Paradoks Kelimpahan dan Kegelisahan
Dalam lanskap modern hari ini, kita terjebak dalam sebuah paradoks yang ganjil. Kita menyaksikan ambisi finansial yang meluap-luap, di mana keberhasilan diukur melalui akumulasi angka dan pertumbuhan omzet yang eksponensial. Namun, di balik kemilau statistik tersebut, terselip kegelisahan kolektif yang tak kunjung reda. Terjadi sebuah reduksionisme ekonomi, di mana makna hidup manusia diringkas hanya menjadi sekadar unit produksi dan konsumsi, sementara ketenangan batin kian menjauh.
Mengapa di dunia yang semakin canggih ini, masalah ekonomi justru terasa kian mencekik dan kompleks? Kita perlu menyadari bahwa bisnis dalam Islam bukanlah sekadar urusan teknis dan angka makro, melainkan sebuah entitas yang dibangun di atas fondasi niat, cara yang sahih, dan orientasi pada keberkahan. Tanpa dimensi ketaatan, kemajuan ekonomi hanya akan menjadi mesin pemuas keserakahan yang tidak pernah mengenal titik jenuh.
Kelangkaan (Scarcity) adalah Mitos, Masalah Sebenarnya adalah Distribusi
Ekonomi konvensional, khususnya kapitalisme, mendasarkan seluruh teorinya pada satu dogma asasi: kelangkaan (scarcity). Mereka mengklaim bahwa kebutuhan manusia tidak terbatas, sedangkan sarana pemenuhannya sangat terbatas. Akibatnya, kebijakan ekonomi dunia dipaksa fokus secara obsesif pada satu pilar: produksi dan pertumbuhan ekonomi.
Namun, perspektif Islam menepis anggapan tersebut. Masalah fundamental ekonomi bukanlah kelangkaan barang, melainkan distribusi. Urusan produksi adalah domain teknis yang mubah, sebagaimana sabda Nabi SAW, “Antum a’lamu bi umuri dunyakum (Kamu lebih tahu urusan duniamu).” Islam tidak diturunkan untuk mencampuri urusan teknis cara menanam padi, namun untuk mengatur bagaimana padi tersebut sampai ke tangan setiap individu secara adil. Fokus pada pertumbuhan semata tanpa memperhatikan distribusi adalah sebuah kekeliruan sistemik yang justru menciptakan distorsi pasar.
Fakta bahwa Bumi Sangat Cukup untuk Miliaran Manusia
Argumen mengenai keterbatasan sarana sering kali runtuh di hadapan fakta empiris. Allah SWT telah menyediakan bumi dengan kapasitas yang jauh melampaui kebutuhan populasi saat ini.
- Kapasitas Global: Para ahli menghitung bahwa bumi mampu menampung hingga 50 miliar manusia, jauh di atas populasi global saat ini yang hanya di kisaran 8 miliar.
- Tren Demografi: Di negara-negara maju seperti Jepang, Amerika Serikat, dan sebagian besar Eropa, pertumbuhan penduduk justru menunjukkan tren negatif. Fenomena desa-desa yang menjadi kota hantu di Jepang karena kekurangan penghuni adalah bukti bahwa masalahnya bukan ledakan populasi yang tak terkendali.
- Revolusi Produksi: Kehadiran teknologi hidroponik hingga robotika telah membuat produksi barang menjadi masif, cepat, dan terukur. Secara teknis, manusia sudah mampu memproduksi barang melebihi kebutuhan konsumsinya sendiri.
Kelaparan global terjadi bukan karena bumi gagal memproduksi pangan, melainkan karena sekat-sekat distribusi yang mencegah pangan menjangkau mereka yang membutuhkan.
Memahami Logika Zero Sum Game dalam Ekonomi
Masalah ekonomi yang sesungguhnya muncul justru saat barang telah tersedia dan mulai berinteraksi dengan manusia. Di sinilah berlaku hukum matematika Zero Sum Game—sebuah kondisi di mana keuntungan berlebih bagi satu pihak secara otomatis mengakibatkan kerugian atau kehilangan akses bagi pihak lain dalam satu kolam sumber daya yang sama.
Contoh konkretnya adalah fenomena perang dagang dan proteksionisme. Ambil contoh kebijakan Donald Trump yang menerapkan tarif impor tinggi atau boikot Cina terhadap komoditas ikan Jepang. Krisis ekonomi yang terjadi di negara-negara tersebut bukan karena mereka tidak mampu memproduksi barang, melainkan karena interaksi atau distribusi internasionalnya diputus secara sepihak.
“Indonesia adalah negara paling kaya dari aspek sumber daya alamnya. Tidak ada yang mengalahkan Indonesia, paling lengkap dan komplit. Tapi kenapa penduduknya miskin? Karena berlaku Zero Sum Game. Jika nikel, batu bara, dan tembaga dikeruk dan dikuasai oleh segelintir orang, maka secara matematis jutaan rakyat lainnya kehilangan hak dan akses terhadap kekayaan tersebut.”
Relativitas Keadilan menurut Akal Manusia
Manusia sering kali mengklaim mampu menciptakan keadilan melalui akalnya sendiri. Namun, faktanya, akal manusia terjebak dalam subjektivitas absolut. Mari kita ambil ilustrasi sederhana: pembagian warisan Rp100 juta untuk 10 anak.
Jika diserahkan pada logika masing-masing, kesepakatan adil tidak akan pernah tercapai. Anak yang mahasiswa menuntut lebih banyak karena biaya kuliah, anak yang bungsu merasa berhak lebih besar karena belum menikmati harta orangtua, dan anak yang tinggal dekat rumah merasa paling berjasa. Selama standar keadilan dikembalikan pada persepsi manusia yang terbatas, maka yang terjadi hanyalah perselisihan tanpa henti karena setiap individu memiliki definisi adil yang berbeda-beda.
Syariat sebagai Pemutus Mata Rantai Relativitas
Inilah alasan eksistensial mengapa Al-Qur’an dan Syariat diturunkan: untuk memberikan keputusan akhir yang hakiki atas segala perselisihan manusia. Al-Qur’an diturunkan sebagai pemutus mata rantai relativitas akal manusia (liyahkuma bainan-nashi fima ikhtalafu).
Dalam konteks ekonomi, syariat hadir untuk melindungi pasar dari praktik-praktik zalim. Salah satu contoh kecanggihan syariat adalah pelarangan talaqi rukban (mencegat pedagang desa di pinggir kota). Islam melarang ini karena adanya asimetri informasi; di mana tengkulak mengeksploitasi ketidaktahuan petani desa mengenai harga pasar di kota.
Negara dalam perspektif Islam memiliki fungsi vital sebagai penyedia layanan (khidmah), bukan bertindak seperti korporasi atau perseroan yang mengejar profit dari rakyatnya. Negara bertanggung jawab melakukan operasi pasar untuk menjaga stabilitas harga—bukan dengan mematok harga secara paksa—melainkan dengan memastikan suplai tersedia dan membersihkan pasar dari mafia serta penimbun yang merusak distribusi.
Memilih antara Hukum Rimba atau Hukum Tuhan
Keadilan ekonomi sejati mustahil tercapai selama kita masih memuja sistem yang menyuburkan akumulasi modal di tangan segelintir elit. Tanpa landasan iman dan kepatuhan pada aturan Sang Pencipta, kita hanya akan terjebak dalam hukum rimba modern: yang kuat akan terus memangsa akses yang lemah.
Kesejahteraan yang membawa ketenangan hanya bisa diraih melalui sistem yang menempatkan distribusi sebagai prioritas asasi. Kini, kita berada di persimpangan jalan reflektif:
“Apakah kita akan terus bertahan dengan sistem yang melegitimasi keserakahan atas nama pertumbuhan, atau mulai membangun tatanan ekonomi yang berorientasi pada keberkahan, keadilan distribusi, dan keselamatan di akhirat?”[]
Disarikan dari kajian dengan tema tersebut di NSTV:
