Cahaya yang Padam dalam Semalam
Selama lima abad, Baghdad bukan sekadar ibu kota kekuasaan, melainkan jantung berdetak peradaban dunia. Di bawah naungan Bani Abbasiyah, kota ini berdiri sebagai mercusuar intelektual melalui Baitul Hikmah, pusat perdagangan lintas benua, serta simbol spiritualitas Islam yang tak tertandingi. Namun, kemegahan yang dibangun selama ratusan tahun itu menemui titik nadir yang mengerikan pada Februari 1258.
Serangan pasukan Tartar-Mongol di bawah pimpinan Hulagu Khan (Hulegukan) mengubah wajah kota cahaya tersebut menjadi puing-puing bersimbah darah. Peristiwa ini bukan sekadar kekalahan militer biasa, melainkan trauma kolektif terdahsyat dalam sejarah manusia. Kontras antara kejayaan ilmu pengetahuan yang luhur dengan kebengisan pasukan nomaden yang tidak mengenal ampun menciptakan luka sejarah yang begitu dalam, sebuah momen di mana tatanan peradaban Islam tampak runtuh dalam hitungan hari.
Tragedi Sungai Dajlah: Saat Buku menjadi Jembatan Darah
Pemusnahan intelektual yang terjadi di Baghdad merupakan salah satu kerugian terbesar bagi kemanusiaan. Baitul Hikmah, perpustakaan raksasa yang menyimpan jutaan manuskrip asli karya ulama muktabarah dan ilmuwan lintas disiplin, menjadi sasaran utama vandalisme pasukan Mongol. Karena tidak memahami nilai ilmu pengetahuan, pasukan penjajah memperlakukan kitab-kitab tersebut layaknya material konstruksi kasar.
“Pasukan Tartar-Mongol mengeluarkan jutaan buku dan manuskrip dari perpustakaan, lalu membuangnya ke Sungai Dajlah (Tigris). Bukan sekadar untuk dihancurkan, melainkan untuk dijadikan jembatan penyeberangan bagi pasukan berkuda mereka. Air sungai yang jernih berubah menjadi hitam pekat karena tinta buku yang luntur, bercampur dengan merahnya darah penduduk yang dibantai tanpa sisa.”
Dampak jangka panjang dari tragedi ini adalah hilangnya karya-karya orisinal dalam bidang fikih, astronomi, kedokteran, dan filsafat yang tidak mungkin dipulihkan kembali. Dunia kehilangan kompas pengetahuannya, menandai pergeseran kekuatan intelektual dari Timur ke Barat akibat banjir tinta di Sungai Dajlah.
Teror Psikologis: Kelumpuhan Massal Akibat Ketakutan
Keberhasilan Mongol tidak hanya bersandar pada kekuatan fisik, tetapi juga pada taktik perang mental yang sangat destruktif. Propaganda bahwa Mongol adalah “Pasukan Tak Terkalahkan” dan “Cambuk Tuhan” (The Scourge of God) disebarkan secara sistematis. Mereka meninggalkan jejak horor berupa piramida dari tengkorak manusia (pyramids of skulls) di setiap kota yang mereka taklukkan, sebuah pesan visual yang meruntuhkan nyali siapa pun.
Ketakutan massal ini menyebabkan kelumpuhan mental yang luar biasa di kalangan penduduk Baghdad. Tercatat sebuah anekdot tragis: seorang tentara Mongol menyuruh sekelompok penduduk untuk diam di tempat sementara ia pergi mengambil pedangnya yang tertinggal. Karena teror yang sudah merasuk ke sumsum tulang, penduduk tersebut benar-benar diam mematung tanpa berani lari, menunggu kematian mereka tiba saat tentara itu kembali. Inilah efektivitas propaganda yang menghancurkan pertahanan psikis musuh sebelum satu pun pedang terhunus.
Identitas Fisik: Apakah Tartar-Mongol adalah Ya’juj wa Ma’juj?
Dalam perspektif eskatologi Islam, banyak ulama sezaman—termasuk Imam Al-Maraghi dan Ibnu Katsir—menarik kesimpulan bahwa serangan ini merupakan salah satu episode keluarnya bangsa pemusnah. Terdapat kecocokan antara nubuatan Rasulullah SAW dalam hadits (seperti riwayat Imam Ahmad dalam Al-Musnad) mengenai ciri fisik ras Turko-Mongoloid dengan realitas pasukan Hulagu Khan.
Karakteristik fisik yang selaras dengan teks sumber eskatologi meliputi:
- Wajah Lebar dan Rata: Digambarkan seakan wajah mereka rata bagai permukaan palu.
- Mata Sipit: Karakteristik mata yang kecil dan tajam.
- Warna Kulit: Cenderung kuning atau putih kemerahan.
- Rambut dari Kulit/Bulu: Memiliki rambut yang kaku atau mengenakan pakaian dari bulu binatang.
- Gaya Hidup: Turun dari perbukitan/wilayah Stepa Eurasia utara secara massal.
