapan di Magelang
Inilah kisah yang paling kontroversial dan mengejutkan. Pihak Belanda, termasuk Jenderal de Kock, sebenarnya tidak pernah tahu persis seperti apa rupa Pangeran Diponegoro. Ketidaktahuan ini membuka celah bagi sebuah siasat balasan yang cerdik, yang didalangi oleh tokoh tak terduga: Sultan Abdurrahman Pakunataningrat dari Sumenep.
Awalnya, Jenderal de Kock mencoba memprovokasi Sultan Abdurrahman untuk melawan Diponegoro, dengan menyebar fitnah bahwa Diponegoro adalah pemberontak yang ingin merebut tahta keponakannya sendiri. Namun, alih-alih termakan provokasi, Sultan Abdurrahman memutuskan untuk mencari kebenaran. Ia pergi menemui Diponegoro langsung di persembunyiannya di Gua Selarong.
Setelah mendengar langsung motivasi suci Diponegoro untuk melakukan nahi mungkar melawan penjajah, simpati dan kesetiaan Sultan Abdurrahman pun berbalik. Ia memutuskan untuk melindungi sang pangeran. Ketika Diponegoro diundang berunding di Magelang—yang sebenarnya adalah jebakan—Sultan Sumenep melancarkan siasat balasannya. Ia mengirimkan sosok pengganti.
Ada dua versi mengenai siapa sosok pengganti ini: ada yang menyebut ia adalah putra sulung Diponegoro, yaitu Diponegoro Anom, yang memiliki perawakan sangat mirip dengan ayahnya. Versi lain menyebut sosok itu adalah seorang abdi dalem atau santri setia yang siap menjadi martir demi melindungi pemimpinnya. Menurut kisah ini, sosok yang akhirnya ditangkap, diasingkan, dan wafat di Benteng Rotterdam, Makassar, bukanlah Pangeran Diponegoro yang asli. Sang Pangeran yang sesungguhnya berhasil diselamatkan dan menghabiskan sisa hidupnya dalam lindungan Kesultanan Sumenep.
***
Pahlawan yang Jauh Lebih Kompleks
Kisah-kisah yang tak banyak terungkap ini, terlepas dari perdebatan di antara para sejarawan, melukiskan potret Pangeran Diponegoro yang jauh lebih kaya dan multidimensi. Ia bukan sekadar pangeran yang berjuang mempertahankan tanah, melainkan seorang pemimpin Muslim yang taat, seorang ahli strategi dengan koneksi global hingga ke Utsmaniyah, dan seorang tokoh yang akhir hayatnya diselimuti misteri.
Hal ini mengajak kita untuk bertanya kembali: Kisah mana yang selama ini kita terima sebagai kebenaran, dan suara siapa yang belum sempat kita dengar dalam lembaran sejarah?[]
Disarikan dari kajian dengan tema tersebut di NSTV:
