
Kitab suci terakhir yang diturunkan Allah Swt. melalui Nabi Muhammad saw. adalah Al-Qur’an. Tidak hanya sebagai pedoman hidup, tetapi Al-Qur’an mampu menjadi mukjizat bagi umat manusia yang meyakini, mengamalkan, dan menegakkannya. Sayangnya hari ini, Al-Qur’an hanya ramai dibaca dan dihafalkan. Forum-forum membaca dan menghafalkannya ramai diadakan, tetapi forum-forum yang mengkaji isi atau hukum-hukum yang ada di dalamnya untuk diamalkan dan ditegakkan tidak begitu ramai.
Sedihnya lagi, penerapan hukum berdasarkan Al-Qur’an justru mendapatkan penolakan dengan alasan-alasan yang berlandaskan kepentingan nafsu semata. Mereka mencari alasan dan membuat alibi untuk membenarkan penolakannya terhadap Al-Qur’an. Hukum berdasarkan Al-Qur’an dianggap tidak relevan dan kuno. Padahal Al-Qur’an diturunkan sebagai kitab terakhir untuk pedoman hidup sepanjang zaman hingga Hari Kiamat tiba. Tidak sepantasnya manusia sombong dan menganggap Al-Qur’an tidak cocok diterapkan.
Allah Swt. telah mengingatkan akibat berpaling dari Al-Qur’an:
وَمَنْ أَعْرَضَ عَن ذِكْرِى فَإِنَّ لَهُۥ مَعِيشَةً ضَنكًا وَنَحْشُرُهُۥ يَوْمَ ٱلْقِيَٰمَةِ أَعْمَىٰ
“Siapa saja yang berpaling dari peringatan-Ku (Al-Qur’an), sungguh bagi dia penghidupan yang sempit, dan Kami akan menghimpunkan dirinya pada Hari Kiamat dalam keadaan buta.” (TQS. Thaha [20]: 124)
Demikian sebagaimana janji-Nya:
وَلَوْ أَنَّ أَهْلَ ٱلْقُرَىٰٓ ءَامَنُوا۟ وَٱتَّقَوْا۟ لَفَتَحْنَا عَلَيْهِم بَرَكَٰتٍ مِّنَ ٱلسَّمَآءِ وَٱلْأَرْضِ وَلَٰكِن كَذَّبُوا۟ فَأَخَذْنَٰهُم بِمَا كَانُوا۟ يَكْسِبُونَ
“Jika penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pasti Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi. Akan tetapi, mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu. Karena itu Kami menyiksa mereka disebabkan oleh apa yang mereka perbuat itu.” (TQS al-A’raf [7]: 96)
Justru kenyataan yang terjadi, umat manusia kembali berada dalam kejahiliyahan ketika mereka meninggalkan Al-Qur’an. Gaya hidupnya tidak jauh beda dengan hewan. Mereka tidak berperikemanusiaan dan lebih liar daripada hewan buas. Dari pergaulan bebas sampai menyimpang sesama jenis, dari kasus pembunuhan hingga genosida umat manusia, dan keserakahan tanpa batas telah merusak tatanan kehidupan. Inilah yang menjadi tamparan keras umat Islam, untuk kembali sadar menjadikan Al-Qur’an sebagai jalan hidupnya.
Allah Swt. sudah menyampaikan kabar gembira, bahwa Al-Qur’an adalah jalan hidup yang mampu menunjuki umat manusia ke arah yang benar.
إِنَّ هَٰذَا ٱلْقُرْءَانَ يَهْدِى لِلَّتِى هِىَ أَقْوَمُ وَيُبَشِّرُ ٱلْمُؤْمِنِينَ ٱلَّذِينَ يَعْمَلُونَ ٱلصَّٰلِحَٰتِ أَنَّ لَهُمْ أَجْرًا كَبِيرًا
“Sesungguhnya Al-Quran ini memberikan petunjuk kepada (jalan) yang lebih lurus dan memberi kabar gembira kepada orang-orang mukmin yang mengerjakan amal saleh bahwa bagi mereka ada pahala yang besar.” (TQS. Al Isra [17]: 9)
وَلَقَدْ جِئْنٰهُمْ بِكِتٰبٍ فَصَّلْنٰهُ عَلٰى عِلْمٍ هُدًى وَّرَحْمَةً لِّقَوْمٍ يُّؤْمِنُوْنَ
“Dan sesungguhnya Kami telah mendatangkan sebuah Kitab (Al-Qur`ân) kepada mereka yang Kami telah menjelaskannya atas dasar pengetahuan Kami; menjadi petunjuk dan rahmat bagi orang-orang yang beriman.” (TQS. Al A’raf [7]: 52)
وَنَزَّلْنَا عَلَيْكَ الْكِتٰبَ تِبْيَانًا لِّكُلِّ شَيْءٍ وَّهُدًى وَّرَحْمَةً وَّبُشْرٰى لِلْمُسْلِمِيْنَ
“Dan Kami turunkan kepadamu Alkitab (Al-Qur’an) untuk menjelaskan segala sesuatu dan petunjuk serta rahmat bagi orang-orang yang berserah diri.” (TQS. An-Nahl [16]: 89)
Menjadikan Al-Qur’an sebagai jalan hidup tidak hanya sibuk membaca atau menghafalkannya saja, tapi juga mengkaji keseluruhan isi dan mengamalkannya. Begitu pun ketika mengkajinya tidak hanya pembahasan ibadah ritual saja, tetapi juga mengkaji tentang riba, jihad, qishas, dan segala hal yang ada di dalam Al-Qur’an. Tentu sebagai seorang Muslim tidak cukup hanya mengkaji dan mengamalkannya. Namun harus mendakwahkannya hingga Al-Qur’an diterapkan dalam aspek individu, masyarakat, dan negara. Dengan menjadikan Al-Qur’an sebagai landasan negara dan dasar dilahirkannya berbagai aturan yang mengatur kehidupan, maka kehidupan akan sejahtera dan berkah. Islam sebagai rahmat seluruh alam dapat diwujudkan dan dirasakan seluruh umat manusia.
Allah Swt. berfirman,
فَلَا وَرَبِّكَ لَا يُؤْمِنُونَ حَتَّىٰ يُحَكِّمُوكَ فِيمَا شَجَرَ بَيْنَهُمْ ثُمَّ لَا يَجِدُوا فِي أَنْفُسِهِمْ حَرَجًا مِمَّا قَضَيْتَ وَيُسَلِّمُوا تَسْلِيمًا
“Demi Tuhanmu, mereka (pada hakikatnya) tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu sebagai hakim dalam perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasakan dalam hati mereka sesuatu keberatan apapun atas putusan yang kamu berikan, dan mereka menerima keputusan itu dengan sepenuhnya.” (TQS. An-Nisa’ [4]: 65)
Menjadikan Al-Qur’an sebagai pemutus setiap perkara dan menjadikan landasan setiap kebijakan dalam segala aspek kehidupan adalah puncak tertinggi iman kepada Al-Qur’an. Keimanan kepada Al-Qur’an benar-benar akan direalisasikan apabila umat tidak hanya sibuk membacanya tetapi juga mengkaji dan mendakwahkannya. Sehingga seluruh umat manusia berbondong-bondong bersatu menuntut penerapan hukum Qur’an dalam bingkai individu, masyarakat, dan negara.[] Ika Mawarningtyas