NgajiShubuh.or.id — Indonesia sebagai negara yang menjunjung tinggi kemerdekaan dan kemanusiaan seharusnya keluar dari Board of Peace (Dewan Perdamaian) bentukan Donald Trump, Presiden Amerika Serikat (AS). Peluncuran Board of Peace (BoP) secara resmi dilangsungkan di sela World Economic Forum (WEF) yang digelar di Davos, Swiss, Kamis (22/1). Presiden Prabowo Subianto turut menandatangani piagam organisasi bentukan Trump tersebut.
Menteri Luar Negeri Sugiono menjelaskan, Indonesia bergabung dengan BoP karena mendapat undangan langsung dari Trump. Menurutnya, pembentukan BoP merupakan langkah konkret untuk membantu penyelesaian konflik Gaza dan Palestina dan partisipasi Indonesia merupakan wujud langkah strategis, konstruktif, serta konkret dalam mendukung kemerdekaan Palestina melalui solusi dua negara.
Alasan yang disampaikan Sugiono sungguh menyakiti hati kaum Muslim, terutama Muslim Gaza. Ia hanya mencari pembenaran dengan mengingkari fakta yang terjadi di Palestina. Dari pernyataan Sugiano ada beberapa catatan merah yang harus dikritisi. Pertama, yang terjadi adalah penjajahan dan penindasan bukan konflik antara Palestina dan Israel. Sejak awal mula adanya entitas Yahudi di Palestina mereka telah menjajah dan menindas di atas legitimasi AS dan Inggris.
Kedua, gabung BoP bukan langkah strategis tetapi bunuh diri politik sebagai negeri Muslim terbesar di dunia. Tidak hanya Indonesia, negeri-negeri Muslim telah masuk perangkap AS dengan bergabung ke BoP. Mereka telah melakukan bunuh diri politik dan memberikan legitimasi penjajahan dan penindasan Yahudi kepada Muslim Palestina. Trump tidak hanya membantai Muslim Gaza secara fisik, tetapi juga telah membunuh psikologi penguasa-penguasa negeri Muslim untuk tunduk terhadap Trump.
Ketiga, BoP bukan langkah konstruktif tetapi malah meluluhlantakkan Gaza yang berdiri di atas ruh Islam menjadi New Gaza dengan desain penjajah kapitalisme global. Mereka akan mengubah Gaza menjadi pusat kemaksiatan, bukan bukan perjuangan kaum Muslim. Keempat, penguasa-penguasa negeri Muslim yang bergabung ke BoP menunjukkan mereka begitu menghamba kepada Fir’aun masa kini yakni AS. Tidak ada perlawanan sedikit pun mereka kepada Trump. Justru mereka duduk bersama dengan AS n Israel yang tangannya masih berlumuran darah Muslim Gaza.
Kelima, masuknya negeri Muslim ke BoP adalah bentuk pengkhianatan mereka kepada Allah dan Rasul-Nya. Tidak hanya itu, mereka juga mengkhianati Muslim Gaza yang selama puluhan tahun berjuang melawan penindasan yang dilakukan entitas Yahudi di sana. Keenam, Palestina tidak akan merdeka di bawah BoP. Justru BoP adalah alat untuk mengubah Palestina menjadi kota liberal sebagaimana yang diharapkan Barat. Mereka mencabut Islam dari akarnya dan menggantinya dengan nilai-nilai sekularisme dan liberalisme yang selama ini diemban ideologi kapitalisme.
Ketujuh, solusi dua negara adalah legitimasi pencaplokan wilayah Palestina atas entitas Yahudi. Tidak ada kata merdeka untuk Palestina dalam solusi dua negara. Justru yang terjadi wilayah Palestina makin sempit, sekalipun sempit akan diubah menjadi New Gaza, yakni konsep kota baru yang jauh dari sistem dan budaya Islam. Solusi dua negara yang didukung dengan BoP mengunci mati penguasa-penguasa negeri Muslim untuk tunduk dan menghamba kepada Trump.
Oleh karena itu, Indonesia harus keluar dari BoP dan membuat jalannya sendiri untuk mewujudkan kemerdekaan hakiki di bawah kakinya sendiri tanpa intervensi asing. Satu-satunya jalan agar Indonesia bisa merdeka dan memerdekakan Palestina adalah dengan memilih Islam sebagai landasan dan aturan yang mengatur kehidupannya.
Islam yang diterapkan secara totalitas akan memutus intervensi AS terhadap Indonesia. Tidak hanya secara ekonomi, tapi juga politik, budaya, dan hukum akan bisa terbebas dari penjajahan gaya baru yang dilakukan AS dan kroninya. Di sinilah penting diterapkan Islam secara sempurna di segala aspek kehidupan, baik individu, masyarakat, dan negara. Penerapan Islam di seluruh aspek kehidupan hanya akan bisa terwujud dalam naungan sistem pemerintahan Khilafah.[] Ika Mawarningtyas
