
Sejarah Peradaban di Bulan Juli: Pelajaran dari Kebangkitan dan Keruntuhan Suatu Peradaban
Sejarah Peradaban Sepanjang Bulan Juli
Ada berbagai peristiwa penting dalam sejarah peradaban yang terjadi pada bulan Juli. Di antara sejumlah peristiwa kunci yang tercatat sepanjang sejarah peradaban di bulan Juli, yang memberikan kita pembelajaran adalah:
- Perintah Hijrah (16 Juli 622 M)
Peristiwa ini terjadi pada tanggal 16 Juli 622 M, bertepatan dengan bulan Safar tahun ke-13 kenabian. Perintah hijrah datang setelah Nabi Muhammad SAW menerima Bai’at Aqabah II di Mina, di mana orang-orang Aus dan Khazraj (kaum Anshar) berjanji mengangkat beliau sebagai pemimpin. Kondisi dakwah saat itu di Mekkah mengalami stagnasi dan penolakan, sementara utusan Nabi, Mus’ab bin Umair, mendapat sambutan di Yatsrib (Madinah). Nabi memerintahkan para sahabat untuk hijrah terlebih dahulu, sementara beliau menunggu perintah langsung dari Allah. Kaum Quraisy bahkan mengadakan sayembara 100 unta bagi siapa saja yang berhasil menangkap Nabi, hidup atau mati. Sayembara tersebut disambut oleh banyak kaum kafir, salah satunya adalah Suraqah bin Malik, yang kemudian justru mendapat hidayah. Nama Yatsrib kemudian diubah menjadi Madinatun Nabi, Madinah An-Nubuwwah, dan pada masa Utsmaniyah menjadi Madinah Al-Munawwarah (kota yang bercahaya kenabian, risalah, dan Al-Qur’an). Hijrah ini menandai keberlangsungan dakwah dan perjuangan Islam agar menjadi rahmat bagi sekalian alam.
- Perang Shiffin (26-28 Juli 657 M)
Perang ini terjadi pada tanggal 26 hingga 28 Juli 657 M; melanda persatuan kaum Muslim dengan perselisihan politik antara Khalifah Ali bin Abi Thalib dan Gubernur Muawiyah bin Abi Sufyan. Keduanya adalah sahabat Nabi; Ali adalah menantu dan sepupu Nabi, sementara Muawiyah adalah ipar Nabi (kakak dari Ummu Habibah, istri Nabi). Perang diselesaikan melalui arbitrase (tahkim), di mana Ali menunjuk Abu Musa al-Asy’ari dan Muawiyah menunjuk Amru bin Ash. Namun, arbitrase ini justru memicu konflik lebih lanjut dan menyebabkan munculnya kelompok Khawarij, yang memisahkan diri dari barisan Ali dan bahkan berencana membunuh Ali, Muawiyah, Abu Musa, dan Amru bin Ash. Peristiwa ini berujung pada pembunuhan Khalifah Ali bin Abi Thalib oleh Abdurrahman bin Muljam, seorang Khawarij.
- Perang Wadilakah atau Guadalete (19 Juli 711 M)
Pada tanggal 19 Juli 711 M (28 Ramadhan), 15.000 pasukan Islam yang dipimpin oleh Thariq bin Ziyad, Thariq bin Malik, dan Abdul Aziz bin Musa bin Nusair, yang berangkat dari wilayah Maroko, berhasil mengalahkan lebih dari 100.000 pasukan Visigothic Kaisar Roderic. Kemenangan ini menandai awal mula integrasi Andalusia (Spanyol) menjadi bagian tak terpisahkan dari wilayah Muslim di bawah Kekhalifahan Bani Umayyah di Damaskus, Suriah, di masa Khalifah Al-Walid bin Abdul Malik. Kemenangan ini juga menggenapi pernyataan Sayyidina Utsman bin Affan bahwa kaum Muslim akan menjepit Romawi Bizantium dari wilayah barat Eropa.
- Kejatuhan dan Penjarahan Yerusalem oleh Pasukan Salib (15 Juli 1099 M)
Pada tanggal 15 Juli 1099 M, Yerusalem jatuh dan dijarah oleh pasukan Salib dari Daulah Fatimiyah. Setahun sebelumnya, pada tahun 1098, Yerusalem direbut paksa oleh Daulah Fatimiyah dari Daulah Seljuk. Daulah Fatimiyah yang hanya menempatkan kurang dari 10.000 pasukan di Yerusalem dengan mudah dikalahkan oleh pasukan Salib.
- Perang Hittin (3 Juli 1187 M)
Setelah Yerusalem dikuasai pasukan Salib selama kurang lebih 88 tahun, Sultan Salahuddin Yusuf Ayyub dari Daulah Ayyubiyah mengusir mereka. Perang Hittin pada tanggal 3 Juli 1187 M di Lembah Hittin adalah awal kampanye pembebasan Baitul Maqdis. Pada September tahun yang sama, pasukan Salahuddin berhasil memasuki Yerusalem.
- Perang Salib Keempat di Konstantinopel (17 Juli 1203 M)
Pada tanggal 17 Juli 1203 M, pasukan Salib Eropa (penganut Gereja Latin/Katolik) berupaya merebut kembali Yerusalem. Namun sebelum tiba di sana, mereka justru memasuki dan menjarah Konstantinopel. Hal ini terjadi karena mereka menganggap Gereja Ortodoks Romawi Bizantium memiliki konsepsi teologi yang berbeda dan sesat. Mereka menjarah harta benda seperti obelisk di Hippodrome dan kekayaan di dalam Basilika Hagia Sophia. Peristiwa ini menunjukkan perpecahan di antara sesama Kristen. Kontrasnya, ketika Muhammad Al-Fatih menguasai Konstantinopel pada tahun 1453 M, beliau mengubah Hippodrome menjadi lapangan parade dan Basilika Hagia Sophia menjadi masjid jami’, serta membangun istana Topkapi; menunjukkan cita rasa Islam yang memuliakan kota.
- Ekspedisi Vasco da Gama (8 Juli 1497 M)
Pada tanggal 8 Juli 1497 M, Vasco da Gama memulai ekspedisi laut perdananya dari Lisbon, Portugal, menuju India. Pelayaran ini bertujuan mencari Eldorado (emas dan perak) dan Elpisanto (rempah-rempah), komoditas mahal di Eropa. Ekspedisi ini didasari oleh Perjanjian Tordesillas (1492), yang disepakati antara Spanyol dan Portugal serta disaksikan oleh Paus Alexander, untuk membagi dunia menjadi dua belahan (Barat untuk Spanyol, Timur untuk Portugal). Misi ini juga membawa misi keagamaan “God, Glory, and Gospel” dan menandai awal kolonialisme dan imperialisme Eropa.
- Penundukan Kesultanan Ternate oleh VOC (7 Juli 1683 M)
Pada tanggal 7 Juli 1683 M, Kesultanan Islam Ternate di Halmahera ditundukkan oleh pasukan Vereenigde Oostindische Compagnie (VOC) Belanda dan dijadikan kerajaan vasal. VOC adalah perusahaan dagang milik Kerajaan Belanda yang dikendalikan oleh Heren Van 17, di mana 80% asetnya dikendalikan oleh bankir Yahudi terkaya di Eropa saat itu, Yesak of Wonia. Ini menunjukkan bahwa penjajahan Nusantara pada hakikatnya dikendalikan oleh perusahaan yang asetnya dimiliki oleh bankir Yahudi.
- Perjanjian Damai Adrianopel (27 Juli 1713 M)
Pada tanggal 27 Juli 1713 M, Kesultanan Utsmaniyah dan Kekaisaran Rusia yang dipimpin oleh Tsar Peter I menandatangani Perjanjian Damai Adrianopel (Edirne). Perjanjian ini menghentikan pertikaian selama dua tahun di Balkan, Laut Hitam, Laut Kaspia, dan Krimea. Namun, perdamaian ini tidak berlangsung lama; pada abad ke-19, perang berkecamuk kembali. Rusia bahkan menjuluki Turki sebagai “The Sick Man of Europe”, yang memicu generasi muda Turki melancarkan Tanzimat (reformasi dan modernisasi) dengan mengacu pada Revolusi Prancis, yang kemudian merusak Utsmaniyah dengan sekularisasi dan liberalisasi.
- Perang Piramida (21 Juli 1798 M)
Pada tanggal 21 Juli 1798 M, Jenderal Napoleon Bonaparte dari Kekaisaran Prancis mengalahkan pasukan Mamluk dalam Perang Piramida di dataran tinggi Giza, Mesir. Tujuan Napoleon adalah meluaskan pengaruh Prancis ke Afrika Utara dan Semenanjung Arabia, mempropagandakan ide-ide Liberte, Egalite, Fraternite hasil Revolusi Prancis. Napoleon bahkan mengajak orang-orang Yahudi untuk bergabung dengan janjinya akan membawa mereka ke Palestina dan mengembalikan mereka ke Yerusalem. Namun, pasukan Prancis dan Yahudi digempur habis oleh Kekhilafahan Utsmaniyah di Gaza.
- Perang Dunia I (28 Juli 1914 M)
The Great War atau Perang Dunia Pertama dimulai pada tanggal 28 Juli 1914 M setelah terbunuhnya putra mahkota Austria-Hungaria, Pangeran Ferdinand. Kekaisaran Jerman menyatakan perang, dan Kesultanan Kekhilafahan Utsmaniyah bergabung dengan Jerman untuk menghadapi pasukan Sekutu (Inggris, Prancis, Amerika). Keputusan ini diambil oleh triumvirat Turki Muda yang mengendalikan Sultan Muhammad Rasyad, sebagian karena kekecewaan terhadap Inggris dalam pembelian kapal perang. Kekalahan Jerman dan Turki menyebabkan wilayah-wilayah Utsmaniyah, khususnya di Semenanjung Arabia, dicaplok oleh Sekutu berdasarkan Perjanjian Sykes-Picot (1917). Wilayah Palestina lepas dari kekuasaan Utsmaniyah dan dicaplok Inggris, yang kemudian mengeluarkan Deklarasi Balfour (November 1917); menyatakan Palestina sebagai rumah nasional bagi kepentingan orang-orang Yahudi.
- Pengunduran Diri PM Hideki Tojo (18 Juli 1944 M)
Pada tanggal 18 Juli 1944 M, Perdana Menteri Junta Militer Jepang, Jenderal Hideki Tojo, mengundurkan diri setelah menyadari kekalahan Jepang dalam kampanye militer Perang Pasifik. Kaisar Hirohito mendelegasikan kewenangan kepada Jenderal Koiso Kuniaki. Pada 7 September 1944, PM Koiso Kuniaki berpidato dan menyatakan janji politik kemerdekaan bagi wilayah pendudukan. Di Indonesia, hal ini diikuti dengan pembentukan Dokuritsu Junbi Cosakai (BPUPKI) dan Dokuritsu Zunbi Inkai (PPKI).
Pelajaran dari Sejarah: Kebangkitan dan Keruntuhan Peradaban
Bangkit dan jatuhnya sebuah peradaban adalah sunatullah, sebuah keniscayaan yang telah ditetapkan Allah, seperti halnya kehidupan manusia yang memiliki awal dan akhir. Kekuasaan itu dipergilirkan antar umat manusia dan tidaklah abadi. Suatu peradaban akan mengalami kemandegan dan kejatuhan ketika generasi penerusnya hanya menikmati kemegahan tanpa lagi berjuang dan berkorban seperti para perintis dan pelopornya. Ini berlaku untuk peradaban Islam maupun kerajaan-kerajaan Nusantara seperti Sriwijaya, Majapahit, dan Mataram.
Peradaban modern saat ini ditandai oleh perang ideologi. Islam bangkit dengan ideologi progresif revolusionernya. Namun, di era modern, kekuasaan Islam ditumbangkan oleh kekuatan baru yang tumbuh dari Revolusi Amerika (1776) dan cita-cita Freemasonry dunia untuk membentuk Novus Ordo Seclorum (The New World Order). Orde baru ini mendasari pemerintahan dunia pada negara-negara bangsa yang sekuler, berdasarkan lima asas: monoteisme kultural, humanisme, nasionalisme (negara bangsa), demokrasi (kedaulatan rakyat), dan sosialisme (keadilan sosial).
Kondisi umat Islam saat ini seringkali masih diliputi oleh penyakit wahn, yaitu cinta dunia dan takut akan kematian, sebagaimana diwasiatkan Nabi Muhammad SAW. Ini adalah salah satu sebab kelemahan yang dialami oleh kaum Muslim.
Kerusakan umat manusia diawali oleh rusaknya masyarakat, yang disebabkan oleh rusaknya penguasa yang menerapkan aturan yang merusak. Rusaknya penguasa terjadi karena rusaknya para ulama yang seharusnya mengingatkan, namun mereka berdiam diri atau diperdaya oleh dunia (wahn). Kebangkitan umat Islam akan terjadi jika para ulama, cendekiawan, dan ilmuwan menyadari amanah ilmu mereka, berani mengoreksi penguasa, dan menyadarkan masyarakat untuk bersama-sama berjuang menuju kejayaan. Allah telah menjanjikan kemenangan bagi kaum Muslim di akhir zaman, namun kita harus memantaskan diri untuk meraihnya.
***
Mempelajari sejarah bukanlah sekadar menghafal tanggal dan peristiwa, melainkan menyelami apa yang terjadi untuk bermuhasabah dan memperbaiki diri bagi masa depan. Seperti firman Allah dalam surah Al-Hasyr ayat 18, “Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat), dan bertakwalah kepada Allah. Sungguh, Allah Mahateliti terhadap apa yang kamu kerjakan.”
Pentingnya menuntut ilmu, khususnya ilmu sejarah, dapat memicu semangat kita untuk menjemput kemenangan yang telah dijanjikan Allah SWT. Kita harus memantaskan diri dan bergerak bersama untuk memperjuangkan kebangkitan umat.[]
Disarikan dari kajian dengan tema tersebut di NSTV: