
Mencari Keberkahan Ilmu: Memahami Tanda-tandanya dan Pentingnya Adab dalam Belajar
Setiap Muslim pasti mendambakan keberkahan dalam setiap aspek kehidupannya, tak terkecuali dalam menuntut ilmu. Namun, tahukah kita bahwa tidak semua ilmu yang dipelajari akan membawa keberkahan? Artikel ini akan mengulas bagaimana ilmu dapat menjadi berkah atau sebaliknya, serta pentingnya adab dalam proses pencarian ilmu.
Perbedaan Pandangan Islam dan Materialisme Terhadap Ilmu
Dalam Islam, pandangan terhadap ilmu sangatlah kontras dengan kaum materialis. Kaum materialis cenderung memandang segala sesuatu secara materialistik, di mana ilmu hanya dipandang sebagai sarana untuk mencapai tujuan duniawi seperti mendapatkan ijazah, pekerjaan, uang, rumah, mobil, atau prestise-prestise duniawi lainnya, yang pada akhirnya akan usang seiring waktu. Mereka melihat aktivitas belajar hanya untuk kepuasan intelektual dan prestasi keduniawian semata, menjauhkan dari nilai-nilai spiritual dan keberkahan.
Sebaliknya, Islam memandang ilmu tidak hanya dari objektivitas dan hukum kausalitas, tetapi juga melibatkan muatan spiritual yang erat kaitannya dengan maqashid hayati dunya (tujuan hidup di dunia). Mencari ilmu dalam Islam selalu dikaitkan dengan mencari rida Allah, surga-Nya, dan pahala dari-Nya. Allah berjanji akan mengangkat derajat orang-orang yang beriman dan berilmu. Rasulullah SAW juga menyatakan bahwa keutamaan orang berilmu atas ahli ibadah tanpa ilmu adalah seperti keutamaan Nabi atas umatnya. Bahkan, Allah, para malaikat, penduduk langit dan bumi, semut, hingga ikan di lautan akan membacakan shalawat dan memintakan ampun kepada orang yang mengajarkan ilmu kepada manusia. Ini menunjukkan betapa sakralnya ilmu dalam Islam, yang tidak sekadar perpindahan informasi “kering” dari satu otak ke otak lain.
Tanda-tanda Ilmu Tidak Membawa Berkah
Ilmu yang tidak membawa berkah seringkali ditandai dengan:
- Pencarian Ilmu yang Hanya Formalitas: Sekadar memenuhi kewajiban atau kebiasaan, tanpa disertai dengan niat yang tulus.
- Hanya untuk Kepuasan Intelektual Semata: Belajar hanya untuk memuaskan rasa ingin tahu atau meningkatkan ego, tanpa dorongan untuk mengamalkan atau mendekatkan diri kepada Allah.
- Orientasi Duniawi: Fokus utama adalah mendapatkan ijazah, pekerjaan, uang, atau prestasi duniawi lainnya, sehingga nilai-nilai spiritual menjadi kering dan jauh dari keberkahan. Imam Al-Ghazali mengkritisi ini; menegaskan bahwa niat semacam itu akan membuat ilmu kering dan jauh dari keberkahan.
Kunci Keberkahan Ilmu: Adab dalam Mencari Ilmu
Untuk mendapatkan ilmu yang berkah, adab merupakan fondasi utama. Ilmu akan masuk ke dalam diri seseorang dengan cinta, yaitu ketika guru mencintai santrinya dan santri mencintai gurunya. Cinta ini lahir dari adab yang baik. Sayangnya, rasa hormat dan cinta ini sering hilang dalam hubungan guru-murid saat ini.
Adab-adab penting dalam mencari ilmu meliputi:
1. Membersihkan Diri Lahir dan Batin:
- Kebersihan Lahir: Menjaga wudu, mandi, membersihkan tubuh, mengenakan pakaian bersih, dan berpenampilan menyenangkan. Hal ini berlaku pula dalam kajian online, karena keseriusan kita dalam merespons ilmu akan terkait dengan persepsi kita terhadap pentingnya ilmu tersebut.
- Kebersihan Batin: Meluruskan niat semata-mata mencari rida Allah. Selain itu, hendaknya membersihkan diri dari akhlak-akhlak rendah dan sifat-sifat remeh seperti sombong, riya, takabur, dan ujub. Kesombongan, misalnya, dapat mengotori hati dan berpotensi menolak kebenaran yang disampaikan guru. Ilmu adalah ibadah hati, salatnya hati, dan aktivitas hati untuk mendekatkan diri kepada Allah.
2. Mengosongkan Hati dan Pikiran untuk Fokus pada Ilmu:
- Memutus Segala Hubungan yang Melalaikan: Menjauhkan diri dari gangguan seperti handphone, media sosial, atau hal-hal duniawi lainnya yang bisa mengalihkan fokus.
- Seorang pencari ilmu tidak akan dapat mencapai cita-citanya dalam urusan ilmu kecuali dengan mengosongkan hati dan memutus hubungan-hubungan yang menyibukkan. Ini adalah tantangan berat dalam kajian online, di mana notifikasi dan godaan lain bisa dengan mudah mengalihkan perhatian.
3. Mencintai Ilmu dan Guru:
- Keberhasilan dalam menuntut ilmu mensyaratkan cinta pada materi yang disampaikan dan cinta pada gurunya. Jika salah satunya tidak ada, ilmu akan sulit masuk.
- Tawadhu (Rendah Hati) adalah kunci penting bagi seorang santri terhadap gurunya. Ilmu akan selalu mengalir kepada pencari ilmu yang rendah hati, seperti air yang mengalir ke tempat yang rendah. Hubungan yang diwarnai cinta dan takzim antara guru dan murid akan membuat nasihat guru meresap ke dalam hati murid.
4. Tidak Membeda-bedakan Guru:
- Seorang pencari ilmu hendaknya tidak membeda-bedakan guru, baik yang terkenal maupun yang tidak terkenal. Semua guru harus diistimewakan dan dihormati.
- Sayyidina Ali RA bahkan mengatakan siap menjadi budak bagi orang yang mengajarkannya satu huruf saja, menunjukkan betapa berharganya seorang guru.
Adab Guru dalam Mengajar
Selain adab murid, adab guru juga sangat penting. Seorang guru yang bijak hendaknya melihat semua murid, bahkan yang “nakal” atau sulit, sebagai ladang pahala dan kesempatan untuk menginstal ilmu Islam ke dalam hati mereka. Guru haruslah orang yang sangat antusias untuk memahamkan ilmu kepada murid, ikut merasakan suka dan duka mereka, dan sangat menyayangi mereka yang beriman. Ini adalah ciri-ciri Rasulullah SAW sebagai seorang guru yang luar biasa. Kesabaran menjadi modal utama bagi guru dan dai dalam berinteraksi dengan murid atau mad’u (objek dakwah).
Terkait menghadapi perbedaan pemahaman atau kekeliruan guru, penting untuk mendahulukan adab dan kebijaksanaan. Terkadang, kesalahan yang kita kira pada guru justru karena kurangnya ilmu kita. Jika memang perlu mengingatkan, lakukanlah dengan cara yang bijak dan penuh hormat, sebagaimana dicontohkan Hasan dan Husain saat mengingatkan seorang tua yang salah wudu. Begitu pula dalam menghadapi orang yang perilakunya tidak mencerminkan ilmunya, seorang pengemban dakwah haruslah penuh cinta, berpikir positif, dan proaktif dalam mendekati serta mendengarkan mereka. Ini adalah ladang dakwah yang membutuhkan waktu dan kesabaran.
Semua ilmu, baik yang dianggap “duniawi” maupun “ukhrawi”, sejatinya adalah dari Allah. Islam tidak membedakan ilmu dunia dan akhirat; semua adalah lahan untuk menanam kebaikan akhirat. Oleh karena itu, adab-adab ini berlaku bagi semua guru, baik di sekolah, kampus, maupun guru agama.
***
Mencari ilmu yang berkah ibarat mengisi wadah hati dengan air suci. Wadah itu harus bersih dari kotoran (akhlak buruk), dikosongkan dari isi lain yang mengganggu (distraksi dunia), dan diletakkan di tempat yang rendah (tawadhu) agar air dari sumber yang mulia (ilmu dari guru) dapat mengalir sempurna dan memenuhi wadah tersebut, membawa kesuburan dan kehidupan yang tak berkesudahan.[]
Disarikan dari kajian dengan tema tersebut di NSTV: