
Strategi Islam dalam Mengatur Kesehatan yang Berkualitas dan Terjangkau
Tidak dimungkiri kesehatan berkualitas itu butuh dukungan ekonomi yang kuat. Tetapi, bagaimana bisa menciptakan ketahanan ekonomi yang kuat jika menerapkan sistem ekonomi kapitalisme? Tentu akan sulit dan tidak mungkin. Oleh karena itu, wajar jika dalam ekonomi kapitalisme, sektor publik akan diliberalisasi besar-besaran demi melepas tanggung jawab negara dalam pengelolaan hal itu.
Hal tersebut terlihat dari kapitalisasi dan liberalisasi sumber daya alam, pendidikan, dan kesehatan. Hal itulah yang menjadi perbedaan dengan sistem Islam. Dalam Islam, negara wajib mengurus rakyatnya sebaik mungkin. Kepengurusan terhadap rakyat, tidak dibiarkan umat Islam berjalan sendiri tanpa pedoman. Tetapi, Islam menciptakan sistem kehidupan yang komprehensif yang dapat mencetak generasi unggul dan didukung oleh sistem ekonomi tahan krisis.
Dalam menyelenggarakan kesehatan yang berkualitas dan terjangkau untuk seluruh rakyatnya, sistem Islam memiliki catatan sebagai berikut. Pertama, kesehatan harus ditopang oleh sistem ekonomi Islam. Dalam Islam tidak boleh meliberalisasi sumber daya alam. Adanya kekayaan alam yang melimpah dikelola dan digunakan untuk membangun infrastruktur kesehatan dan melengkapi fasilitas kesehatan. Negara Islam yang memiliki baitulmal dan penataan yang mustanir dalam mengelola ekonomi diharapkan mampu menopang kesehatan untuk warganya tanpa adanya diskriminasi pelayanan.
Kedua, mencetak dokter ataupun tenaga medis yang unggul. Mereka sekolah ke luar negeri tidak mengapa, tetapi yang menjadi tenaga medis di negara Islam (Khilafah) adalah warga negara itu sendiri. Sekalipun ada tenaga medis asing, itu dalam kondisi terpaksa karena tidak ada satu pun warga negara yang mampu mengimbangi kemampuan tenaga medis asing tersebut. Sekalipun demikian, negara Islam bisa mengundang tenaga medis asing untuk melatih tenaga medis dalam negeri. Tetapi, hal itu terjadi jika tidak ada jalan lain selain itu. Jika tenaga medis dalam negeri sudah piawai tidak perlu bergantung pada tenaga asing dan prioritas negara adalah mencetak tenaga medis yang cerdas dan terampil.
Ketiga, ditegakkan hukum Islam secara menyeluruh. Sanksi dan hukuman dalam Islam harus ditegakkan untuk meminimalisir kejahatan atau kriminalitas yang berpotensi terjadi di dunia kesehatan maupun aspek kehidupan lain. Seperti ekonomi, pendidikan, sosial, dan sebagainya. Kesinambungan Islam dalam mengatur kehidupan ini akan mencetak generasi unggul yang bisa menelurkan perkembangan kesehatan yang makin masif.
Pendidikan, kesehatan, yang ditopang ekonomi akan memasifkan banyak penelitian, sehingga perkembangan teknologi dan sains maju pesat. Hal itulah yang sejatinya pernah terjadi, ketika Khilafah Islamiyah zaman dahulu menjadi pusat peradaban dan rujukan kemajuan teknologi. Justru kaum Barat yang belajar ke negara Khilafah Islamiyah. Bahkan, ada dari mereka berkunjung ke negara Khilafah Islamiyah hanya sekadar ingin mencicipi fasilitas kesehatan dan pendidikan yang ada di negara Khilafah. Itulah keagungan ketika Islam ditegakkan secara totalitas, umat Islam disegani dan ditakuti lawan. Tidak ada yang berani berbuat zalim, kecuali mereka yang tidak ingin menikmati indahnya penegakan hukum Islam.[] Ika Mawarningtyas