Momen Refleksi
Bayangkan kesedihan mendalam di hati Rasulullah ﷺ saat beliau, dengan suara yang sarat akan kepedulian, mengangkat sebuah aduan kepada Rabb-nya. Sebagai seorang Muslim, kita semua memuliakan Al-Qur’an. Namun, sudahkah kita benar-benar menyambutnya dalam hidup kita, atau jangan-jangan kita termasuk kaum yang tanpa sadar telah melukai hati Nabi kita sendiri?
Ada satu aduan yang begitu menggetarkan, sebuah keluhan yang diabadikan oleh Allah SWT dalam Surah Al-Furqan ayat 30: “Dan Rasul (Muhammad) berkata, ‘Ya Tuhanku, sesungguhnya kaumku telah menjadikan Al-Qur’an ini sesuatu yang diabaikan (mahjura).'” Ungkapan ini bukan sekadar keluh kesah biasa. Ia adalah gema peringatan yang menembus lorong waktu, sebuah pernyataan berat yang memiliki konsekuensi mendalam bagi umatnya di setiap zaman.
Makna “Mengabaikan” Jauh Lebih Luas dari Sekadar Tidak Membaca
Istilah mahjura (diabaikan atau ditinggalkan) dalam aduan Rasulullah ﷺ ternyata memiliki cakupan yang sangat luas. Mengabaikan Al-Qur’an bukan hanya perkara tidak membukanya sama sekali. Al-Hafizh Ibnul Qayyim merincikan bahwa ada setidaknya lima tingkatan dalam perbuatan hajrul Qur’an (mengabaikan Al-Qur’an):
- Tidak mau mendengar dan mengimaninya (hajru sima’ihi), yakni berpaling dan menolak untuk menyimak apalagi meyakini kebenarannya.
- Tidak mengamalkan halal-haramnya, meskipun membaca dan mengimaninya (hajrul amali bihi), yakni menjadikan Al-Qur’an sebatas bacaan tanpa komitmen untuk mengikuti perintah dan larangannya.
- Tidak menjadikannya sebagai hukum dalam pokok dan cabang urusan agama (hajru tahkimihi), yaitu mengganti hukum Allah dengan hukum jahiliah buatan manusia dalam mengatur sendi-sendi kehidupan.
- Tidak merenungi dan memahami maknanya (hajru tadabburihi), yakni membaca tanpa upaya untuk mengetahui apa yang Allah kehendaki di balik ayat-ayat-Nya.
- Tidak menjadikannya sebagai obat untuk penyakit hati dan jiwa (hajrul istisyfa’ bihi), yakni mencari solusi untuk masalah-masalah kalbu dan kejiwaan dari sumber lain selain petunjuk Al-Qur’an.
Definisi yang diperluas ini memaksa kita untuk melihat lebih jauh dari sekadar aktivitas membaca. Ia menuntut evaluasi total atas bagaimana kita memposisikan Al-Qur’an dalam seluruh aspek kehidupan kita—mulai dari keyakinan, amal, hukum, pemikiran, hingga kesehatan jiwa.
Aduan Seorang Nabi Bukan Keluhan Biasa, tapi Pertanda Datangnya Azab
Ketika seorang nabi menyampaikan syakwah (aduan resmi) kepada Allah SWT tentang kaumnya, ini bukanlah pertanda biasa. Kaum kafir Quraisy yang menjadi objek utama aduan Rasulullah ﷺ secara aktif “menikam Al-Qur’an” (at-tha’nu fil Qur’an). Mereka melabelinya sebagai mantra sihir atau ucapan dukun demi menghalangi para peziarah yang datang ke Makkah untuk mendengarkan kebenaran.
Salah satu contoh paling nyata adalah An-Nadhr bin Al-Harits. Ketika Rasulullah ﷺ mengumpulkan orang-orang untuk membacakan Al-Qur’an, An-Nadhr akan sengaja memalingkan perhatian mereka dengan menceritakan dongeng raja-raja Persia, lalu berkata dengan congkak, “Tidaklah ucapan Muhammad itu melainkan dongeng-dongengan orang terdahulu.”
Akibat dari penolakan yang jahat ini sangat mengerikan. Sejarah para nabi menunjukkan bahwa aduan semacam ini adalah sinyal bahwa azab bagi kaum tersebut menjadi ‘halal’—sebuah kepantasan yang tak terelakkan—dan tidak akan ditunda-tunda lagi. Para pemimpin Quraisy menemui akhir yang mengenaskan: sebagian, seperti Abu Jahal dan An-Nadhr bin Al-Harits, tewas terhina dalam Perang Badar. Sebagian lainnya, seperti Abu Lahab dan Al-Walid bin Al-Mughirah, dibinasakan oleh Allah melalui penyakit mematikan.
Ini adalah peringatan yang sangat keras bahwa mengabaikan Al-Qur’an dan memusuhi pembawanya bukanlah perkara sepele. Ia mengundang murka Allah yang bisa disegerakan bahkan di dunia.
Permusuhan terhadap Kebenaran adalah Sebuah Pola yang Berulang
Setelah mengabadikan aduan Rasulullah ﷺ, Allah SWT langsung memberikan sebuah penegasan yang berfungsi sebagai tausiah (penghiburan) bagi beliau. Dalam ayat berikutnya (Al-Furqan: 31), Allah berfirman: “Dan demikianlah untuk setiap nabi Kami adakan musuh dari kalangan orang-orang yang berbuat jahat (mujrimin).”
Ayat ini menjelaskan bahwa permusuhan sengit yang dihadapi oleh Nabi Muhammad ﷺ dari kaumnya sendiri bukanlah fenomena baru. Ini adalah sebuah pola universal (sunnatullah) yang dialami oleh semua nabi dan rasul sepanjang sejarah. Setiap kali seorang utusan datang membawa kebenaran, akan selalu muncul penentang dari kalangan kaumnya sendiri yang berbuat jahat.
Pola sunnatullah ini terbentang di hadapan kita, menuntut kita untuk memilih di sisi mana kita akan berdiri. Sebagaimana para nabi memiliki pewaris, yaitu para ulama yang melanjutkan risalah dakwah, para musuh nabi pun memiliki “pewaris”. Di setiap generasi, akan selalu ada kelompok yang melanjutkan estafet permusuhan terhadap Islam, ajarannya, dan para penyerunya.
Jalan Keluar hanya Satu: Petunjuk-Nya Mendatangkan Pertolongan-Nya
Di akhir ayat 31 Surah Al-Furqan, Allah memberikan kunci solusi dari semua permusuhan dan tantangan tersebut: “Dan cukuplah Tuhanmu sebagai Pemberi Petunjuk (Hadiyan) dan Penolong (Nashiran).”
Ada hubungan yang sangat erat antara dua sifat Allah ini. Pertolongan (Nashiran) dari Allah bersifat kondisional; ia hanya akan datang jika kita mengikuti petunjuk-Nya (Hadiyan). Artinya, kita tidak bisa berharap akan ditolong oleh Allah jika kita mengabaikan panduan-Nya yang termaktub dalam Al-Qur’an dan Sunnah, terutama dalam cara kita menyikapi musuh-musuh dakwah.
Prinsip inilah yang seringkali terlupakan saat menghadapi kezaliman modern, seperti yang menimpa saudara-saudara kita di Palestina. Solusi tidak terletak pada diplomasi yang tunduk pada arahan musuh Islam—para mujrimin di era ini—tetapi pada kepatuhan total terhadap petunjuk Allah untuk meraih pertolongan-Nya. Kemenangan sejati hanya akan diraih ketika kita menyelaraskan seluruh strategi dan tindakan kita dengan perintah Allah.
***
Jangan sampai Kita Menjadi Kaum yang Diadukan
Aduan Rasulullah ﷺ bukanlah sekadar catatan sejarah, melainkan sebuah peringatan abadi yang relevan bagi umatnya di setiap zaman. “Mengabaikan Al-Qur’an” ternyata adalah sebuah isu multi-dimensi yang jauh melampaui sekadar urusan membaca. Ia menyangkut soal keimanan, pengamalan, penegakan hukum, perenungan makna, hingga menjadikannya sebagai obat bagi jiwa.
Setelah merenungi aduan Rasulullah ﷺ ini, mari kita bertanya pada diri sendiri: Dalam aspek mana hubungan kita dengan Al-Qur’an perlu segera diperbaiki, agar kelak di Hari Kiamat kita tidak berdiri di hadapan Allah sebagai kaum yang diadukan oleh Nabi kita sendiri?[]
Disarikan dari kajian dengan tema tersebut di NSTV:
