Sistem ekonomi kapitalisme mendominasi hampir setiap aspek kehidupan modern kita, mulai dari secangkir kopi yang kita minum di pagi hari hingga teknologi yang kita gunakan. Namun, banyak dari kita tidak benar-benar memahami ide-ide fundamental di baliknya. Beberapa prinsip dasarnya, pada masanya, dianggap sangat radikal, kontra-intuitif, dan bahkan memiliki sejarah yang jauh lebih mengejutkan daripada yang kita duga. Ada gagasan paling berdampak dari falsafah ekonomi kapitalisme, yang telah membentuk dunia kita saat ini.
Dosa Menjadi Mesin: Bagaimana Keserakahan Didaur Ulang menjadi Kemakmuran
Salah satu terobosan paling revolusioner dari pemikiran kapitalis datang dari Adam Smith, yang menantang pandangan ekonomi Merkantilisme yang dominan saat itu. Merkantilisme memandang bahwa sifat serakah (egois) manusia adalah hal negatif yang harus dikendalikan oleh negara agar masyarakat tidak hancur oleh hukum rimba.
Adam Smith membalik total logika ini. Menurutnya, keserakahan bukanlah kekuatan perusak, melainkan mesin pendorong yang positif. Sifat serakah justru memacu pertumbuhan ekonomi dan pembangunan secara keseluruhan. Semakin serakah manusia, semakin baik bagi kemajuan ekonomi.
Argumennya adalah bahwa sifat egoistis tidak akan pernah merusak masyarakat selama ada satu jaminan penting: persaingan bebas. Selama pasar terbuka untuk kompetisi, keserakahan individu justru akan membawa manfaat bagi kolektif.
“Tangan Gaib” yang Bekerja di Belakang Layar
Prinsip bahwa keserakahan individu bisa bermanfaat bagi kolektif hanya bisa bekerja jika ada satu mekanisme pengatur yang kuat. Bagi Adam Smith, mekanisme itu bukanlah negara, melainkan sebuah kekuatan legendaris: “The Invisible Hand” atau tangan yang tidak kelihatan. Ia berpendapat bahwa dalam pasar yang bebas, akan ada kekuatan tak terlihat yang secara otomatis mengatur ekonomi menuju keseimbangan.
Untuk memahaminya, bayangkan seorang penjual bakso yang serakah. Ia menjual baksonya seharga Rp10.000 dengan keuntungan Rp5.000. Karena serakah, ia menaikkan harganya menjadi Rp50.000, lalu Rp100.000, bahkan Rp1.000.000 per mangkok. Apa yang terjadi? Keuntungannya yang fantastis, yang lahir dari keserakahan, secara alami memancing keserakahan para calon pesaing. Mereka melihat peluang dan berdatangan untuk bersaing dengan menawarkan harga lebih murah, memaksa harga kembali turun hingga mencapai titik keseimbangan yang wajar.
Tidak ada satu orang pun atau lembaga negara yang perlu mengatur proses ini. Semuanya terjadi secara otomatis.
Ideologi inilah yang melahirkan semboyan Laissez-faire untuk membiarkan apa yang terjadi. Menurut pandangan ini, intervensi negara hanya akan merusak keseimbangan alami yang diciptakan oleh “tangan gaib” pasar. Jika “tangan gaib” ini begitu perkasa, bagaimana ia mengatasi masalah-masalah paling mendasar sebuah negara?
Resep Paling Malas (dan Paling Ampuh?): “Biarkan Saja”
Menurut teori kapitalisme, mekanisme pasar bebas tidak hanya menciptakan harga yang adil, tetapi juga mampu menyelesaikan tiga masalah fundamental ekonomi—apa yang harus diproduksi (what), bagaimana cara memproduksinya (how), dan untuk siapa barang itu diproduksi (for whom). Resepnya sederhana: “biarkan saja”.
Mari kita ambil contoh kelangkaan beras di Indonesia.
- Masalah Produksi: Jika terjadi kelangkaan, harga beras akan dibiarkan melonjak tinggi. Harga yang sangat mahal ini secara otomatis akan mendorong para petani untuk berbondong-bondong menanam padi karena keuntungannya sangat menggiurkan. Produksi beras pun meningkat dengan sendirinya tanpa perlu perintah dari negara.
- Masalah Konsumsi: Harga yang tinggi juga secara otomatis mengendalikan hasrat konsumsi masyarakat. Tidak perlu ada kampanye antiboros atau larangan menimbun. Kemampuan membeli masyarakat yang terbatas akan menjadi rem alami bagi konsumsi berlebihan.
- Masalah Distribusi: Jika beras menumpuk di Jawa (harga murah) dan langka di Kalimantan (harga mahal), para pedagang dengan sendirinya akan termotivasi untuk mengirim beras dari Jawa ke Kalimantan demi mencari keuntungan. Distribusi terjadi secara otomatis, didorong oleh mekanisme harga.
Bahaya Tersembunyi di Balik Menyimpan Uang di Bawah Bantal
Dalam diagram aliran ekonomi kapitalis, uang harus terus berputar. Ada satu hal yang dianggap sangat berbahaya bagi sistem ini, yaitu kebocoran (leakage). Kebocoran terjadi ketika rumah tangga tidak membelanjakan seluruh pendapatannya, melainkan menyimpannya di rumah—di bawah bantal atau di dalam lemari.
Uang yang disimpan dan tidak berputar ini dianggap merusak mekanisme ekonomi. Mengapa? Karena itu berarti akan ada barang atau jasa yang diproduksi oleh perusahaan yang tidak terbeli. Jika ini terjadi secara massal, perusahaan akan merugi, produksi berhenti, dan ekonomi bisa runtuh.
Solusinya adalah “akumulasi kapital”. Uang tabungan tidak boleh “bocor” atau diam, melainkan harus “disuntikkan” kembali ke dalam sistem melalui investasi pada perusahaan. Dengan suntikan modal ini, perusahaan dapat meningkatkan produksi, menyerap lebih banyak tenaga kerja, dan pada akhirnya meningkatkan daya beli masyarakat. Ide bahwa uang yang diam dapat merusak ekonomi ini sejatinya adalah cerminan dari konsep dalam Islam yang dikenal sebagai kanzul maal (larangan menimbun harta), yang diatur dalam Al-Qur’an.
Apakah Adam Smith “Meminjam” Ide dari Cendekiawan Muslim?
Mahakarya Adam Smith, The Wealth of Nations (1776), diduga bukanlah karya yang sepenuhnya orisinal. Disebutkan bahwa banyak gagasan di dalamnya, termasuk mekanisme pasar bebas, diambil dari kitab Al-Amwal yang ditulis oleh cendekiawan Muslim, Abu Ubaid. Kitab tersebut ditulis sekitar 700 tahun sebelum buku Adam Smith terbit. Bahkan, judul “The Wealth of Nations” diyakini merupakan terjemahan langsung dari judul asli kitab tersebut, “Al-Amwal fi Daulah”, yang berarti “Kekayaan Negara”. Jika klaim ini benar, maka fondasi pemikiran ekonomi modern memiliki akar sejarah yang jauh lebih dalam dan kompleks dari yang selama ini diketahui.
Warisan Kapitalisme dan Pertanyaan untuk Masa Depan
Gagasan-gagasan yang pada masanya dianggap radikal ini—bahwa keserakahan itu baik, pasar bisa mengatur dirinya sendiri, dan negara sebaiknya tidak ikut campur—telah menjadi fondasi dunia ekonomi modern yang kita tinggali. Sistem ini telah terbukti mampu mendorong inovasi dan menciptakan kekayaan dalam skala yang belum pernah terjadi sebelumnya. Namun, sejarahnya yang tak terduga dan kritik yang terus menyertainya meninggalkan sebuah pertanyaan penting. Setelah memahami gagasan-gagasan fundamental dan sejarahnya, apakah sistem ekonomi yang dominan saat ini benar-benar satu-satunya jalan menuju kesejahteraan sejati bagi semua?[]
Disarikan dari kajian dengan tema tersebut di NSTV:
