Belakangan ini, jagat media sosial diramaikan oleh istilah “Semua akan pret pada waktunya.” Ungkapan ini bukan sekadar tren kata biasa, melainkan sebuah sindiran sinis atau bentuk sarkasme terhadap jauhnya jarak antara citra ideal yang dipoles di layar kaca dengan realitas pahit di balik pintu rumah. Kita sering kali terbuai oleh paradoks pasangan selebritas atau pemengaruh (influencer) yang menampilkan kehidupan keluarga yang tampak sempurna, harmonis, dan penuh kemesraan, namun secara tiba-tiba mengumumkan perceraian. Fenomena “pret” menggambarkan bagaimana ilusi romantis tersebut runtuh, menyisakan pertanyaan besar: mengapa keharmonisan yang tampak kokoh—bahkan pada mereka yang sudah menikah puluhan tahun—bisa menguap begitu saja?
Mitos “Bulan Madu hanya Bertahan 14 Bulan”
Banyak pasangan muda memasuki gerbang pernikahan dengan ekspektasi bahwa getaran asmara akan terus membara selamanya. Namun, sebuah riset unik di Inggris yang dilakukan oleh sebuah perusahaan peralatan mandi terhadap 2.000 pasangan mengungkapkan fakta yang cukup mengguncang: masa-masa romantis atau fase bulan madu rata-rata hanya bertahan selama 14 bulan.
Setelah periode singkat tersebut, intensitas romansa cenderung menurun karena transisi alami dalam kehidupan:
- Pergeseran Fokus: Dari yang semula hanya berpusat pada pasangan, beralih menjadi tanggung jawab kolektif sebagai orangtua setelah hadirnya anak pertama.
- Erosi Kebiasaan Kecil: Rutinitas harian mulai mengikis detail-detail penting seperti ucapan “I love you” atau sentuhan fisik yang hangat.
- Beban Kumulatif: Kehadiran anak kedua dan seterusnya menambah beban finansial serta tenaga, yang sering kali mengalihkan energi pasangan dari upaya merawat gairah hubungan.
Penurunan ini sering disalahartikan sebagai hilangnya cinta, padahal ini adalah fase transisi dari gairah (passion) menuju tanggung jawab. Ketidakmampuan memahami pergeseran ini sering kali menjadi awal dari keretakan.
Romantisme adalah Bumbu, bukan Fondasi Utama
Kesalahan fatal dalam banyak pernikahan modern adalah menempatkan romantisme sebagai fondasi utama. Romantisme atau aspek jinsiyah (gairah seksual dan kemesraan) bukanlah elemen yang paling fundamental dalam ketahanan keluarga.
“Romantisme itu bukan perkara fondasi… itu hanya bumbu-bumbu dalam relasi suami istri.”
Jika sebuah pernikahan hanya bersandar pada perasaan gairah yang fluktuatif, bangunan tersebut akan sangat rapuh. Romantisme memang berfungsi memperindah hubungan, layaknya bumbu yang menyedapkan masakan, namun komitmen dan nilai-nilai spiritual-lah yang menjaga biduk tetap tegak saat badai ujian datang melanda.
Tembok Digital dalam Rumah Tangga
Di era modern, gangguan eksternal yang paling nyata adalah gaya hidup digital. Meski suami dan istri berada dalam satu ruangan, kehadiran smartphone sering kali menciptakan “tembok penghalang” yang membuat interaksi tidak lagi akrab. Fenomena ini menciptakan jarak emosional yang lebar di tengah kedekatan fisik.
Beberapa dampak negatif gaya hidup digital terhadap kualitas hubungan pasangan meliputi:
- Penurunan Produktivitas Rumah Tangga: Asyik menggulir media sosial atau menonton drama digital sering kali membuat tanggung jawab domestik terabaikan. Hal ini memicu konflik saat rumah menjadi tidak nyaman atau berantakan karena salah satu pihak terlalu larut dalam gawai.
- Kurangnya Perhatian Berkualitas (Quality Time): Fokus pada layar mengurangi kehadiran mental. Komunikasi menjadi dangkal dan hanya bersifat administratif, tanpa adanya kedalaman emosional.
- Standar Semu dari Konten Digital: Paparan terus-menerus terhadap narasi ideal atau kutipan (quotes) romantis di media sosial menciptakan ekspektasi yang tidak realistis. Pasangan mulai membandingkan realitas rumah tangga mereka yang kompleks dengan standar semu di internet, memicu rasa tidak puas yang tidak perlu.
Fenomena “Grey Divorce” (Perceraian di Usia Senja)
Perceraian kini tidak lagi hanya dominasi pasangan muda. Fenomena Grey Divorce atau perceraian di usia 50 tahun ke atas semakin marak terjadi pada pasangan yang telah menikah 20 hingga 40 tahun. Fase ini sangat rentan karena adanya titik jenuh yang memuncak, hilangnya ketergantungan biologis (seperti masa menopause), dan munculnya fase empty nest (sarang kosong) ketika anak-anak sudah dewasa dan meninggalkan rumah. Pada titik ini, banyak individu yang ingin mengejar “kebebasan individu” karena merasa pasangannya hanya menjadi beban.
Namun, keputusan untuk berpisah di usia senja membawa risiko yang sangat berat, terutama bagi perempuan:
|
Manfaat Bertahan di Usia Tua |
Risiko Perceraian di Usia Tua |
| Dukungan Kesehatan: Memiliki pasangan yang merawat dan mengantar berobat saat fisik mulai melemah. | Isolasi Sosial & Depresi: Rasa kesepian mendalam yang memicu stres berat karena hidup sendirian. |
| Berbagi Beban Finansial: Biaya hidup (listrik, air, tempat tinggal) dipikul bersama sehingga lebih ringan. | Risiko Kemiskinan: Perceraian di usia tua rawan memiskinkan pasangan karena aset harus terbagi. |
| Sahabat Masa Tua: Memiliki teman bicara untuk meringankan beban mental di sisa usia. | Kehilangan Tempat Tinggal: Risiko harus keluar dari rumah bersama dan memulai hidup dari nol di masa renta. |
Mengubah Sudut Pandang: Pasangan sebagai Amanah, bukan Beban
Kehancuran rumah tangga sering kali berawal dari pergeseran cara pandang. Ketika kita mulai melihat pasangan sebagai “beban”, segala kekurangan mereka akan terasa “memuakkan” (nauseating). Sudut pandang ini menutup mata kita terhadap jasa-jasa pasangan selama puluhan tahun.
Sebaliknya, perspektif spiritual mengajarkan bahwa pasangan adalah amanah. Dengan mindset ini, melayani pasangan bukan lagi sekadar kewajiban sosial, melainkan amal saleh untuk meraih rida Tuhan. Visi pernikahan harus melampaui ego duniawi dan berfokus pada akhirat (visi Sakinah, Mawaddah, Warahmah). Melihat pasangan sebagai rekan seperjalanan menuju surga akan memberikan kekuatan ekstra untuk bersabar menghadapi kekurangan manusiawi masing-masing.
Strategi Preventif: Membangun Ketahanan sebelum Badai Datang
Menjaga agar pernikahan tidak “pret” di tengah jalan membutuhkan upaya sadar dan sistematis:
- Komunikasi Jujur dan Husnuzhan: Kedepankan prasangka baik (husnuzhan) dan hindari membangun asumsi negatif. Bicarakan masalah secara terbuka tanpa menunggu konflik membesar.
- Memenuhi Hak Pasangan (Terutama dalam Kondisi LDR): Jarak bukan penghalang untuk memberi perhatian. Gunakan bahasa cinta melalui kejutan kecil atau komunikasi verbal yang intens untuk menjaga kedekatan emosional.
- Memahami Tahapan Krisis: Sadari bahwa setiap fase (balita, remaja, hingga lansia) memiliki tantangan unik. Kesabaran dalam melewati fase-fase kritis ini adalah kunci pertumbuhan mental pasangan.
- Membangun Support System yang Kuat: Ketahanan keluarga tidak bisa hanya diperjuangkan secara individu. Dibutuhkan lingkungan sosial yang sehat serta dukungan regulasi dari negara yang pro-keluarga untuk melindungi institusi pernikahan dari tekanan modernitas.
***
Pernikahan adalah Perjalanan Panjang, bukan Pertunjukan Instan
Pernikahan ibarat pesawat yang sedang menempuh perjalanan jauh. Masa bulan madu 14 bulan hanyalah fase taxiing atau persiapan lepas landas. Tantangan sebenarnya muncul saat pesawat berada di ketinggian, di mana turbulensi gaya hidup digital atau krisis usia senja bisa saja mematikan mesin secara tiba-tiba. Di sinilah peran “pilot” yang memegang teguh prinsip amanah menjadi krusial untuk memastikan pesawat tidak jatuh terhempas.
Kebahagiaan sejati tidak ditentukan oleh seberapa berkilau unggahan kita di media sosial, melainkan oleh seberapa kuat nilai-nilai yang kita pegang saat badai kehidupan melanda. Pernikahan adalah proses pertumbuhan mental yang dinamis, yang menuntut kita untuk terus belajar menjadi pribadi yang lebih sabar dan bijaksana.
Apakah kita sudah membangun fondasi nilai yang kuat, atau hanya sibuk memoles tampilan luar yang rentan runtuh saat badai tiba?[]
Disarikan dari kajian dengan tema tersebut di NSTV:
