Jebakan Abu-Abu di Tengah Kebisingan Modern
Pernahkah Anda merasakan semacam “getaran internal” yang tidak nyaman saat hendak mengambil sebuah pilihan hidup? Di tengah rimba informasi dan pilihan konsumsi yang masif hari ini, kita sering dipaksa berdiri di wilayah abu-abu—sebuah area remang bernama syubhat. Ketidakpastian ini bukan sekadar masalah teknis pilihan, melainkan pencuri ketenangan jiwa yang paling ulung.
Terdapat miskonsepsi umum dalam diskursus spiritualitas kita bahwa kebahagiaan adalah soal kebebasan memilih segalanya. Namun, Hadits Arbain ke-11 memberikan antitesis yang tajam melalui lisan cucu Rasulullah ﷺ, Al-Hasan bin Ali: “Tinggalkan apa yang membuatmu ragu menuju apa yang membuatmu tidak ragu.” Prinsip ini bukan saran moral, tapi sebuah miqyasul amal (standar perbuatan) yang mampu mengubah kegelisahan menjadi kemantapan langkah.
Seni Menavigasi Pasar (Wara’), Bukan Menghuni Gua (Uzlah)
Banyak orang mengira bahwa kesalehan yang tinggi—atau yang sering disebut sebagai wara’—berarti menarik diri dari realitas dunia (uzlah). Namun, jika kita menelaah sirah, Rasulullah ﷺ tidak menetap selamanya di Gua Hira. Beliau turun ke Makkah, masuk ke pasar, dan bergerak di tengah-tengah keramaian. Wara’ yang sejati adalah sikap aktif, bukan pasif; ia adalah keberanian untuk memilih di tengah kebisingan.
Tingkatan tertinggi takwa bukan sekadar menjauhi yang haram secara hukum formal, melainkan integritas organik untuk meninggalkan sebagian yang halal demi menjaga kesucian diri. Terkait hal ini, sahabat Abu Dzar Al-Ghifari radhiallahu ‘anhu merumuskan sebuah definisi yang sangat kuat:
“Kesempurnaan takwa (tamamut taqwa) adalah meninggalkan sebagian yang halal karena takut terjerumus ke dalam yang haram.”
Ini adalah bentuk pertahanan diri tingkat tinggi. Dengan menjauhi area syubhat, kita tidak sedang membatasi diri, melainkan sedang memastikan bahwa setiap sel dalam tubuh kita tumbuh dari sumber yang meyakinkan.
Psikologi Kejujuran: Getaran Jiwa dan Ketenangan Mental
Secara psikologis, ada kaitan erat antara integritas moral dengan stabilitas mental. Disebutkan bahwa kejujuran (ash-shidqu) membuahkan tuma’ninah (ketenangan), sementara kedustaan (al-kidzbu) memicu ribah atau keraguan. Ketika seseorang hidup dalam ketidakjujuran—seperti praktisi riba atau koruptor—secara spiritual terjadi qolq atau goncangan hebat di dalam hati.
Meskipun secara lahiriah seseorang terlihat bahagia dengan gelimang materi hasil syubhat, jiwanya akan selalu meronta di bawah dominasi nafsul ammarah bis-su’ (jiwa yang memerintah pada keburukan). Ketenangan sejati hanya milik mereka yang memiliki nafsul muthmainnah. Jiwa yang tenang ini lahir dari transparansi hidup; tidak ada rahasia gelap yang perlu disembunyikan, tidak ada getaran ragu yang menghantui setiap transaksi.
Genetika Spiritual: Belajar dari Sebutir Apel Tsabit
Kisah Tsabit, ayah dari Imam Abu Hanifah, memberikan pelajaran berharga tentang genetika spiritual. Ketidaksengajaan memakan sebutir apel yang hanyut di sungai membawanya pada perjalanan panjang mencari pemilik kebun demi sebuah kata halal. Upaya Tsabit yang terlihat berlebihan bagi standar manusia modern ini sebenarnya adalah investasi masa depan.
Integritas tanpa kompromi ini berbuah manis. Ia tidak hanya mendapatkan kehalalan, tetapi juga dianugerahi keturunan yang luar biasa. Dari kehati-hatian mengonsumsi makanan, lahirlah Imam Abu Hanifah, seorang pemikir besar dengan kecerdasan intelektual dan spiritual yang tak tertandingi. Ini membuktikan sebuah tesis penting: apa yang kita masukkan ke dalam tubuh hari ini akan membentuk karakter dan kualitas keturunan kita di masa depan. Kesucian konsumsi adalah fondasi dari kesucian visi hidup.
Kritik Sistemik: Individualisasi Tanggung Jawab dalam Sistem Sekuler
Mengapa mempraktikkan sikap wara’ terasa begitu berat hari ini? Kita harus berani melihat secara lebih luas pada struktur sistem kita. Dalam sistem sekuler-kapitalis saat ini, negara cenderung bersikap abai terhadap halal dan haram. Akibatnya, beban verifikasi sepenuhnya dipindahkan ke pundak individu.
Kita dipaksa menjadi “detektif halal” bagi diri sendiri—sibuk mengecek label dan memverifikasi komposisi—sementara sistem di hulu membiarkan kesyubhatan merajalela demi alasan ekonomi. Ini adalah fenomena “labeling vs pelarangan”. Dalam sistem Islam, negara seharusnya menjadi pelindung di hulu yang memastikan tidak ada peredaran barang haram atau syubhat, sehingga masyarakat bisa beribadah dan bekerja dengan tenang tanpa diliputi keraguan sistemik.
***
Rebut Kembali Kedaulatan Jiwa Anda
Kebahagiaan hakiki bukan ditemukan dalam kompromi-kompromi kecil yang meragukan, melainkan dalam ketegasan untuk berkata “tidak” pada yang remang. Meninggalkan yang meragukan adalah langkah awal untuk membangun standar hidup yang lebih mulia dan berwibawa.
Setiap kali Anda menolak transaksi yang tidak jelas atau konsumsi yang meragukan, Anda sebenarnya sedang membebaskan jiwa Anda dari penjara kegelisahan. Sebagai refleksi sebelum Anda melangkah lebih jauh hari ini, tanyakanlah pada diri sendiri:
Keputusan syubhat apa yang masih saya pertahankan hanya demi rasa nyaman sesaat? Dan siapkah saya menukarkan ketenangan abadi demi sesuatu yang membuat hati saya bergetar ragu?[]
Disarikan dari kajian dengan tema tersebut di NSTV:
