
Oleh: Lulu Nugroho
Islam nyaah ka indung (Sunda: Islam sayang kepada [para] ibu)
Kasih sayang kepada ibu dan ayah, adalah fitrah manusia. Naluri ini muncul seiring keberadaan manusia di muka bumi, dan membuat manusia beraktivitas memenuhi dorongan nalurinya. Maka perlu tatanan kehidupan yang kondusif, agar seseorang mampu berkhidmat kepada kedua orangtuanya. Sebaliknya, di dalam lingkungan yang tidak mendukung, maka bisa jadi fitrah tersebut akan hilang.
Hal ini terjadi pada program Jabar Nyaah ka Indung sebagai inisiasi Pemerintah Provinsi Jawa Barat, yang disambut baik oleh warga. Program ini ditujukan pada Aparatur Sipil Negara (ASN) dan pegawai BUMD di Jawa Barat, agar memiliki seorang ibu asuh untuk dibantu dan diperhatikan, terutama yang kurang mampu, janda dan lanjut usia (lansia). Diharapkan terjadi penurunan angka kemiskinan lansia di Jawa Barat.
Nyaah ka Indung ala Kapitalisme
Fenomena aging population, tentu merupakan beban bagi negara pengemban kapitalisme, sebab populasi menua ini terus meningkat, sementara negara tidak memiliki kemampuan mengelola urusan umat. Pada tahun 2025 diperkirakan jumlah lansia mencapai 5,82 juta jiwa atau 11,48% dari total penduduk Jawa Barat.
Data Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) Maret 2024, menyebutkan bahwa 5,7 juta lansia masih bekerja, baik di sektor formal maupun informal. Artinya kondisi lansia hari ini sedang tidak baik-baik saja, karena mereka masih berjibaku menjadi tulang punggung keluarga di usia senjanya. Kemiskinan tampaknya masih lekat dengan kehidupan mereka. Bahkan didapati, ibu (indung) lansia yang miskin jumlahnya lebih banyak ketimbang laki-laki.
Beragam program pemerintah telah disediakan untuk menopang lansia, seperti Asisten Rehabilitasi Sosial (Atensi), Program Keluarga Harapan (PKH), dan sebagainya, namun belum tepat menyentuh sasaran. Alhasil masih banyak lansia yang mengais remah-remah kehidupan, untuk bertahan di tengah deraan masa.
Kapitalisme tak mampu menyudahi permasalahan lansia. Bagi sistem ini, lansia tak lebih dari sekadar angka di atas kertas. Penetapan indikator sejahtera pun menggunakan standar materialis. Akibatnya tak sampai ke akar permasalahan. Bahkan menyebabkan para lansia terlibas kasus-kasus kejahatan.
Nyaah ka Indung dalam Islam
Berbeda dengan Islam, sistem kehidupan yang satu ini merupakan tatanan Ilahi Rabbi. Karenanya ia tak akan menyelisihi fitrah manusia, melahirkan kebaikan yang banyak dan menuntaskan problematika umat. Banyak ayat menunjukkan kewajiban berbakti kepada kedua orangtua (birrul walidain). Maka individu yang bertakwa di dalam keluarga, adalah lapis pertama yang wajib memuliakan orang tua, serta memenuhi seluruh kebutuhan jasmani dan naluri mereka.
Sedangkan negara sebagai institusi pelindung dan pengatur seluruh permasalahan umat (junnah wa ra’in) adalah lapis berikutnya, yang akan memastikan kesejahteraan orang perorang, termasuk lansia. Tidak hanya pangan, sandang dan papan, tetapi juga kesehatan, keamanan dan kebutuhan terhadap ilmu, adalah tanggung jawab negara. Beban pemenuhan seluruh kebutuhan pokok, berada dalam pundak negara, bukan ASN atau pegawai BUMD.
Dalam sistem yang ditata oleh Allah Al-Mudabbir, niscaya para indung akan sejahtera. Mereka punya hak suara sebagaimana seorang perempuan tua pernah menasehati Khalifah Umar bin Khaththab ra. Mereka berhak pula atas kasih sayang dan penghormatan, sebagaimana Rasulullah saw. pernah berkata santun dan takzim kepada ayah Abu Bakar as. yang belum masuk Islam, kala itu. Wa bil waalidaini ihsanan.[]