Para analis eskatologi menyebut ini sebagai qarinah (indikasi) kuat. Perlu dibedakan antara Ya’juj Ma’juj masa lalu (surah Al-Kahfi) dengan episode 1258 sebagai gelombang perantara, sebelum kedatangan mereka yang sesungguhnya di masa depan (surah Al-Anbiya).
Pengkhianatan dari Dalam: Peran Perdana Menteri Muayyidin Ibnu Al-Alqami
Keruntuhan Baghdad dipercepat oleh pengkhianatan internal yang dipelopori oleh Perdana Menteri Muayyidin Ibnu Al-Alqami. Karena dendam sektarian dan ambisi pribadi, ia secara sistematis melemahkan pertahanan kota dari dalam sebelum pasukan Hulagu tiba.
|
Janji Manis Ibnu Al-Alqami |
Realitas Tragis yang Terjadi |
| Persamaan dengan Seljuk: Mengklaim Mongol akan datang seperti bangsa Turki Seljuk yang dulu melindungi Khalifah. | Pemusnahan Total: Mongol datang untuk menjarah, membantai, dan meruntuhkan fondasi Islam. |
| Pertahanan yang Cukup: Secara sengaja memangkas tentara dari 500.000 menjadi hanya 50.000 personel. | Pengepungan Massal: Baghdad menghadapi 150.000 pasukan Mongol (termasuk 40.000 dari Georgia dan 12.000 dari Armenia). |
| Diplomasi Pernikahan: Mengatakan Hulagu ingin menikahkan putrinya dengan putra Khalifah. | Eksekusi Keji: Khalifah Al-Musta’sim dan keluarganya dibantai segera setelah keluar dari istana. |
Nasib akhir Khalifah Al-Musta’sim sangat memilukan; demi menghindari tumpahnya darah bangsawan ke bumi (kepercayaan Mongol), ia dibungkus dalam permadani istana lalu diinjak-injak oleh pasukan berkuda hingga remuk redam. Sementara itu, sang pengkhianat Ibnu Al-Alqami justru dicincang oleh Hulagu Khan sendiri, yang menyatakan bahwa orang yang mengkhianati tuannya tidak akan pernah setia kepada pemimpin baru.
Kejutan Sejarah: Jejak Ya’juj Ma’juj pada Nenek Moyang Nusantara
Secara antropologis, terdapat fakta menarik mengenai migrasi rumpun bangsa Yafitik Mongoloid. Sumber sejarah menyebutkan bahwa sebagian dari rumpun yang berasal dari wilayah Funan dan Yunan bermigrasi ke arah tenggara menjadi “manusia perahu”. Mereka melintasi lautan dan menetap di Kepulauan Nusantara.
Seorang analis budaya harus membedakan antara etimologi “Turk” (dari kata Turoka—bangsa yang tertinggal/memilih tinggal di selatan) dengan mereka yang tetap di utara:
- Bangsa yang Menetap: Kelompok yang bermigrasi ke Nusantara memilih hidup sedenter (menetap), membangun peradaban yang beradab, dan akhirnya menerima hidayah Islam. Meskipun secara fisik mewarisi ciri Mongoloid (tulang pipi tinggi, mata cenderung kecil), mereka bukan lagi bangsa perusak.
- Bangsa Nomaden: Kelompok yang tetap liar, biadab, dan kafir di Stepa Eurasia adalah mereka yang dikategorikan sebagai karakteristik Ya’juj Ma’juj.
***
Warisan Luka dan Sinyal Akhir Zaman
Tragedi 1258 adalah pengingat bahwa kehancuran sebuah peradaban besar sering kali dimulai dari keroposnya integritas internal dan kelumpuhan mental. Peristiwa ini juga merupakan qarinah (indikasi) awal bagi huru-hara yang lebih dahsyat. Berdasarkan nubuatan eskatologi, keluarnya Ya’juj Ma’juj yang sesungguhnya di masa depan akan ditandai dengan enam hal utama:
- Hancurnya Tembok Zulqarnain: Keluar menjelang kiamat kubra setelah penghalang fisik tersebut runtuh.
- Arah Kedatangan: Muncul secara masif dari arah Timur (al-masyriq).
- Populasi Luar Biasa: Jumlahnya sangat besar hingga memenuhi lembah dan gunung.
- Kekeringan Sumber Air: Meminum habis seluruh sisa air di Danau Tiberias.
- Pasca-Dajjal: Muncul setelah terbunuhnya Dajjal, di mana Nabi Isa AS diperintahkan membawa kaum Mukmin mengungsi ke Gunung Sinai.
- Kelaparan Global: Terjadi setelah periode dukhan (asap) dan penahanan rezeki dari langit serta bumi selama 3 tahun berturut-turut.
Jika sejarah 1258 adalah sebuah peringatan dini, sudah siapkah kita secara spiritual menghadapi huru-hara yang jauh lebih dahsyat di masa depan? Sejarah membuktikan bahwa hanya keimanan yang kokoh dan kejernihan nurani yang mampu menyelamatkan manusia di tengah badai akhir zaman.[]
Disarikan dari kajian dengan tema tersebut di NSTV:
