
Membentuk Generasi Berakhlak Mulia: Panduan Menanamkan Adab pada Anak Sejak Dini dalam Islam
Di era modern yang serba bebas ini, perhatian terhadap adab atau tata krama anak-anak seringkali menimbulkan keprihatinan. Fenomena anak yang kurang beradab kepada orangtua atau guru, serta penggunaan kata-kata kasar yang dianggap lumrah, menjadi cerminan kondisi miris saat ini. Namun, Islam, sebagai agama yang sempurna, telah mengatur segala aspek kehidupan, termasuk penanaman adab yang mulia pada anak sejak dini.
Memahami Adab dalam Islam
Adab dapat didefinisikan sebagai norma atau aturan tentang kesopanan, keramahan, dan kebaikan budi pekerti yang diterapkan dalam perilaku keseharian. Ini mencakup hubungan kita dengan diri sendiri, masyarakat, Allah, Rasulullah SAW, bahkan hingga cara kita memperlakukan benda seperti buku. Adab memiliki kaitan erat dengan akhlak dan etika, di mana akhlak sering dikaitkan dengan hubungan diri sendiri yang mengharuskan kita menghiasi diri dengan perilaku baik.
Dalam Islam, penanaman adab adalah wajib dan merupakan bagian dari hukum syara, yang berarti ada pahala bagi yang mengamalkan dan dosa bagi yang mengabaikannya. Imam Bukhari mendefinisikan adab sebagai “menggunakan sesuatu yang terpuji dalam perkataan dan perbuatan”, sementara ulama sufi mengartikannya sebagai “kumpulan dari beberapa kebaikan yang berkaitan dengan konteks keagamaan”.
Mengapa Adab Sangat Penting?
Adab sangat ditekankan dalam ajaran Islam karena hal itu penting dan merupakan:
- Indikator Keutamaan Diri: Rasulullah SAW bersabda, “Sesungguhnya orang yang terbaik di antara kalian adalah orang yang paling baik adab atau akhlaknya.”
- Hak Anak: Anak memiliki hak untuk mendapatkan nama yang baik, pengasuhan yang baik, dan adab yang baik dari kedua orangtuanya.
- Amanah dari Allah: Anak adalah anugerah dan amanah dari Allah SWT, dan orangtua akan dimintai pertanggungjawaban di hadapan-Nya kelak. Amanah ini tidak boleh menjadi kehinaan dan penyesalan di hari akhir.
- Penyenang Hati (Qurrota A’yun): Anak-anak yang memiliki adab baik, tutur kata lembut, sopan santun, patuh kepada orangtua dan guru, menjaga pandangan, serta wajah yang berseri-seri, digambarkan sebagai qurrota a’yun atau penyejuk hati bagi siapapun yang memandangnya.
Kapan Adab Ditanamkan?
Islam memerintahkan penanaman adab pada anak harus dilakukan sejak dini. Meskipun demikian, ada hadits yang menjelaskan bahwa apabila anak telah mencapai usia 6 tahun, maka hendaklah ia diajarkan adab dan sopan santun. Pada usia ini, anak dianggap mendekati mumayyiz atau mampu membedakan baik dan buruk, sehingga mereka sudah siap untuk memahami dan menjalankan adab Islam. Bahkan sebelum itu, sejak anak masih bayi pun, orangtua sudah bisa mulai mengajarkan kebiasaan baik, seperti mengarahkan tangan kanan saat makan.
Contoh-contoh Adab dalam Kehidupan Sehari-hari
Adab dalam Islam mencakup banyak aspek kehidupan, di antaranya:
- Adab Makan: Saat makan, anak diajarkan untuk menyebut nama Allah, makan dengan tangan kanan, dan mengambil makanan yang terdekat atau yang ada di hadapannya.
- Adab terhadap Orangtua atau Orang yang Lebih Tua: Nabi Muhammad SAW pernah bersabda agar seorang anak tidak berjalan di depan ayahnya, tidak melakukan perbuatan yang membuatnya marah, tidak duduk sebelum ayahnya duduk, dan tidak memanggil dengan menggunakan nama.
- Adab dalam Beribadah: Termasuk mengenakan pakaian yang layak dan luas saat berhadapan dengan Allah dalam salat, meskipun aurat sudah tertutup dengan pakaian seadanya.
- Adab Membaca Al-Qur’an: Berwudu, menghadap kiblat, dan memuliakan Al-Qur’an dengan meletakkannya di tempat yang mulia.
- Adab Berbicara: Berkata-kata dengan lembut, tidak menghardik, tidak memotong pembicaraan, dan menghormati orang yang lebih tua.
Langkah-langkah Menanamkan Adab pada Anak
Berikut adalah sembilan langkah penting yang dapat dilakukan orangtua untuk menanamkan adab yang baik pada anak:
1. Menanamkan Akidah yang Kuat pada Anak
Ini adalah pondasi dasar. Anak perlu memahami bahwa mereka adalah hamba Allah yang harus tunduk dan patuh pada ketetapan-Nya. Keyakinan bahwa Allah Maha Melihat dan Rasulullah SAW adalah teladan terbaik akan menjadi kekuatan bagi mereka untuk senantiasa beramal saleh.
2. Menyampaikan Bahwa Adab adalah Bagian dari Hukum Syara
Anak harus memahami bahwa adab adalah bagian dari aturan Allah SWT. Dengan pemahaman ini, mereka akan mengerti bahwa beradab baik akan mendapatkan pahala, sedangkan berbuat buruk akan mendapatkan dosa dan dimurkai Allah.
3. Mengajarkan Keteladanan Rasulullah SAW dalam Memelihara Adab yang Baik
Contoh konkret dari Rasulullah SAW, seperti adab makan atau memperlakukan adik dengan lemah lembut, harus dibiasakan sejak dini. Menjelaskan bahwa perilaku ini dicontohkan oleh Nabi akan menguatkan pemahaman anak.
4. Memberikan Keteladanan pada Anak
Orangtua adalah panutan utama bagi anak-anak. Konsistensi dalam beradab baik sangat penting. Apa yang diajarkan harus selaras dengan apa yang dipraktikkan oleh orangtua, misalnya selalu makan dengan tangan kanan. Hal ini juga berlaku untuk orang-orang di sekitar rumah yang berinteraksi dengan anak.
5. Membiasakan Mengucapkan Kalimah Thayyibah
Membiasakan untuk mengucapkan kata-kata baik seperti bismillah (saat makan), alhamdulillah (saat mendapat kebaikan), jazakallah/jazakillah (saat menerima sesuatu), dan istighfar (saat kaget atau melakukan kesalahan), akan menjaga anak dari penggunaan kata-kata kasar.
6. Menjauhkan Anak dari Lingkungan yang Tidak Baik
Orangtua perlu ekstra hati-hati dalam memilih lingkungan tempat tinggal dan pergaulan anak. Sistem sekuler kapitalisme saat ini menuntut kewaspadaan tinggi terhadap pengaruh buruk dari luar.
7. Selektif Memilihkan Program Tayangan Media
Konten media, termasuk film atau cerita anak, harus diseleksi ketat karena hal-hal buruk bisa masuk ke dalam rumah. Membatasi penggunaan gawai (gadget) pada anak, terutama yang masih kecil, sangat dianjurkan karena mereka belum benar-benar membutuhkannya.
8. Bijak dalam Memberi Peringatan atau Nasihat
Peringatan atau nasihat, termasuk hukuman (punishment), harus diberikan dengan cara yang bijaksana dan makruf (baik). Hindari mempermalukan atau membuat anak merasa rendah diri, melainkan membangun pemahaman mereka tentang konsekuensi perbuatan.
9. Menciptakan Lingkungan yang Selalu Menjaga Sikap dan Perilakunya
Interaksi positif dengan tetangga dan masyarakat sekitar sangat penting. Orangtua perlu menyebarkan dakwah dan bekerja sama dengan lingkungan untuk menjaga perilaku anak-anak. Lingkungan yang baik akan membantu anak-anak mempertahankan adab yang telah ditanamkan di rumah dan bahkan mewarnai lingkungan mereka dengan kebaikan.
Adab dalam Menuntut Ilmu dan Menghadapi Tantangan Modern
Penanaman adab juga sangat relevan dalam konteks menuntut ilmu:
- Adab kepada Guru: Menghormati guru, mendengarkan dengan baik saat mereka berbicara, tidak meremehkan penjelasan, serta mendoakan kebaikan bagi mereka. Imam Syafi’i dikenal sangat menghormati gurunya, bersikap rendah hati meskipun mungkin lebih tahu, dan tidak mempermalukan guru di depan murid lain. Jika ada kesalahan dari guru, koreksilah dengan cara yang makruf, bukan di depan umum.
- Menghadapi Kecanduan Gawai dan Anak Dewasa yang Belum Dewasa: Ketika anak sudah terlanjur dewasa namun menunjukkan perilaku kurang matang (seperti mudah uring-uringan atau kecanduan gawai), tidak ada kata terlambat untuk memperbaiki. Kunci utamanya adalah komunikasi intens dan mengajak anak berpikir. Ajak mereka berbicara dari hati ke hati, sampaikan kekhawatiran orangtua, dan bantu mereka melihat konsekuensi negatif dari perilaku tersebut (misalnya, melalaikan salat atau makan). Pantau apa yang mereka lihat di media dan alihkan perhatian mereka ke aktivitas lain yang lebih bermanfaat. Peran dan sikap orangtua sangat penting dalam menghadapi tantangan ini.
***
Imam Al-Ghazali pernah menasihati: “Ketahuilah, sesungguhnya metode pendidikan anak merupakan hal yang paling penting dan paling ditekankan. Anak-anak itu adalah amanah bagi kedua orangtuanya. Hatinya yang suci merupakan permata yang paling berharga; belum terukir dan terbentuk. Ia menerima setiap bentuk ukiran dan cenderung kepada setiap hal yang digiring kepadanya. Jika dibiasakan yang baik dan diajarkan kebaikan maka ia akan tumbuh menjadi baik dan bahagia di dunia dan akhirat. Ayahnya, ibunya, gurunya, dan setiap orang yang mendidik juga akan mendapatkan pahala. Namun jika dibiasakan dengan keburukan dan dibiarkan seperti binatang maka ia akan celaka dan binasa dan dosanya ditanggung oleh orangtuanya.”
Nasihat ini menegaskan kembali tanggung jawab besar orangtua dalam mendidik anak. Dengan menanamkan kebaikan dan hukum-hukum syara secara konsisten, in sya Allah anak-anak akan tumbuh menjadi individu yang berkualitas prima, siap memikul tanggung jawab sebagai seorang Muslim sejati, dan menjadi penyejuk hati bagi kita semua. Semoga Allah memudahkan kita dalam menjalankan tugas mulia ini.[]
Disarikan dari kajian dengan tema tersebut di NSTV: