Dunia kita hari ini menampilkan dua wajah yang tampak kontradiktif namun sebenarnya berakar pada diskrepansi sistemik yang sama. Di satu sisi, kita menyaksikan guncangan di puncak piramida kekuasaan global melalui terungkapnya ribuan dokumen pengadilan Jeffrey Epstein di Amerika Serikat—sebuah labirin kejahatan yang melibatkan para penghuni takhta ekonomi dan politik dunia. Namun, di sisi lain, nun jauh di pelosok Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur, seorang anak sekolah dasar bernama Yohanes mengakhiri hidupnya hanya karena tak mampu membeli sebuah pena.
Sekilas, kedua peristiwa ini dipisahkan oleh samudera dan status sosial. Namun, bagi seorang analis strategis, terdapat benang merah yang menjahit keduanya dalam satu kanvas kegagalan peradaban. Sementara para elit bertransaksi dalam mata uang pengaruh di “dunia bayangan”, harga dari pembusukan sistemik ini justru dibayar tunai oleh mereka yang berada di tepian marjin—oleh anak-anak seperti Yohanes yang mimpinya padam sebelum sempat berkembang.
Epstein Files Bukan Sekadar Skandal, Tapi “Shadow World” Para Elit
Terungkapnya dokumen yang kini dikenal sebagai Epstein Files—mencakup sekitar 3,5 juta halaman dokumen pengadilan—bukan sekadar konsumsi gosip selebritas, melainkan sebuah manifestasi dari “Shadow World” atau dunia bayangan para elit. Dokumen ini merekam jejak interaksi nama-nama besar seperti Donald Trump, Bill Clinton, Bill Gates, hingga Elon Musk dalam pusaran jaringan sosial Epstein yang kelam.
Berdasarkan fakta yang terungkap, Epstein bukanlah agen resmi intelijen negara (seperti CIA atau Mossad), melainkan seorang shadow asset. Ia beroperasi di wilayah abu-abu, mengaburkan garis antara bisnis global, kejahatan terorganisir, dan kepentingan intelijen. Sebagai pengelola kekayaan miliarder, ia membangun posisi tawar melalui jaringan informasi dan kekuasaan yang tertutup. Fenomena ini membuktikan adanya kontradiksi inheren dalam sistem hari ini, di mana legalitas seringkali dikorbankan demi melindungi kepentingan eksklusif para pemegang akses.
Tragedi Ngada: Saat Pena dan Buku Menjadi Beban yang Mematikan
Kontras dengan kemewahan dunia Epstein, kita mendapati tragedi memilukan dari Yohanes, seorang siswa SD di Kabupaten Ngada, NTT. Di tengah gemuruh narasi kemajuan bangsa, Yohanes memilih mengakhiri hidupnya karena tekanan ekonomi yang menghancurkan mentalitasnya. Bagi Yohanes, kemiskinan bukan sekadar soal perut yang lapar, melainkan interpretasi psikologis bahwa kehadirannya telah menjadi beban yang tak tertahankan bagi keluarganya.
Keputusasaan ini terekam secara tragis dalam “Surat buat Mama Reti”. Pesan terakhirnya bukan sekadar salam perpisahan, melainkan gugatan terhadap rasa kemanusiaan kita:
“Mama saya pergi dulu… Mama relakan saya pergi, jangan menangis Mama.”
Tragedi ini menyingkap fakta pahit bahwa bagi seorang anak yang hidup dalam kemiskinan struktural, harga sebuah pena dan buku tulis bisa terasa lebih berat daripada beban hidup itu sendiri.
Paradoks Anggaran: 1,2 Triliun Per Hari vs. Harga Sebuah Pena
Tragedi di Ngada menampar wajah kebijakan publik kita dengan paradoks yang sangat tajam. Bagaimana mungkin sebuah negara yang mampu mengalokasikan anggaran fantastis sekitar 1,2 triliun rupiah per hari untuk program Makan Bergizi Gratis (MBG)—dengan asumsi biaya sekitar Rp10.000 per porsi—gagal mendeteksi seorang anak yang nyawanya terancam hanya karena tidak mampu membeli alat tulis?
Ketimpangan ini merupakan bukti nyata dari kegagalan struktural negara. Sosiolog menekankan bahwa fenomena ini menunjukkan ketidakmampuan sistem dalam menyediakan layanan dasar yang merata. Terdapat diskoneksi antara kebijakan makro yang terlihat dermawan dengan realitas mikro di lapangan, di mana negara seringkali absen dalam menjamin kebutuhan primer rakyatnya yang paling rentan.
Fenomena Impunitas dan Kekerasan Struktural
Mengapa kejahatan seperti jaringan Epstein bisa bertahan puluhan tahun, sementara keputusasaan seperti di Ngada terus berulang? Jawabannya terletak pada empat pilar kejahatan sistemik dalam tatanan sekuler-kapitalistik:
- Akses: Konsentrasi kekuasaan pada segelintir elit yang beroperasi dalam lingkaran tertutup.
- Imunitas Sosial: Penggunaan reputasi sosial dan aksi filantropi sebagai tameng hukum untuk mencuci noda kriminal.
- Korban yang Rentan: Eksploitasi terhadap mereka yang lemah, miskin, dan tidak memiliki suara secara politik.
- Ketakutan Institusional: Negara seringkali lumpuh karena efek domino yang bisa mengguncang stabilitas elit jika tindakan tegas diambil.
Ini bukan sekadar kriminalitas biasa, melainkan bentuk kekerasan struktural. Desain sistem saat ini memberikan ruang impunitas bagi penjahat di puncak piramida, sekaligus memproduksi keputusasaan bagi mereka yang berada di dasar.
Tiga Pilar Penjaga dalam Perspektif Islam
Sebagai antitesis terhadap sistem yang rusak ini, Islam menawarkan kerangka solusi komprehensif yang menyentuh akar masalah. Perubahan sistemik memerlukan tiga pilar penjaga yang bekerja secara totalitas:
- Ketakwaan Individu: Membangun integritas moral agar setiap manusia memiliki kendali diri untuk tidak terjerumus kejahatan, meski memiliki akses dan kesempatan.
- Kontrol Masyarakat: Menghidupkan budaya amar makruf nahi mungkar. Masyarakat tidak boleh abai terhadap kondisi tetangga yang kesulitan atau kebijakan penguasa yang zalim.
- Peran Negara (Ri’ayah): Negara wajib kembali pada fungsi aslinya sebagai pelayan rakyat. Kewajiban negara adalah menjamin kebutuhan primer—pangan, pendidikan, dan kesehatan—secara totalitas bagi setiap individu, bukan sekadar menjalankan kebijakan reaktif yang bersifat seremonial.
***
Refleksi Masa Depan
Skandal Epstein dan kematian Yohanes di Ngada adalah alarm peradaban yang sedang berbunyi nyaring. Kita tidak boleh terjebak hanya sebagai penonton sensasi berita. Keduanya adalah bukti bahwa ada kerusakan sistemik yang membutuhkan perubahan fundamental. Suara-suara kritis harus terus bergema untuk mendelegitmasi sistem yang timpang ini.
Apakah kita akan terus membiarkan sistem ini memproduksi lebih banyak “Epstein” di atas sana dan memadamkan lebih banyak mimpi “Anak Ngada” di bawah sana?[]
Disarikan dari kajian dengan tema tersebut di NSTV:
