
Fenomena Female Breadwinners: Bukti Kegagalan Negara Kapitalisme Sekuler
Female breadwinners adalah istilah untuk menyebut perempuan atau wanita sebagai pencari nafkah satu-satunya atau sebagai penyumbang terbesar dalam roda perekonomian keluarga. Baik wanita sebagai seorang anak atau istri, ketika mereka menjadi pencari nafkah utama, mereka dapat disebut female breadwinners. Padahal jika dikembalikan pada cara pandang Islam, bekerja bagi seorang wanita hukumnya mubah (boleh). Namun mirisnya, ketika wanita menjadi satu-satunya pencari nafkah, seolah-olah mencari nafkah menjadi tanggung jawab dan kewajibannya agar bisa melanjutkan kehidupan.
Melihat fenomena female breadwinners, tentu hal ini terjadi tidak begitu saja. Namun, ada kondisi yang memaksa seorang wanita tersebut menjadi pencari nafkah satu-satunya. Kemungkinan pertama, bisa jadi suaminya mendapatkan musibah yang menyebabkan tidak bisa bekerja dan akhirnya memaksa istri menjadi tulang punggung keluarga. Kemungkinan kedua, kondisi orangtua yang tidak sanggup bekerja juga memaksa seorang anak perempuan untuk bekerja mencari penghasilan.
Sejatinya fenomena female breadwinners menunjukkan kegagalan negara dalam menyejahterakan rakyatnya. Negara gagal bukan hanya soal siapa pemimpinnya, tetapi juga sistem yang diterapkan. Sistem yang diterapkan hari ini adalah kapitalisme sekuler yang memonopoli kesejahteraan. Sehingga, hanya para kapitalis sajalah yang hidup layak dan sejahtera. Selain para kapitalis, justru rakyatlah yang menjadi objek eksploitasi mereka. Inilah yang menciptakan kemiskinan struktural yang menyengsarakan rakyat.
Kaitan sistem kapitalisme sekuler dalam menyumbang terciptanya fenomena female breadwinners adalah sebagai berikut. Pertama, sistem kapitalisme sekuler yang diterapkan hari ini telah mengakibatkan tekanan ekonomi mencekik pada seluruh lapisan masyarakat. Di saat pemenuhan sandang, pangan, dan papan terasa sulit, pendidikan dan kesehatan juga dikomersialisasi. Sehingga keadaan tersebut menjadi tekanan dan beban tersendiri bagi mereka. Menjadi laki-laki saja harus kuat dan berjuang keras untuk memenuhi kebutuhan keluarganya, apalagi jika beban itu jatuh kepada wanita? Pastilah ia harus bergelut dengan himpitan ekonomi yang makin menyengsarakan.
Kedua, laki-laki dalam sistem kapitalisme sekuler diciptakondisikan menjadi laki-laki yang lemah. Sebagai contoh, laki-laki yang tidak menyadari akan tanggung jawabnya sebagai qawwam (pemimpin). Pemimpin yang harus bertanggung jawab terhadap amanah yang diberikan padanya. Sebagai seorang anak laki-laki, dia bertanggung jawab menafkahi keluarganya jika bapaknya sudah renta. Jika sebagai seorang suami, ia juga wajib menafkahi keluarganya. Begitu pula, jika ia sebagai kepala negara, harus mencukupi kebutuhan rakyatnya dan menyejahterakannya.
Namun, laki-laki hari ini dilemahkan oleh sistem kapitalisme sekuler. Sulitnya mencari lapangan pekerjaan, badai PHK yang datang kapan saja, tidak adanya kepastian pekerjaan, bahkan gaji yang tidak manusiawi membuat laki-laki tidak mampu menyejahterakan keluarganya. Bagaimana kira-kira dengan perempuan yang bekerja? Tentu nasib mereka tidak jauh beda atau justru lebih menderita daripada laki-laki.
Ketiga, lemahnya akidah dan tidak dipahaminya konsep rezeki memperparah kondisi umat. Tata kehidupan sekuler telah menjauhkan umat dari syariat Islam. Mereka rusak mentalnya karena gaya hidup sekuler. Hidup tidak lebih sekadar cari makan lalu mati, bahkan diperbudak dunia dan menjadi hamba cuan. Mereka tidak memahami hakikat dirinya dan makna kebahagiaan sejati. Yang dikejar hanya kebahagiaan semu yang selama ini dijadikan tolok ukur orang-orang sekuler hedonistik.
Fenomena female breadwinners seharusnya menyadarkan akan pentingnya hidup dalam sistem kehidupan Islam. Hanya Islam yang mampu memuliakan perempuan tanpa menzalimi siapa pun. Hanya dengan penerapan Islam, umat manusia mendapatkan kesejahteraan yang jadi impian semua insan. Syariat Islam tidak hanya menjaga kehormatan sebagai seorang muslimah, tetapi Islam juga menempatkan muslimah sebagai pencetak pertama generasi unggul yang akan membangun kepemimpinan Islam. Sistem kehidupan Islam hanya akan terwujud apabila individu, masyarakat, dan negara bertakwa menjalankan syariat Islam secara kaffah dalam naungan Khilafah Islamiah.[] Ika Mawarningtyas
Simak kajian seputar Female Breadwinners selengkapnya di NSTV: