Di tengah hiruk-pikuk kehidupan urban, kita sering kali terjebak dalam krisis identitas yang ganjil. Kita menggenggam telepon pintar tercanggih, bekerja di gedung-gedung pencakar langit yang megah, dan menjadikan internet sebagai urat nadi kehidupan. Namun, di balik kenyamanan materi itu, terselip sebuah kegelisahan: apakah untuk menjadi modern kita harus perlahan-lahan bertransformasi menjadi “Barat”? Apakah kemajuan teknologi secara otomatis menuntut kita mengadopsi cara mereka memandang kebebasan, moralitas, dan hak asasi?
Kebingungan ini bukanlah tanpa alasan. Kita sering kali gagal melakukan desekularisasi alat dan terjebak dalam komodifikasi identitas. Kita kesulitan menarik garis tegas antara apa yang merupakan “alat” kemajuan dan apa yang merupakan “ruh” dari sebuah bangsa.
Dilema Linguistik: Mengapa Kita Sering Salah Kaprah?
Kebingungan umat modern dalam membedakan antara kemajuan teknologi dan gaya hidup Barat sebenarnya berakar pada keterbatasan bahasa. Dalam diskursus Barat, istilah civilization digunakan secara kolektif untuk menyebut hasil pemikiran, sistem nilai, sekaligus pencapaian teknologi. Keduanya dicampuradukkan tanpa pembeda yang jelas.
Namun, tradisi intelektual Islam—terutama sejak era Ibnu Khaldun dalam kitab Muqaddimah—telah melakukan redefinisi yang jauh lebih presisi. Ibnu Khaldun membedakan antara masyarakat pedalaman (badiyah) yang nomaden dengan masyarakat kota yang menetap. Dari sinilah lahir pemisahan krusial antara dua entitas: hadharah dan madaniyah. Tanpa pemahaman yang tajam mengenai dualitas peradaban ini, kita akan terus terjerumus dalam imitasi buta (tasyabbuh) atau justru menjadi anti-sains karena ketakutan yang tidak berdasar.
Membedakan “Ruh” dan “Bentuk” Peradaban
Untuk memahami posisi kita, kita harus mampu membedakan hadharah sebagai “perangkat lunak” ideologis dan madaniyah sebagai “perangkat keras” material. Sebagaimana dirumuskan secara tajam oleh Syekh Taqyuddin An-Nabhani:
“Hadharah adalah sekumpulan konsepsi kehidupan (majmu’atu mafahimil hayah)… Sedangkan madaniyah berupa bentuk-bentuk materi yang terindra yang digunakan untuk membantu kehidupan manusia.”
Hadharah adalah ruh peradaban yang lahir dari pandangan hidup tertentu. Peradaban Barat, misalnya, tegak di atas fondasi sekularisme—sebuah konsepsi yang memisahkan otoritas Tuhan dari urusan kehidupan. Sebaliknya, hadharah Islam berakar sepenuhnya pada akidah Islam, di mana setiap napas kehidupan diatur oleh wahyu.
Adapun madaniyah adalah wujud fisik dari kemajuan. Namun, di sinilah letak jebakannya: tidak semua benda itu “bebas nilai”.
Ilusi Netralitas: Saat Benda Memiliki Ideologi
Secara umum, benda materi bersifat netral. Inilah yang disebut dengan madaniyah ‘ammah (benda/materi umum). Sains, penemuan medis, industri otomotif, hingga algoritma internet adalah milik bersama kemanusiaan. Namun, ada kategori lain yang harus kita waspadai: madaniyah khashah (benda/materi khusus).
Madaniyah khashah adalah benda atau simbol materi yang lahir dari rahim konsepsi hidup atau keyakinan agama tertentu. Tantangan bagi Muslim urban saat ini adalah mengenali simbol-simbol yang telah “diakuisisi” oleh ideologi lain.
- Simbol Agama: Seperti salib atau pakaian khusus pemuka agama lain.
- Simbol Ideologi: Seperti bendera “Pelangi” (LGBT). Meski pelangi adalah fenomena alam (madaniyah umum), namun ketika ia diklaim dan digunakan sebagai representasi ideologi yang bertentangan dengan Islam, maka ia bertransformasi menjadi madaniyah khusus.
- Ritual Budaya: Contohnya penggunaan janur kuning yang dalam konteks tertentu di Indonesia masih kental dengan konsepsi mistis atau keyakinan non-Islam.
Jika sebuah benda telah menjadi identitas khas dari sebuah keyakinan yang batil, maka menggunakannya bukan lagi sekadar urusan estetika, melainkan bentuk penyerupaan yang dilarang (tasyabbuh).
Paradoks Kebahagiaan: Titik Jenuh vs. Motivasi Abadi
Salah satu perbedaan hadharah yang paling fundamental adalah cara kita mendefinisikan kebahagiaan (as-sa’adah). Barat cenderung terjebak dalam utilitarianisme dan hierarki kebutuhan Abraham Maslow, di mana puncak pencapaian manusia adalah aktualisasi diri.
Namun, kebahagiaan berbasis materi memiliki kelemahan fatal: titik jenuh. Kita melihat fenomena tragis pada sosok seperti Kurt Cobain; di puncak popularitas dan kemewahan materi, ia justru memilih mengakhiri hidupnya karena rasa hampa. Ketika puncak materi telah tercapai, manusia sering kali tidak tahu lagi harus melangkah ke mana.
Dalam hadharah Islam, kebahagiaan didefinisikan sebagai pencapaian akan rida Allah. Perbedaan utamanya terletak pada stabilitas:
- Kebahagiaan Barat: Bersifat fluktuatif, bergantung pada situasi fisik, dan cepat jenuh.
- Kebahagiaan Islam: Bersifat transenden dan stabil. Karena rida Allah adalah sesuatu yang gaib dan tak terbatas, ia menjadi perpetual motivator (motivator abadi). Seorang Muslim tidak akan pernah merasa selesai atau jenuh dalam beramal, karena tujuannya melampaui batas-batas dunia materi.
Reclaiming Roots: Sains adalah Warisan Islam
Kita tidak perlu merasa inferior atau merasa harus “menjadi Barat” untuk menjadi pintar. Faktanya, banyak pondasi madaniyah modern hari ini berakar dari peradaban Islam yang gemilang.
Dunia digital tidak akan pernah ada tanpa angka nol dan algoritma dari Al-Khawarizmi. Kedokteran modern tidak akan berdiri tegak tanpa Al-Qanun fi al-Thibb karya Ibnu Sina. Bahkan prototipe pesawat terbang telah dirancang oleh Abbas Ibnu Firnas berabad-abad sebelum Wright Bersaudara.
Sains dan teknologi adalah milik bersama. Umat Islam terdahulu mengambil sains dari peradaban lain, membersihkannya dari residu filosofi kesyirikan, dan mengembangkannya di bawah naungan hadharah Islam. Inilah bukti bahwa kita bisa menjadi yang terdepan dalam teknologi tanpa harus menggadaikan akidah.
***
Menjadi Muslim Modern yang Berprinsip
Kunci kemajuan umat bukanlah dengan menutup diri dari dunia, melainkan dengan memiliki filter intelektual yang tajam. Kita dipersilakan mengambil madaniyah (sains dan teknologi) seluas-luasnya untuk mempermudah kehidupan dan memperkuat dakwah. Namun, kita harus sangat ketat dalam menjaga hadharah (konsepsi hidup) agar tidak tercemar oleh ideologi asing.
Genggamlah internet dan teknologi tercanggih di tangan Anda, namun biarkan Al-Qur’an dan Sunnah tetap menjadi satu-satunya sistem operasi di dalam hati dan pikiran Anda.[]
Disarikan dari kajian dengan tema tersebut di NSTV:
