NgajiShubuh.or.id — Bayangkan ekonomi sebuah negara seperti aliran darah dalam tubuh manusia. Dalam sistem saat ini, “jantungnya” (bank dan pasar modal) bekerja seperti pompa yang menyedot darah dari seluruh tubuh, tapi hanya mengalirkannya ke bagian tangan kanan saja, sehingga bagian tubuh lainnya menjadi lumpuh dan kelaparan. Inilah gambaran sistem ekonomi kapitalisme yang jahat dan kejam. Sekarang, sistem kapitalisme merajai di seluruh dunia dipimpin oleh Amerika yang sangat sombong itu.
Sedangkan dalam sistem Islam, Baitulmal bekerja seperti jantung yang sehat, memastikan “nutrisi” dan “darah” (kekayaan) mengalir secara merata ke setiap sel tubuh (individu rakyat) sehingga seluruh bagian tubuh dapat tumbuh kuat secara proporsional. Inilah sistem Islam yang tidak dibangun oleh nafsu serakah seperti kapitalisme. Islam berbeda dengan kapitalisme sekuler. Sistem yang berkeadilan dan menyejahterakan mampu diwujudkan dalam sistem Islam, termasuk ekonominya.
Berbeda dengan sistem kapitalisme yang sangat menekankan pertumbuhan ekonomi secara makro, standar pembangunan dalam ekonomi Islam berfokus pada jaminan terpenuhinya kebutuhan dasar rakyat orang per orang,. Negara memiliki tanggung jawab penuh untuk memastikan tidak ada satu pun individu yang kelaparan atau tidak memiliki tempat tinggal.
Pemerintah tidak boleh terjebak dalam angka-angka pertumbuhan yang menipu, di mana pertumbuhan terlihat tinggi namun hanya dinikmati segelintir orang sementara rakyat bawah menderita. Kebutuhan dasar ini terbagi menjadi dua kategori utama. Pertama, kebutuhan dharuri meliputi sandang, pangan, dan papan. Jika kebutuhan ini tidak terpenuhi, nyawa manusia bisa terancam. Kedua, kebutuhan asasi meliputi pendidikan, kesehatan, dan keamanan. Dalam sistem Islam, negara wajib menyediakan fasilitas-fasilitas ini secara gratis bagi seluruh rakyat.
Tulang Punggung
Salah satu karakter khas ekonomi Islam adalah kewajiban untuk bergerak hanya di sektor riil, baik dalam aspek produksi, distribusi, maupun konsumsi barang dan jasa. Islam secara tegas melarang sektor non-riil atau sektor keuangan yang memperdagangkan uang sebagai komoditas. Aktivitas seperti riba di perbankan dan spekulasi di pasar modal dianggap sebagai “ekonomi setan” yang menciptakan gelembung ekonomi (bubble economics),. Gelembung ini membuat ekonomi terlihat membesar namun kosong, yang sewaktu-waktu bisa meledak dan menyebabkan krisis berulang.
Hal unik lainnya dalam politik ekonomi Islam adalah urutan tahapan pembangunannya. Jika sistem kapitalisme sering kali mendikte negara berkembang untuk memulai dari sektor pertanian yang akhirnya sering terjebak utang impor, Islam menekankan pembangunan dimulai dari industri berat. Dengan menguasai industri berat dan teknologi tinggi secara mandiri, sebuah negara dapat membangun pabriknya sendiri dan tidak bergantung pada negara lain. Hal ini akan mendorong kemandirian ekonomi dan menjadikan negara tersebut sebagai kekuatan dunia.
Untuk mewujudkan pembangunan yang adil, ekonomi Islam diibaratkan sebagai satu kesatuan tubuh yang utuh, yakni kepala, badan, dan kaki. Kepala yakni pengaturan kepemilikan harus tegas, yang terbagi menjadi kepemilikan individu, kepemilikan umum (seperti sumber daya alam), dan kepemilikan negara. Badan yakni pasar syariat. Menegakkan ekonomi pasar syariah yang terdiri dari delapan lapis aturan muamalah. Terakhir adalah kaki. Terdiri dari kebijakan fiskal (APBN Islam) dan kebijakan moneter berbasis emas serta perak.
Mewujudkan tatanan ekonomi yang adil dan makmur ini memerlukan kesadaran politik Islam di tengah masyarakat. Melalui dakwah dan pembentukan opini umum, umat diharapkan memahami bahwa Islam bukan sekadar agama ritual, melainkan solusi paripurna bagi problematik masyarakat. Selain itu, tidak bisa sistem ekonomi Islam berdiri sendirian, ketika ingin menerapkannya harus dengan penegakan sistem Islam secara totalitas dalam naungan Khilafah Islamiah.[] Ika Mawarningtyas
Disarikan dari kajian YouTube Ngaji Shubuh TV:
