
Untuk mendapatkan kebahagiaan manusia harus berpikir. Ha? Bahagia saja mikir? Bahagia itu kan reflek atau respons saja kan? Tidak, bahagia itu tidak sekadar reflek atau respons semata, tetapi sesuatu hal yang akan didapat ketika manusia berpikir. Ketika mengamati kucing yang sedang lapar, di saat yang sama ia langsung mendapatkan makanan atau bertemu dengan makanan yang diincar tentu kucing ini puas dan bahagia. Puas karena hajat laparnya sudah tertunaikan. Begitu pun hewan lain, ketika bertemu dengan lawan jenis yang mau diajak untuk memenuhi birahinya, hewan tersebut akan merasa puas.
Masalahnya manusia bukan hewan atau binatang, yang ketika nafsunya terpenuhi, keinginan tercapai lalu dia akan puas dan bahagia. Bahagia bagi seorang hamba Allah Swt. yang telah dikaruniai akal tidak serendah itu. Standar kebahagiaan yang diturunkan Allah Swt. kepada Nabi Muhammad saw. tidak seremeh itu. Bukan soal nafsu atau ambisi atau keinginan yang terakomodasi tetapi standar kebahagiaan yang Rasulullah saw. ajarkan adalah kebahagiaan hakiki. Kebahagiaan hakiki yang tidak temporal tetapi kekal abadi.
وَابْتَغِ فِيْمَآ اٰتٰىكَ اللّٰهُ الدَّارَ الْاٰخِرَةَ وَلَا تَنْسَ نَصِيْبَكَ مِنَ الدُّنْيَا وَاَحْسِنْ كَمَآ اَحْسَنَ اللّٰهُ اِلَيْكَ وَلَا تَبْغِ الْفَسَادَ فِى الْاَرْضِۗ اِنَّ اللّٰهَ لَا يُحِبُّ الْمُفْسِدِيْنَ ٧٧
“Dan, carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (pahala) negeri akhirat, tetapi janganlah kamu lupakan bagianmu di dunia. Berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu dan janganlah kamu berbuat kerusakan di bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan.” (TQS. Al-Qashas: 77)
Apa itu? Kebahagiaan hakiki seorang hamba Allah Swt. adalah ketika ia mendapatkan cinta Allah Swt, yakni menjadi hamba yang diridhai-Nya. Bayangkan, Al-Khaliq (Sang Pencipta) dan Al-Mudabbir (Yang Maha Mengatur) ridha kepada hamba-Nya yakni manusia yang memiliki keimanan sempurna dan ketaatan paripurna. Standar kebahagiaan hakiki seorang Muslim adalah ketika Rabb-nya ridha kepadanya.
Bagaimana agar Allah ridha kepada kita? Tentu sangat sederhana kita yakin pada-Nya dan kita tunduk pada-Nya. Sesederhana itu, tetapi hal sederhana ini mendapatkan penolakan luar biasa dari hawa nafsu manusia. Inilah ujiannya, yakni menundukkan hawa nafsu agar taat kepada aturan-aturan-Nya. Agar mampu menundukkan hawa nafsu tentu peranan akal harus lebih dominan. Jangan sampai manusia hidup tidak ada bedanya dengan hewan yang tidak memiliki akal.
مَنْ عَمِلَ صَالِحًا مِّنْ ذَكَرٍ اَوْ اُنْثٰى وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَلَنُحْيِيَنَّهٗ حَيٰوةً طَيِّبَةًۚ وَلَنَجْزِيَنَّهُمْ اَجْرَهُمْ بِاَحْسَنِ مَا كَانُوْا يَعْمَلُوْنَ ٩٧
“Siapa yang mengerjakan kebajikan, baik laki-laki maupun perempuan, sedangkan dia seorang mukmin, sungguh Kami pasti akan berikan kepadanya kehidupan yang baik dan akan Kami beri balasan dengan pahala yang lebih baik daripada apa yang selalu mereka kerjakan.” (TQS. An-Nahl: 97)
Di sinilah mengapa Muslim senantiasa berpikir. Dengan berpikir seorang Muslim mampu membedakan mana yang haq (benar) dan batil. Tentunya sebelum berpikir mereka memperkaya dirinya secara konsisten untuk mendapatkan ilmu dan tsaqofah Islam. Jadi, untuk memahami makna kebahagiaan hakiki, seorang Muslim harus menjadi hamba yang diridhai-Nya. Kebahagiaan datang bukan ketika nafsu terpenuhi tetapi ketentuan untuk mendapatkan hal tersebut terpenuhi.
Dari Shuhaib, ia berkata, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
عَجَبًا لأَمْرِ الْمُؤْمِنِ إِنَّ أَمْرَهُ كُلَّهُ خَيْرٌ وَلَيْسَ ذَاكَ لأَحَدٍ إِلاَّ لِلْمُؤْمِنِ إِنْ أَصَابَتْهُ سَرَّاءُ شَكَرَفَكَانَ خَيْرًا لَهُ وَإِنْ أَصَابَتْهُ ضَرَّاءُ صَبَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ
“Sungguh menakjubkan keadaan seorang mukmin. Seluruh urusannya itu baik. Ini tidaklah didapati kecuali pada seorang mukmin. Jika mendapatkan kesenangan, maka ia bersyukur. Itu baik karenanya. Jika mendapatkan kesusahan, maka ia bersabar. Itu pun baik baginya.” (HR. Muslim, No. 2999)
Bahagia bukan soal bisa makan makanan mewah tetapi ketika makan makanan yang halal dan mendapatkannya dengan cara yang halal pula. Bahagia bukan soal menjadi idola banyak wanita/lelaki, tetapi ketika memiliki pasangan sah secara Islam dan memenuhi nafsunya hanya dengan pasangan yang dihalalkan baginya. Tentu kebahagiaan itu tidak akan datang jika manusia senantiasa mengkufuri nikmat-Nya. Kebahagiaan hakiki seorang Muslim adalah menjadi hamba yang taat kepada-Nya, yakni dia tidak berhenti mengkaji Islam untuk meningkatkan kualitas ketakwaannya dan dia tidak lelah untuk berdakwah, menyampaikan risalah Islam dengan menyebarkan kemakmuran dan mencegah kemungkaran. Inilah sebaik-baik umat yang ridha akan ketaatannya dan bersyukur atas segala nikmat yang Allah Swt. sampaikan kepadanya.
اِنَّ الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا وَعَمِلُوا الصّٰلِحٰتِ ۙ اُولٰٓئِكَ هُمْ خَيْرُ الْبَرِ يَّةِ
“Sungguh, orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan, mereka itu adalah sebaik-baik makhluk.” (TQS. Al-Bayyinah 98: Ayat 7)
كُنتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُونَ بِٱلْمَعْرُوفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ ٱلْمُنكَرِ وَتُؤْمِنُونَ بِٱللَّهِ ۗ وَلَوْ ءَامَنَ أَهْلُ ٱلْكِتَٰبِ لَكَانَ خَيْرًا لَّهُم ۚ مِّنْهُمُ ٱلْمُؤْمِنُونَ وَأَكْثَرُهُمُ ٱلْفَٰسِقُونَ
“Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah. Sekiranya Ahli Kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka, di antara mereka ada yang beriman, dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasik.” (TQS. Al-Imran: 110).[] Ika Mawarningtyas