Di tengah gejolak konflik di Palestina, banyak umat Islam merasakan keresahan yang mendalam. Kebingungan semakin memuncak ketika menyaksikan ada tokoh-tokoh yang seolah membangun hubungan dengan pihak yang jelas-jelas memusuhi Islam. Sikap ini menimbulkan pertanyaan mendasar: di mana seharusnya loyalitas seorang Mukmin berpihak?
Ada beberapa pelajaran inti yang menjelaskan mengapa sikap “condong” atau bersandar kepada kaum zalim, khususnya Zionis, adalah hal yang sangat berbahaya menurut pandangan Islam. Ini bukanlah sekadar isu politik, melainkan masalah akidah yang berakar pada prinsip al-wala’ wal bara’—loyalitas kepada Islam dan kaum Mukmin, serta berlepas diri dari kekufuran dan musuh-musuhnya.
Permusuhan Ini Bukan Hal Baru, tapi Warisan Sejarah Para Nabi
Permusuhan yang dihadapi umat Islam dari entitas Zionis saat ini bukanlah fenomena modern. Ia adalah sebuah pola yang telah diwariskan dari zaman para nabi. Allah SWT berfirman:
“Dan demikianlah, bagi setiap nabi, telah Kami adakan musuh dari kalangan orang-orang yang berdosa (mujrimin).” (QS. Al-Furqan: 31)
Ayat ini menegaskan bahwa setiap nabi, tanpa terkecuali, pasti memiliki musuh dari kalangan para penjahat. Sebagai pewaris para nabi, para ulama dan umat Islam secara keseluruhan juga akan mewarisi musuh-musuh tersebut. Sejarah telah mencatat bagaimana kaum Yahudi di masa Nabi Muhammad SAW menunjukkan permusuhan yang nyata. Mereka menyembunyikan kebenaran tentang kenabian beliau yang tertulis dalam kitab mereka, bersekongkol dengan kaum kafir Quraisy dalam Perang Ahzab, hingga melancarkan kejahatan lisan dan tuduhan keji. Salah satu contohnya adalah tuduhan palsu mereka bahwa Nabi Sulaiman adalah seorang tukang sihir, sebuah fitnah yang begitu serius hingga Allah SWT perlu menurunkan wahyu (QS. Al-Baqarah: 102) untuk membersihkan nama nabi-Nya. Memahami akar sejarah ini penting agar kita tidak mudah tertipu oleh narasi “perdamaian” sesaat yang menutupi permusuhan yang mendarah daging.
Satu-Satunya Pemandu dan Penolong: Kembali pada Aturan Allah
Dalam menghadapi musuh yang nyata, panduan dan sumber pertolongan seorang Mukmin hanyalah Allah SWT. Al-Qur’an melanjutkan ayat sebelumnya dengan penegasan:
“Dan cukuplah Tuhanmu menjadi pemberi petunjuk dan penolong.” (QS. Al-Furqan: 31)
Ada kedalaman balaghah (retorika) dalam frasa “wakafa birabbika…” dalam ayat tersebut. Kehadiran huruf ‘ba’ pada kata “birabbika” bukanlah tanpa makna. Dalam tata bahasa Arab, ini adalah ‘ba zaidah’ yang berfungsi untuk taukid (penegasan). Artinya, ayat ini tidak sekadar bermakna “Cukuplah Tuhanmu,” melainkan “Sesungguhnya, cukuplah Tuhanmu,”
Ini adalah penegasan mutlak bahwa tidak ada sumber petunjuk dan pertolongan lain yang dibutuhkan.
“…menjadikan Allah sebagai petunjuk” berarti menjadikan Al-Qur’an dan As-Sunnah sebagai pedoman mutlak dalam bersikap. Tindakan seperti “jalan-jalan ke Zionis Yahudi” atau berbicara toleransi dengan pihak yang tangannya berlumuran darah jelas tidak mencerminkan sikap ini. Sementara itu, “mencukupkan Allah sebagai penolong” berarti meyakini bahwa kemenangan hanya datang dari-Nya, sebagaimana firman-Nya, “…Jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolongmu…” (QS. Muhammad: 7)
Dilarang Keras ‘Condong’ Meskipun Hanya Seujung Kuku
Ini adalah poin paling krusial. Al-Qur’an memberikan peringatan yang sangat keras mengenai larangan “condong” (tarkanu) kepada kaum yang nyata-nyata berlaku zalim.
“Dan janganlah kamu condong kepada orang-orang yang zalim yang menyebabkan kamu disentuh api neraka, dan sekali-kali kamu tiada mempunyai seorang penolong pun selain daripada Allah, kemudian kamu tidak akan diberi pertolongan.” (QS. Hud: 113)
Untuk memahami betapa kerasnya larangan ini, para ulama tafsir membedah pilihan kata Allah SWT. Ada tiga tingkatan kecondongan pada kezaliman:
- Condong pada kezaliman itu sendiri (ila azh-zhulmi).
- Condong pada kaum zalim yang identitasnya adalah kezaliman (ila azh-zhalimin).
- Condong pada mereka yang telah berbuat zalim (ila alladzina zhalamu).
Menariknya, Al-Qur’an menggunakan redaksi ketiga, tingkatan yang paling rendah, yaitu condong kepada orang yang telah berbuat zalim (bentuk kata kerja, bukan kata benda yang melekat). Logikanya sangat kuat: jika condong pada tingkatan terendah saja—orang yang mungkin hanya sesekali berbuat zalim—ancamannya adalah api neraka, maka bagaimana lagi dengan condong pada Zionis yang jelas-jelas masuk kategori azh-zhalimin (kaum yang kezalimannya telah mendarah daging)?
Konsekuensinya pun digambarkan dengan sangat mengerikan: fatamassakumun naaru (lalu api neraka akan menyentuhmu). Redaksi ayat ini menempatkan “api neraka” sebagai subjek aktif, seolah-olah api itu sendiri yang bergerak aktif mengejar dan menyentuh pelakunya.
Para ulama telah mengingatkan, jika kita ingin mengetahui kedudukan Islam bagi suatu masyarakat, maka tidak cukup kita menilainya dari berdesak-desakannya mereka di pintu-pintu masjid… Tapi semata-mata lihatlah kepada bagaimana sikap perlawanan mereka kepada musuh-musuh syariat.
Nubuat Mengerikan: Saat Umat Islam Mengikuti Musuhnya hingga ke Lubang Biawak
Baginda Nabi Muhammad SAW telah menubuatkan sebuah kondisi di akhir zaman di mana sebagian umat Islam akan kehilangan jati dirinya dan meniru musuh-musuh mereka. Beliau bersabda:
“Sungguh, kalian benar-benar akan mengikuti jalan-jalan orang-orang sebelum kalian, sejengkal demi sejengkal, sehasta demi sehasta, sehingga sekiranya mereka masuk ke dalam lubang biawak pun, niscaya kalian akan mengikutinya.” (HR. Bukhari & Muslim)
Secara gramatikal, ungkapan “Latattabiunna” menggunakan nun taukid as-saqilah (nun ganda bertasydid), sebuah perangkat bahasa Arab yang menegaskan bahwa perbuatan ini pasti akan terjadi di masa depan (fi mustaqbali zaman). Ini bukan sekadar peringatan, melainkan sebuah nubuat yang terkonfirmasi.
“Jalan-jalan” (sunan) yang diikuti mencakup pemikiran, ideologi, keyakinan, hingga perbuatan. Relevansinya hari ini sangat mengerikan. Ideologi global seperti Kapitalisme lahir dari rahim pemikir berlatar Nasrani (Adam Smith), sementara Komunisme dicetuskan oleh tokoh berlatar Yahudi (Karl Marx). Hadits ini seolah memprediksi dominasi ideologi-ideologi ini. Kiasan “masuk lubang biawak” menggambarkan perbuatan yang sangat tidak logis atau memalukan, namun tetap diikuti hanya karena meniru musuh. Ini cerminan dari mereka yang tanpa beban bermanis muka atau mengikuti agenda pihak yang jelas membantai saudara seimannya.
Akar Masalah: Umat yang Kehilangan Perisainya
Mengapa kezaliman ini terus terjadi dan mengapa sebagian orang bisa dengan mudahnya “condong” kepada musuh? Akar masalahnya bersifat struktural: umat Islam saat ini terpecah-belah dan tidak memiliki kepemimpinan tunggal yang menyatukan. Baginda Nabi SAW menyifati kepemimpinan Islam (khilafah) sebagai junnah atau perisai.
Tanpa “perisai” ini, umat menjadi sangat rentan. Musuh tidak hanya leluasa melancarkan serangan fisik, tetapi juga serangan pemikiran (ghazwul fikri). Lebih dalam lagi, ketiadaan “perisai” ini adalah wujud nyata dari hilangnya apa yang dulu didoakan oleh Nabi SAW, yaitu sebuah “Sulthaanan Nashira”—kekuasaan yang menolong. Pertolongan Allah yang kita harapkan seringkali termanifestasi secara nyata melalui kepemimpinan yang adil dan melindungi. Hilangnya perisai ini adalah inti dari krisis yang kita hadapi. Perjuangan sejati bukan hanya menolak individu zalim, tetapi juga memperjuangkan kembalinya persatuan dan kekuatan umat di bawah naungan sistem yang Islami.
Sikap terhadap kaum zalim bukanlah sekadar urusan diplomasi, politik, atau dialog antaragama. Ia adalah masalah prinsip akidah al-wala’ wal bara’ (loyalitas dan lepas diri) yang memiliki konsekuensi berat di dunia dan akhirat. Peringatan-peringatan dalam Al-Qur’an dan As-Sunnah sudah sangat jelas dan tegas. Setelah memahami berbagai peringatan tegas ini, di manakah kita akan meletakkan loyalitas kita—pada prinsip yang telah Allah gariskan, atau pada kompromi duniawi yang tampak menggiurkan?[]
Disarikan dari kajian dengan tema tersebut di NSTV:
