Seringkali, kita ingin fokus menjadi pribadi yang baik: rajin beribadah, menjaga lisan, dan tidak mengganggu orang lain. Muncul pikiran, “Urus saja diri sendiri, yang penting saya dan keluarga selamat.” Sikap ini seolah mendapat pembenaran dari sebuah ayat yang sering disalahpahami, Surah Al-Maidah ayat 105, yang terjemahannya seakan-akan mendukung kita untuk tidak ikut campur urusan orang lain selama kita sudah berada di jalan yang benar. Namun, apakah benar dengan hanya menjadi orang baik secara pribadi, kita akan aman dari dampak keburukan yang terjadi di sekitar kita?
Membedah Kesalahpahaman: “Urus Saja Dirimu Sendiri”
Sikap apatis seringkali lahir dari pemahaman yang dangkal terhadap dalil agama. Mari kita bedah ayat yang sering dijadikan sandaran untuk sikap individualistis ini.
Makna Harfiah yang Menyesatkan
Allah SWT berfirman dalam Surah Al-Maidah ayat 105:
“Wahai orang-orang yang beriman, jagalah diri kalian; tiadalah orang yang sesat itu akan dapat memberi mudarat kepadamu apabila kamu telah mendapat petunjuk.”
Jika dipahami secara harfiah dan terpotong, ayat ini bisa menimbulkan sikap egois. Seseorang bisa keliru berpikir bahwa selama ia sudah saleh secara pribadi—melaksanakan salat, puasa, zakat, dan ibadah lainnya—maka ia akan aman. Ia merasa tidak akan terkena dampak buruk dari perbuatan zalim atau kesesatan yang dilakukan oleh para penguasa atau orang lain di sekitarnya.
Konsekuensi Sikap Apatis
Pemahaman yang keliru ini melahirkan sikap berbahaya yang merugikan diri sendiri dan komunitas secara keseluruhan. Berikut adalah beberapa konsekuensinya:
- Tidak Peduli: Seseorang menjadi acuh tak acuh terhadap kerusakan dan kezaliman yang dilakukan oleh orang lain. Muncul anggapan, “Itu urusan mereka, bukan urusanku.”
- Tanggung Jawab Semu: Timbul anggapan keliru bahwa dosa atau akibat buruk dari sebuah kezaliman hanya akan ditanggung oleh pelakunya saja, sementara orang lain yang diam akan aman.
- Pemahaman Iman yang Sempit: Makna “mendapat petunjuk” dipersempit sebatas menjalankan ibadah individual. Padahal, petunjuk yang sempurna juga mencakup pemenuhan tanggung jawab sosial.
Pelurusan dari Abu Bakar: Makna Sebenarnya dari “Mendapat Petunjuk”
Abu Bakar Ash-Shiddiq radhiyallahu ‘anhu, memahami potensi kesalahpahaman terhadap ayat di atas. Beliau kemudian meluruskannya dengan menjelaskan konteks yang lebih luas melalui sebuah hadits dari Rasulullah SAW.
Hadis Peringatan Keras
Abu Bakar meriwayatkan bahwa beliau mendengar Rasulullah SAW bersabda:
“Sesungguhnya manusia apabila mereka melihat orang zalim dan mereka tidak mencegah (perbuatannya), maka hampir-hampir Allah akan menimpakan hukuman kepada mereka secara menyeluruh.” (HR. Abu Daud & At-Tirmidzi)
Hadits ini menjadi penjelas bahwa “mendapat petunjuk” dalam ayat sebelumnya tidak bisa dilepaskan dari kewajiban mencegah kezaliman.
Menjadi Orang Baik Saja Tidak Cukup
Dengan menggabungkan ayat Al-Qur’an dan hadits tersebut, kita mendapatkan pemahaman yang utuh dan benar.
| Pemahaman Keliru | Pemahaman yang Benar (Sesuai Petunjuk Hadits) |
| Cukup saleh secara pribadi untuk aman. | Kesalehan pribadi harus disertai dengan kepedulian sosial, yaitu mencegah kemungkaran. |
| Dampak kezaliman hanya menimpa pelaku. | Dampak kezaliman yang dibiarkan akan menimpa semua orang, baik yang zalim maupun yang diam. |
| “Mendapat petunjuk” adalah sebatas ibadah ritual. | “Mendapat petunjuk” mencakup menjalankan kewajiban amar ma’ruf nahi mungkar, terutama dalam bentuk muhasabah lil hukam (mengoreksi penguasa). |
Konsep Saleh vs. Muslih
Dari perbandingan di atas, kita bisa melihat perbedaan krusial antara dua tipe manusia:
- Orang Saleh: Orang yang baik dan saleh untuk dirinya sendiri. Ibadahnya rajin, akhlaknya baik, namun belum tentu peduli untuk memperbaiki kerusakan di sekitarnya.
- Orang Muslih: Orang yang tidak hanya saleh untuk dirinya, tetapi juga aktif melakukan perbaikan (ishlah) dan mencegah kerusakan di tengah masyarakat.
Islam menuntut kita untuk menjadi keduanya. Tidak cukup hanya menjadi orang saleh, kita juga harus berjuang menjadi seorang muslih. Konsep menjadi ‘muslih’ ini bukan sekadar teori. Ia menjadi sangat relevan ketika kita melihat bagaimana diamnya orang-orang baik di hadapan kebijakan yang merusak dapat mengundang bencana bagi semua.
Dari Teori ke Realita: Ketika Kebijakan Mengundang Bencana
Banyak musibah yang terjadi belakangan ini, jika ditelusuri, bukanlah murni fenomena alam. Ada peran kebijakan dan keputusan manusia yang menjadi pemicunya.
Bencana Bukan Sekadar Takdir Alam
Bencana banjir bandang dan longsor dahsyat yang terjadi di berbagai wilayah, seperti di Sumatera, bukanlah murni takdir alam yang tak bisa dicegah. Di baliknya, seringkali ada “tangan-tangan manusia” dan “keputusan manusia.” Ada pemimpin yang dengan kebijakannya justru mengundang datangnya bencana.
Akar Masalah: Kezaliman Sistemik
Bentuk kezaliman ini seringkali bersifat sistemik dan tersembunyi di balik legalitas kebijakan. Berikut adalah beberapa bentuknya:
- Pemberian Izin Merusak: Kebijakan yang memberikan izin untuk pembalakan hutan secara brutal dan ugal-ugalan adalah bentuk kezaliman terhadap alam dan masyarakat. Hutan yang seharusnya menjadi penyerap air dan penahan longsor justru dibabat habis demi keuntungan segelintir pihak.
- Mengabaikan Keseimbangan Alam: Tindakan tersebut secara langsung merusak ekosistem yang berfungsi sebagai benteng pelindung alami bagi masyarakat. Ketika keseimbangan ini dirusak, bencana menjadi tak terelakkan.
- Mengorbankan Rakyat: Poin yang paling menyedihkan adalah korbannya. Yang kehilangan rumah, harta, bahkan nyawa adalah masyarakat awam yang tidak tahu-menahu. Sementara itu, para pembuat kebijakan dan pelaku perusakan mungkin tetap aman dan nyaman di tempat mereka. Inilah bukti nyata dari “hukuman yang merata” yang disebutkan dalam hadits.
Akar Ideologis: Kapitalisme
Penting untuk dipahami bahwa kebijakan-kebijakan zalim ini tidak lahir dari ruang hampa. Ia merupakan produk dari sebuah sistem dan ideologi yang berlaku, yang memang dari akarnya bersifat zalim: ideologi kapitalisme. Sistem ini secara natural akan terus memproduksi kebijakan yang merusak karena karakternya yang eksploitatif dan hanya berorientasi pada keuntungan materi segelintir pihak, meskipun harus mengorbankan kesejahteraan masyarakat luas dan kelestarian alam. Oleh karena itu, nahi mungkar yang sesungguhnya bukan hanya mengkritik satu kebijakan, tetapi juga mengoreksi sistem yang melahirkannya. Inilah yang disebut sebagai aktivitas politik (amal as-siyasiyah) dalam Islam: mengoreksi penguasa dan sistemnya agar kembali pada jalur syariat.
Suaramu adalah Benteng Pelindung Komunitas
Dari seluruh penjelasan di atas, kita dapat menarik kesimpulan yang sangat penting. Diam saat melihat kezaliman bukanlah pilihan yang aman. Justru, sikap diam di hadapan kezaliman sistemik adalah undangan bagi bencana yang akan menimpa semua. Oleh karena itu, mari kita pahami bahwa:
- Menjadi orang baik secara pribadi tidaklah cukup untuk menciptakan keamanan bersama. Kesalehan individual harus disempurnakan dengan kesalehan sosial yang aktif.
- Mendiamkan kezaliman sistemik yang lahir dari ideologi kapitalisme adalah tindakan yang membahayakan semua orang, karena akibatnya akan menimpa secara merata, baik yang zalim maupun yang diam.
- Menyuarakan kebenaran dan mencegah kemungkaran dalam bentuk muhasabah lil hukam (mengoreksi penguasa) adalah sebuah aktivitas politik (amal as-siyasiyah) yang vital. Ia bukan sekadar “ikut campur”, melainkan wujud nyata dari iman yang komprehensif dan menjadi benteng yang akan melindungi seluruh komunitas dari kehancuran.[]
Disarikan dari kajian dengan tema tersebut di NSTV:
