Pemimpin sebagai Perisai Umat
Dalam ajaran Islam, seorang pemimpin memiliki peran krusial sebagai junnah atau perisai yang melindungi rakyatnya dari berbagai ancaman dan kesulitan. Konsep kepemimpinan ini adalah cerminan dari Islam itu sendiri sebagai rahmatan lil ‘alamin (rahmat bagi seluruh alam), di mana aturannya yang komprehensif mencakup solusi untuk berbagai problematika hidup manusia, termasuk penanggulangan bencana. Sejarah peradaban Islam mencatat teladan luar biasa dari para pemimpin yang tidak hanya merespons bencana, tetapi juga membangun sistem preventif yang visioner. Kisah-kisah ini bukan hanya teladan kepemimpinan, tetapi juga menunjukkan evolusi dalam penanggulangan bencana: dari solusi reaktif berbasis infrastruktur di masa Umar, berkembang menjadi pendekatan proaktif berbasis data di era Abdul Malik, dan akhirnya melembaga menjadi sistem negara yang berkelanjutan di bawah Bani Abbasiyah.
Umar bin Khattab: Pelopor Pembangunan Tanggul Pelindung
Sayyidina Umar bin Khattab adalah Khalifah kedua setelah Rasulullah SAW. Beliau dikenal sebagai seorang pemimpin yang sangat tegas dalam kebenaran, namun hatinya begitu lembut dan peduli terhadap kondisi setiap individu rakyatnya. Kepemimpinannya menjadi model bagi para pemimpin generasi sesudahnya.
Pada masa pemerintahan Khalifah Umar, terjadi sebuah peristiwa banjir bandang yang dahsyat di kota Makkah. Banjir ini begitu besar hingga menggenangi area sekitar Ka’bah di Masjidil Haram. Peristiwa ini kemudian dikenal dengan sebutan “banjir Ummu Nashal”. Nama ini diabadikan untuk mengenang salah seorang korban jiwa dalam peristiwa tersebut, seorang wanita mukminah bernama Ummu Nashal binti Ubaidah bin Said.
Menghadapi tantangan ini, Khalifah Umar tidak hanya memberikan bantuan darurat, tetapi langsung mengambil langkah strategis dengan membangun infrastruktur pelindung. Dua kontribusi utamanya adalah:
- Tanggul Bagian Atas, dengan tujuan strategis dibangun untuk memecah dan membelokkan arus air yang deras. Tujuannya agar volume air bah tidak langsung menerjang dan merusak bangunan suci Ka’bah serta area Masjidil Haram.
- Tanggul Bagian Bawah (Rodam Al-Usaid), dengan tujuan strategis dibangun di area yang lebih rendah sebagai lapisan pelindung kedua. Rodam (sejenis tanggul atau bendungan) ini berfungsi menahan sisa aliran air dan mencegah genangan meluas ke pemukiman penduduk.
Kepemimpinan Khalifah Umar tidak hanya terbatas pada solusi fisik. Saat gempa bumi pernah mengguncang Madinah, respons beliau menunjukkan dimensi kepemimpinan spiritual yang utuh. Saat gempa mengguncang Madinah, beliau segera keluar dan menyeru kepada penduduk, menanyakan apakah ada di antara mereka yang telah berbuat maksiat. Beliau memahami bencana sebagai pengingat dari Allah, dan ajakannya menggerakkan umat untuk berintrospeksi dan beristigfar bersama, yang seketika itu menghentikan guncangan.
Dengan kebijakan infrastruktur dan spiritualnya, Umar bin Khattab secara nyata mewujudkan perannya sebagai junnah yang melindungi umat baik dari ancaman fisik maupun kelalaian spiritual. Inovasi yang dipeloporinya ini menjadi fondasi bagi upaya-upaya penanggulangan bencana yang lebih terstruktur oleh para pemimpin generasi berikutnya.
Abdul Malik bin Marwan: Pendekatan Berbasis Data
Khalifah Abdul Malik bin Marwan adalah salah satu pemimpin terkemuka dari Kekhalifahan Bani Umayyah. Pada masanya, pembangunan peradaban Islam terus berlanjut dengan berbagai inovasi dalam administrasi dan infrastruktur negara.
Di masa pemerintahannya, Makkah kembali dilanda banjir dahsyat yang dikenal sebagai “banjir Juhab” atau “Aljiraf”. Banjir ini memiliki dampak yang sangat unik dan mengganggu:
- Terjadi tepat pada musim haji, bahkan arusnya yang deras sampai menyapu para jamaah yang sedang melaksanakan tawaf di sekeliling Ka’bah.
- Banjir ini dijuluki “banjir almuhabal” (yang membingungkan), karena para korban yang selamat dilaporkan mengalami gangguan bicara sementara akibat trauma dan dampak dari peristiwa tersebut.
Mendengar laporan ini dari Damaskus, Khalifah Abdul Malik bin Marwan segera merumuskan solusi yang menunjukkan pendekatan yang sangat maju pada zamannya.
|
Tantangan |
Solusi Inovatif |
| Banjir bandang yang berulang dan mengancam keselamatan jamaah haji serta bangunan suci Ka’bah. | Membangun infrastruktur tanggul baru yang lebih kokoh, yang dikenal sebagai “Rodam Bani Qurad” atau “Rodam Jumah” (sejenis tanggul) untuk menangkal banjir. |
| Kebutuhan untuk memastikan tanggul yang dibangun benar-benar efektif dan tahan lama untuk masa depan. | Memerintahkan penghitungan curah hujan tahunan di Makkah. Ini adalah bentuk pendekatan berbasis data yang sangat modern, bertujuan untuk memastikan desain dan kekuatan bendungan sesuai dengan volume air maksimal yang mungkin terjadi. |
Dengan riset curah hujannya, Abdul Malik tidak hanya membangun tanggul, tetapi juga memperkuat perisai (junnah) perlindungan bagi umat dengan ilmu pengetahuan. Semangat untuk membangun infrastruktur publik yang melindungi umat ini terus diwariskan dan mencapai puncaknya pada masa kekhalifahan berikutnya, yaitu Bani Abbasiyah.
Harun Ar-Rasyid: Mega Proyek untuk Kesejahteraan Umat
Khalifah Harun Ar-Rasyid dari Bani Abbasiyah adalah salah satu pemimpin paling terkenal dalam sejarah Islam. Beliau dikenang karena perhatiannya yang luar biasa terhadap ilmu pengetahuan, pembangunan, dan terutama kesejahteraan rakyatnya.
Saat melakukan perjalanan ibadah haji dari ibu kota Baghdad ke Makkah, Khalifah Harun Ar-Rasyid mengidentifikasi secara langsung berbagai kesulitan yang dihadapi para peziarah dan penduduk lokal, mulai dari jalur perjalanan yang berat hingga ketersediaan air bersih.
Terinspirasi dari perjalanannya, beliau dan istrinya, Permaisuri Zubaidah, mendanai dua megaproyek dari harta pribadi mereka untuk kemaslahatan umat:
- Darb Zubaidah (Jalan Zubaidah): Sebuah proyek pembangunan infrastruktur jalan (darb) yang terstruktur dan aman, menghubungkan kota Kufah (Irak) dengan Makkah. Jalur ini dilengkapi dengan sumur dan tempat peristirahatan untuk memudahkan perjalanan ribuan jamaah haji setiap tahunnya.
- Ain Zubaidah (Mata Air Zubaidah): Sebuah sistem waduk, bendungan, dan kanal irigasi yang brilian di dekat Makkah. Proyek ain (mata air atau sumber air) ini memiliki fungsi ganda: di satu sisi, ia menjadi sumber air bersih yang vital bagi penduduk Makkah dan para jamaah haji. Di sisi lain, ia berfungsi sebagai sistem mitigasi banjir yang sangat efektif dengan menampung dan mengalirkan air hujan secara terkendali.
Pendekatan visioner ini tidak berhenti di level proyek. Putranya, Khalifah Al-Ma’mun, melanjutkan warisan ini dengan membentuk sebuah lembaga negara khusus bernama Diwan al-Aqrah (Departemen Pengairan). Pembentukan lembaga ini menandai pergeseran krusial dari solusi berbasis proyek individu menjadi pendekatan institusional yang permanen. Ini menunjukkan sebuah sistem pemerintahan yang matang dan berkelanjutan, di mana mitigasi bencana menjadi tanggung jawab negara yang terstruktur, bukan lagi hanya inisiatif seorang khalifah.
Ketiga pemimpin ini—Umar, Abdul Malik, dan Harun Ar-Rasyid—menunjukkan pola kepemimpinan Islam yang sama: proaktif dalam mengidentifikasi masalah, inovatif dalam mencari solusi, dan berorientasi penuh pada peran mereka sebagai junnah untuk melindungi serta menyejahterakan rakyat.
Sintesis: Pola Umum Penanggulangan Bencana dalam Sejarah Islam
Berdasarkan teladan para pemimpin di atas, dapat disarikan beberapa prinsip umum penanggulangan bencana yang menjadi standar dalam pemerintahan Islam:
- Respons Cepat dan Terpusat: Begitu bencana terjadi, negara tidak tinggal diam. Pemimpin segera menetapkan status darurat dan mengambil alih tanggung jawab penanganan secara penuh.
- Pemanfaatan Kas Negara (Baitul Mal): Dana dari kas negara dialokasikan secara khusus dan prioritas untuk membiayai operasi penyelamatan, bantuan bagi korban, dan pemulihan pasca-bencana.
- Pembangunan Infrastruktur Preventif: Fokus utama tidak hanya pada respons setelah bencana terjadi (reactive), tetapi pada upaya pencegahan (preventive). Pembangunan tanggul, bendungan, kanal, dan waduk adalah investasi jangka panjang untuk melindungi nyawa dan harta benda rakyat.
- Mobilisasi Aparatur Negara dan Umat: Seluruh pejabat dan aparatur negara dikerahkan untuk turun tangan. Di saat yang sama, umat, terutama kalangan yang mampu, didorong untuk berpartisipasi aktif menyalurkan bantuan.
- Dimensi Kepedulian Global: Rasa tanggung jawab ini melampaui batas geografis. Sebagai contoh, pada masa Khilafah Utsmaniyah, tercatat sejarah pengiriman bantuan senilai 25.000 keping emas untuk korban bencana banjir di Batavia (sekarang Jakarta), dan juga bantuan yang dikirim oleh Sultan Abdul Hamid II untuk para korban letusan dahsyat Gunung Krakatau pada tahun 1883 yang berdampak pada Banten dan Lampung. Ini menunjukkan kepedulian seorang pemimpin kepada kaum Muslim di manapun mereka berada.
Hikmah di Balik Musibah
Dari cara para pemimpin Islam memandang dan menangani bencana, kita dapat mengambil setidaknya tiga hikmah atau pelajaran abadi:
- Bencana sebagai Peringatan: Setiap musibah dipandang sebagai teguran dari Allah SWT agar manusia senantiasa berintrospeksi dan kembali pada jalan ketaatan.
- Ujian Kesabaran dan Keimanan: Bencana adalah ujian untuk mengukur dan meningkatkan kualitas kesabaran serta keimanan seorang hamba kepada Rabb-nya.
- Tanggung Jawab Manusia: Selain dimensi spiritual, Islam menekankan pentingnya ikhtiar dan tindakan nyata. Melakukan upaya preventif, membangun infrastruktur, dan mengelola alam secara bijaksana adalah bagian dari amanah manusia sebagai khalifah di muka bumi.[]
Disarikan dari kajian dengan tema tersebut di NSTV:
